Berakhir di Angka Empat

oleh

“Hati boleh bodoh, otak jangan!!” Entah mengapa dalam beberapa minggu terakhir kalimat itu selalu berkelebat dan menari-nari dalam pikiranku. Berawal dari ketika aku membaca sebuah tulisan karya Christian Simamora yang kubaca berulang-ulang. Apa pasal?? Boleh jadi aku begitu terhanyut kedalam isi cerita tulisan itu, seperti aku berada didalamnya. Beberapa bagian dari isi cerita itu menjadi lekat dan begitu mengganggu pikiranku karena isi cerita itu begitu mirip atau aku bilang sama persis dengan apa yang sedang aku rasakan. Apa mungkin aku bodoh? Ah, masak iya? Apa nilai-nilai yang aku dapat semasa 17 tahun mengeyam bangku pendidikan kurang cukup membuktikan kecerdasanku yang melebihi kebanyakan orang?

Ah, sudahlah apa gunanya membahas apa yang aku raih dulu. Itu telah berlalu, tak berbekas. Mulai kurunut lagi semua peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa yang membuatku sedih dan bahagia silih berganti. Ketika aku menjatuhkan hatiku pada apa yang sebenarnya tak pernah dapat kuraih. Mungkin dari sinilah kebodohanku berlanjut. Entah hati, entah otak sepertinya semua dibodohi oleh sesuatu yang kebanyakan orang menyebutnya cinta. Orang menjadi bodoh ketika jatuh cinta. Bukan bodoh, lebih tepatnya membiarkan dirinya menjadi bodoh. Aku salah satunya.

Bagaimana aku mengenalnya? Kulayangkan ingatanku pada masa ketika hidupku pertama kali bersentuhan dengannya. 4 tahun lalu. Siapa menyangka, dari keisenganku mengetikkan nama tim yang kupuja pada kolom pencarian malah membawaku menemukan dia. Seperti memang sudah digariskan sebelumnya. Takdir? Tentu bukan. Kebetulan? Apalagi. Aku tak pernah percaya kedua hal tersebut. Obrolan pun berlanjut dari obrolan tak jelas di keramaian menjadi obrolan pribadi antara kami, yah meskipun melalui bantuan telfon genggam. Simpel, nyambung, asik. Tiga hal yang mungkin selalu aku butuhkan dan aku cari dalam diri seseorang. Obrolan via udara tersebut berlanjut menjadi sebuah janji pertemuan. Suatu siang di bulan Maret, empat tahun lalu. Bagiku, pertemuan pertama antara kami itu tak begitu mengesankan. I judge him by his cover. Poor me.  Penampilannya kala itu yang cenderung, apa aku harus menyebutnya?? “Kurang wah” tak mampu membuatku menoleh kedua kali untuk melihatnya.

Waktu adalah penumbuh segalanya. Sejak kapan aku tak tahu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatnya bersandal hijau dan berucap pada diriku  “Orang seperti ini gak bakal bikin aku jatuh cinta”. Saat itulah sebenarnya hatiku menolak mengatakan bahwa dia telah merubah paradigmaku tentang lelaki sempurna.

Semakin mengenal dan semakin sering aku berinteraksi dengannya, aku menjadi semakin mengerti bahwa dia itu aku banget. Dia mampu “mendiamkan” aku yang betah berceloteh tentang apapun. Dia cerdas, tak perlu aku pungkiri itu. Obrolan kami bukan hanya tentang apa yang kami sama-sama cintai, but we talk about everything. Aku merasa menemukan pasangan yang “sepadan” mengimbangiku. Mengimbangi kekeras kepalaanku, mengimbangi kecerewetanku dan mengimbangi hobi yang kumiliki. Yang aku tahu saat itu, aku jatuh cinta teramat dalam padanya.

Saat itu aku terlalu menutup mata bahwa dia telah didamping seorang malaikat cantik di sisinya. Aku tahu mustahil membuatnya memalingkan sedikit hatinya untukku, tapi aku bertahan dengan satu alasan : love will find its way. Aku percaya cintaku yang tumbuh tanpa kusadari ini lebih besar dari cinta milik malaikatnya itu. Kebodohan pertamaku : berharap cinta pada seseorang yang bahkan tak tahu bahwa dalamnya palung lautan pun tak mampu menandingi dalamnya cintamu kepadanya.

Dua tahun perkenalan kita, kesibukan seolah menjadi kata yang aku benci. Kesibukan menjadi jurang pemisah pertemuan antara kita.  Sekedar bertemu denganmu bukan hal mudah. Bertanya kabar pun seadanya. Obrolan terjadi via udara. Bagiku, kabarmu adalah oase di gurunku. Kau tahu itu. Oase terbesar versiku adalah saat kabar itu datang menghampiriku melalui obrolan di salah satu aplikasi obrolan yang kita miliki. Kau memutuskan tak bersamanya lagi, namun kau menangisi apa keputusanmu itu. Aku memahami pedihmu, aku ingin menggantikan dirimu. Perihmu adalah lukaku, lukamu adalah deritaku. Seperti tersengat aliran listrik, sengatan tangismu pun menjalari aku. Aku menangis dalam diam. Aku merasa berdosa ketika di satu sisi aku bahagia namun di sisi lain kau terluka. Campur aduk. Penggambaran perasaanku kala itu. Namun kisah selanjutnya yang terlontar malam itu membuat pijar bahagia yang sempat menghampiri padam tanpa ampun. Oase yang terbentuk kering seketika. Sengaja kau biarkan oase hati ini mengering. Kau ceritakan alasan kekeringan yang kau sebabkan. Tangisku bukan hanya dalam diam. Tangisku pecah menjadi-jadi. Tak banyak yang tahu. Mungkin kau juga tidak. Udara bukan penghantar yang baik untuk air mata kan? Cih, sesak rasanya memendam semua ini sendiri. Tak tahu harus berbagi kisah dengan siapa. Yang jelas, kau adalah orang terakhir dalam daftar orang-orang yang ingin kuajak berbagi kisah pedih ini.

Alasan apapun ternyata tak mengurangi sedikitpun rasa untuknya. Aku tetap tersenyum saat bercakap sedikit dengannya, aku mengusahakan apapun untuknya. Aku tetap ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan buon compleanno, auguri, happy birthday, wish you all the best di hari jadinya, memberi kejutan ulang tahun yang akan selalu dia ingat seumur hidupnya. Aku masih ingin tetap menjadi salah satu alasan senyum yang terukir di bibirnya. Kebodohan keduaku : aku rela mengorbankan apapun untuknya. Seseorang yang tempatnya tak beranjak dari posisi utama di hati. Aku menyimpannya rapat-rapat seiring berjalannya hari dan mengatakan bahwa cinta untuknya telah lewat. A denial.

Di tahun ketiga perkenalan kita, kau memutuskan jatuh hati (lagi) pada seorang bidadari yang menghampirimu. Aku cemburu. Kali ini aku ingin egois. Atau aku berubah menjadi egois? Entahlah. Api cemburu membutakanku. Aku ingin menjadi bidadari yang kau ambil selendang dan hatinya. Tatapan penuh tanya dan harap seandainya aku adalah bidadari. Tatapanku urung terlihat dan pasti terabai olehmu. Aku akhirnya sadar frasa “jatuh cinta” terdiri dari dua kata : jatuh dan cinta. Kualami bagian terburuknya. Aku terjatuh ketika mencintamu. Aku mencintamu sampai aku terjatuh. Cintaku jatuh karena tak berbalas. Namun, melihat kebahagiaanmu, senyumanmu dan binarmu ketika bersama bidadari itu aku ikhlas terjatuh berulang kali. Menanggung perihnya menjadi seorang manusia biasa. Sendirian.

Tahun keempat menjadi perjalanan terburuk dalam kisah ini. Mungkin ini akhir penantian dan kepedihan yang harus kuderita. Kau memutuskan menjadikan bidadari itu pelabuhan terakhirmu. Aku tahu cepat atau lambat dia akan membawamu pergi dari hadapanku. Sekarangkah waktunya? Tuhan, kalau boleh aku memohon, aku ingin diberi waktu satu hari saja menjadi bidadarinya. Aku ingin melihat tatapannya ketika memujaku. Binar bahagianya karenaku. Senyum tulusnya yang akan kubingkai dalam ingatanku. Apakah aku masih memiliki sedikit kesempatan dari-Mu untuk bersamanya? Jika satu hari itu terlalu lama, setengah hari juga tak mengapa. Atau sejam? Ah, rasanya aku tak pantas berharap bahkan untuk sedetikpun. Sekarang bagianku adalah mendoakan bahagiamu. Aku takkan pernah mengharapkanmu lagi. Biarlah kau yang kuingat adalah kau yang bersendal kesayangan hijau. Bukan kau yang memilih bidadari itu. Selamat berbahagia bersama bidadari itu. Mungkin tempatmu bukan di duniaku. Duniaku terlalu sederhana untuk kau tinggali. Kebodohan ketigaku sekaligus kebodohan terbesarku : menghabiskan empat tahun untuk bersikeras mencintai orang yang sudah jelas tak akan mencintaimu bahkan dalam mimpimu. Four years totally enough.

Photo Credit : pixhome.blogspot.com

PS :

Dedicated for someone who teach me how to love something with all of my heart.

Jika aku dapat membalikkan waktu dan diberi pilihan untuk mengenalmu atau tidak, aku akan memilih yang pertama. Aku sangat bersyukur telah mengenal dan mencintamu, J.

A pharmacist who love Inter and her job. Feel blessed every second of my life.

23 Comments

  1. Oh my God, I really can’t take my eyes over this lovely writing! Cantik. Mengalir indah. Sedih. Beautiful!

    • Chirooo thankyou dah mau baca ya. Bisanya nulis gue kayaknya di bagian sedih2an cinta doang 😂✌

  2. Tulisannya mengalir, membawa pembacanya ke pusara alur tiap kejadian. Pemilihan katanya juga bagus, tulisannya indah.
    Saya pikir ini tulisannya mas dika, eh ternyata bukan hehe pantesan lain dari biasanya 😀

  3. Mbk akmaaaa..Syediihh syekaliii…😢
    Mbk akma lbh kuat dibanding cat women or wonder women..💪😔

  4. Berarti ceritanya skrng udah bisa move on nie maaa..hehehe😅😅
    Siiieppp..ditunggu cerita berikutnya yah..semoga dgn versi happy gt..😉

  5. Tjakep mas..mirip sm asasya, saya malah 5 tahun, pernah berbalas eh ternyata hanya krena kasihan..hehe, tapi semua indah pada akhirnya :).. Salam kenal

  6. merinding baca nya…
    kebawa alur cerita nya sampe ngebayangin kalo gw d posisi lu ka akma hahaha…

    i believe, u can do it 😘

      • iya mba stronger bangets hahaha…
        mencintai dalam diam, meski tau resiko tidak memiliki…
        berkorban waktu demi hari hanya untuk sebuah penantian yg tak pasti…
        biarkanlah itu menjadi bagian “jatuh” dalam sepenggal kata jatuh cinta 😂

        lg nunggu launching buku nya ahahaha… 😘

  7. Suka bgt sama tulisan kak akma. Kisahnya seperti kisah aku, walau tidak terlalu persis sama.
    Pemendaman cinta emg sakit, tetapi lebih sakit ketika kita mengungkapkan rasa saat dia sudah memilih yg lain.
    Lega, tapi hilang. Kedekatan yg sudah terajut menjadi jauh, oleh keadaan takut untuk memberi rasa sakit lagi. Atas kejujuran yg tidak seharusnya diungkapkan.

  8. Tulisannya bagus nih bang, mengalir sampai jauh tiap kata-katanya..
    Ah aku mesti belajar lagi nih kalo mau bikin tulisan yang sejenis seperti ini 😀

  9. mengalir dan menyayat yah mz. sampe akhirnya gw sadar ini tulisan tahun lalu. hahaha
    tapi masih relevan untuk dibaca sekarang atau 50 tahun lagi. hahhah
    buat kaka penulis, ingatlah kata fans liverpool. ya, YNWA

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top