Fiksi di Botinero

oleh

“Temui aku pukul 10 malam di Botinero”Javier Zanetti membaca pesan yang terpampang di  layar  telfon genggam canggihnya lalu memerosotkan nya ke saku kiri mantel hitam yang panjang nya mendekati lutut.

Angin malam berhembus cukup menusuk di pelataran Hotel Melia Milano ketika seorang pria bergaya necis berdiri di depan lobby dan tak lama kemudian sebuah taksi menghampiri nya. “Buonanotte, dove stai andando, signore?” sang supir membuka percakapan setelah pria itu masuk dan duduk di bangku belakang. “per favore mi navetta a questo indirizzo…” sang penumpang lantas menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan VIA S.Marco, 3, 20121 Milano. Taksi pun segera melaju menembus kota bergelimang cahaya yang suasananya layak dinikmati dan tidak akan di lewatkan begitu saja oleh si penumpang.

Masih tersisa 15 menit lebih dari pukul 10 malam ketika Javier Zanetti melangkah masuk ke Botinero lalu kemudian melepas mantel hitam panjangnya dan digantung di dekat pintu masuk. Seseorang mengajak nya bertemu malam itu. Seseorang yang sepertinya dianggap penting oleh Zanetti mengingat orang tersebut membuat janji dan menghubunginya langsung ke ponsel pribadinya. Setelah menyapa beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan malam di Botinero dan mengenalnya, Zanetti segera menuju meja favoritnya di sudut ruangan.  Kurang 5 menit lagi akan menjadi  tepat pukul 10 malam ketika pintu masuk terdorong dan masuklah pria yang Zanetti kenal yang memintanya datang di malam itu. Pria dengan gaya rambut klimis mengkilap tersisir ke belakang dan menjadi gaya rambut favorit  9 dari 10 pria yang anda temui  bila anda berada di kawasan Kemang di selatan Jakarta. Dengan pakaian hitam lengkap dan parka tebal yang juga hitam. Jika di perhatikan lagi, orang yang mengajak Zanetti bertemu ini lebih pantas pergi ke pemakaman ketimbang ke restoran. Semua serba hitam dari kepala hingga ujung kaki. Dan Zanetti pun segera menyadari, bahwa kawan lama yang juga senegara dengan dirinya ini adalah seseorang yang punya karakter. Baik ketika dulu sebagai pemain, hingga kini sebagai pelatih.

“ Hola Pupi, Como esta ?”

“Hola Cholo, bien, gracias y usted ?”

“Bien.”

Kedua orang yang saling mengenal dan pernah bermain bersama itu pun berpelukan. Saling melepas senyum  yang lebih menyerupai tawa. Zanetti segera mempersilakan Diego Simeone duduk di hadapan nya.

“ Me trae la carta por favor”  Zanetti mengangkat tangan nya untuk memanggil pelayan menghampiri meja nya.

Dengan wajah terkejut karena Zanetti menggunakan bahasa Spanyol di restoran Italia, Simeone berucap “Pupi, nanti saja. Saya belum lapar. Tapi sebagai pembuka pertemuan kita, saya pesan vino blanco saja.”

“Hmmm, oke, dua vino blanco. Kami nanti saja memesan makanannya.” Ucap Zanetti seraya menyerahkan kembali buku menu ke pelayan yang segera meninggalkan meja tersebut.

Zanetti yang juga sudah duduk sedikit tersenyum melihat di hadapannya ada sosok Diego Simeone yang sudah lama tak di jumpainya. Sosok yang ketika masih aktif bermain sempat bersama-sama dengan dirinya memenangkan piala UEFA musim 1997-1998 dan tahun ini akan menghadapi Final Liga Champions di Meazza.

“Bagaimana rasa nya Cholo..?” Zanetti membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Tanpa basa basi. Pertanyaan yang memang ingin sekali di tanyakan Zanetti.

Simeone membuka parka hitamnya, menoleh pada lawan bicaranya itu dan tersenyum seolah paham kemana arah pertanyaan Zanetti, lantas ia menaruh kedua siku tangannya keatas meja, merapatkan kedua telapak tangannya, lalu dengan kepala yang berangsur maju berucap, “Pupi, kau tahu, ini Final Champions kali kedua untukku. Terlepas dari kegegalanku di final pertama dua tahun lalu, menjadi pelatih sebuah klub yang tidak tergolong kaya dan besar sejarahnya di Eropa namun mampu mencapai lagi final di sebuah ajang semegah Liga Champions, jelas menghadirkan kebahagiaan, kepuasan. Bahkan jauh lebih memuaskan ketimbang melihat Beckham berjalan lesu tanpa arah keluar lapangan Stade Geoffroy Guichard pada 1998 lalu. Hahahaha, kau juga ada disana bukan?? Hei, sebentar kau yang mencetak goal penyama kedudukan”

Fiksi-di-Bontinero

“Pupi, aku berhasil mencapai final Liga Champions sebagai pelatih dan kau sudah tahu seperti apa rasanya bagiku mencapai hal itu. Sekarang, aku menanyakan hal yang sama kepadamu, bagaimana rasanya memenangkan dan mengangkat  Si Kuping Besar?”

Pelayan restoran yang mengantarkan pesanan dari kedua tamu special ini, sedikit menunda meluncurnya jawaban Zanetti atas pertanyaan Simeone tadi. “Cholo, meraih Liga Champions 2010 lalu bagiku adalah pencapaian terbesar sepanjang karir sepakbolaku. Aku belum mampu menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku setelah memenangkan gelar itu. Agar kau tahu bagaimana sensasi nya mengangkat piala itu, menangkan lah. Untuk timmu dan tentu saja untukmu juga”.

“Pupi, kalau aku boleh jujur, tujuanku memintamu menemuiku malam ini adalah untuk sedikit mengusir ketegangan yang aku rasakan jelang partai final nanti. Aku sudah sering menghadapi Madrid dengan beragam pelatih dan formasi yang dimainkan. Namun entah mengapa, ketegangan menjelang laga final yang aku rasakan kali ini jauh lebih besar ketimbang dua tahun lalu.” Simeone menambahkan.

“Cholo, di 6 pertemuan terakhirmu dengan Real Madrid kau dan tim asuhanmu sanggup menahan imbang 3 kali, kalah hanya sekali dan bahkan menang 2 kali. Aku rasa itu modal yang sangat baik untuk menaikkan mental dan moral mu beserta tim mu di final nanti.” Ucap Zanetti.

“Oh Pupi, kau berbicara layaknya komentator televisi yang berani memprediksi berdasarkan statistik beberapa pertemuan terakhir, di atas kertaslah, inilah itulah. Ayolah kawan, kau pasti paham betul bahwa partai final jelas berbeda dengan partai di liga atau fase knock out di sebuah turnamen. Partai final adalah partai dimana detail permainan sanggup merubah hasil akhir. Kau bisa lihat dua tahun lalu. Tim ku unggul hingga menit ke 90. Lalu sebuah kesalahan marking dan kurangnya konsentrasi membuyarkan impianku mengangkat si Kuping Besar. Ketakutan akan detail kesalahanlah yang mendasari keteganganku menjelang final nanti.” Simeone menutup ucapan nya seraya menenggak sedikit vino blanco di hadapan nya.

“Santai lah sedikit Cholo. Kau sudah ada di kota ini dan siap menurunkan tim terbaik mu di final nanti. Aku mengerti betul rasanya ketegangan jelang partai final. Aku pun merasakan nya di Bernabeu 2010 lalu.”

“Pupi, jika kau ada di posisi ku saat ini, formasi atau pola main seperti apa yang akan kau terapkan?” Simeone bertanya dengan alis sedikit terangkat.

“Kau punya rekaman semifinal 2009 lalu?? Saat kami membungkam Barcelona 3-1″ suara Zanetti meninggi, bersemangat. “Tontonlah dulu, kau bisa menganalisis dan mempelajari apa yang kami lakukan saat itu. Atau mau kau tanya langsung pada Jose Mourinho dan berdiskusi tentang strategi yang kami gunakan saat itu?? Aku bisa memberimu nomor telfonnya. Lawan mu di final nanti tak jauh berbeda dengan lawanku di semifinal waktu itu. Tim yang kuat di segala lini dan punya pemain jenius di lini depan. Cristiano Ronaldo di Liga Champions musim ini jumlah gol nya masih lebih banyak jika di bandingkan dengan semua jumlah gol yang di cetak deretan striker yang kau punya. Tapi ingat, jangan fokuskan pertahanan timmu hanya kepada Ronaldo seorang. Yang terpenting bagiku  ialah, mematikan peran pemain lain yang bisa memberikan umpan ke Ronaldo sepanjang pertandingan. Ronaldo tetap harus di awasi namun pastikan pemainmu yang lainnya selalu berada sedekat mungkin untuk mengganggu Modric atau Kroos saat menguasai bola. Tim yang kau pimpin musim ini menurutku jelas lebih baik dan matang ketimbang dua tahun lalu. Kau punya sederet pemain pekerja keras dan disiplin tinggi di setiap pertandingan. Manfaatkan itu Cholo..” ucap Zanetti kali ini dengan raut wajah yang serius.

“Pupi, aku tadi nya ingin bertanya juga soal mematikan Bale, namun setelah ku ingat lagi apa yang terjadi padamu beberapa tahun lalu ketika menghadapi Bale di atas lapangan, sepertinya aku akan mengurungkan niatku tadi…” senyum sinis Simeone mengembang menyindir koleganya yang pernah dipermalukan beberapa tahun silam.

“Hahahahaha.. Gareth Bale. Pemain yang cepat dan bertenaga. Pemain yang juga menyadarkanku saat itu bahwa aku tak lagi muda. Ia kini fasih bermain sebagai inverted winger. Jika boleh aku memberi saran, mainkan lah seorang inverted wing back juga untuk mematikannya. Mourinho dulu sering memainkan ku sebagai inverted wing back ketika menghadapi lawan yang punya pemain inverted winger aktif. Dan cara itu berhasil. Kau ingat ketika aku bergeser ke sisi kiri untuk menggantikan posisi Chivu yang di tarik keluar di Bernabeu 2010 untuk mematikan Arjen Robben? Melepas sebuah umpan silang saja menjadi perkara yang begitu rumit untuk seorang Robben ketika aku yang mengawalnya di sisi kiri.” ucap Zanetti seraya membetulkan kerah kemejanya yang di susul dua teguk vino blanco di hadapan nya.

Perbincangan Zanetti dan Simeone terhenti sejenak ketika Simeone akhirnya memanggil pelayan untuk memesan makan. “ Pupi, makanan apa yang layak aku coba dari restoran ini?” Tanya Simeone yang sibuk membolak balik halaman buku menu.

“Pesan lah I Gamberoni Argentini yang bisa sedikit mengobati kerinduanmu akan suasana Buenos Aires namun di sajikan dengan gaya khas kota Milan.” Jawab Zanetti.

“Sepakat, aku ikuti saranmu.”

“Kami pesan I Gamberoni Argentini dan Trilogia Del Botinero. Vino Blanco nya juga di tambah lagi.” Pesan Zanetti ke pelayan yang setengah menunduk di sisi nya.

Zanetti dan Simeone larut dalam makan malam santai setelah makanan yang mereka pesan tersaji di atas meja. Keduanya sering tertawa lepas bersama ketika masing-masing dari mereka bercerita tentang kenangan masa lalu dan kisah kisah konyol sewaktu masih bermain bersama.

“Pupi, aku selalu penasaran bagaimana jadinya dirimu jika suatu hari nanti menjadi pelatih dari sebuah tim. Kau pria yang sabar bahkan cenderung terlalu lembut. Dan dalam kamus kepelatihanku, hanya mereka yang berwatak keras bahkan cenderung pemarah lah yang bisa sukses ketika menjadi pelatih.” Ucap Simeone seraya meraih gelas vino blanco keduanya.

“Cholo, sampai detik ini aku masih menikmati peran ku di Inter. Menyaksikan tim utama maupun junior berlatih dan bertanding serta pergi ke banyak tempat sebagai duta Inter, masih menjadi sesuatu yang mengasyikan untuk aku jalani. Dan seperti yang kau tahu, aku tidak pernah bisa jauh dari Inter. Aku kadung larut dalam kehangatan cinta jutaan fans Inter dan dengan segala yang sudah ku raih baik sebagai pemain hingga saat ini, aku tak lagi mau berambisi untuk melanjutkan hidup sebagai pelatih apalagi menjadi pelatih klub selain Inter. Dan jika memang harus ada embel embel kata pelatih yang melekat di namaku, rasanya aku tak sedikitpun merasa keberatan jika aku menjadi asisten pelatih dari seorang Diego Simeone. Datang lah ke Inter. Dan jika hari itu tiba, aku bisa pastikan bahwa aku lah yang akan pertama kali menawarkan diri untuk membantu mu membangun Inter.” Tersirat keseriusan dari ucapan panjang Zanetti.

“Pupi, menjadi pelatih klub sebesar Inter jelas sesuatu yang aku idamkan. Aku tak bisa membohongi hal itu. Namun, sebelum impianku dan keinginanmu itu menjadi nyata, aku ingin meraih gelar yang lebih banyak dengan Atletico. Dan gelar yang aku perjuangkan untukku menangkan di Meazza nanti adalah salah satu hal yang menurutku harus bisa aku raih agar aku makin layak menangani Inter. Aku tak ingin karier panjang melatih ku yang bermulai dari Racing kemudian hijrah ke Italia lalu akhirnya ke Spanyol hingga hari ini harus di isi kegagalan di Inter karena aku yang belum mampu. Aku tak mau namaku ikut menambah panjang deretan pelatih gagal di Inter bersama Lippi, Tardeli, Gasperini hingga Mazzarri.  19 Januari 5 tahun yang lalu aku tiba di Sisilia untuk menggantikan Marco Giampaolo sebagai pelatih Catania dan asal kau tahu Pupi, ini rahasia, bahwa suatu hari nanti aku berharap bisa kembali lagi ke Italia,mendarat di Malpensa dan segera bekerja untuk Inter. Tolong jangan beritahu soal ini kepada siapa pun Pupi.” Ujar Simeone dengan senyum optimis menghiasi wajahnya.

Zanetti mengambil gelas vino blanco, menenggak nya sedikit lalu berujar, “Cholo, apapun hasill yang kau dan timmu raih di final Champions nanti, ketahuilah bahwa aku selalu berharap kau mendapat hasil yang terbaik untuk timmu. Kau sudah bekerja luar biasa sampai hari ini. Yakinlah, bahwa kerja keras tidak akan pernah mengingkari hasil.” ucap Zanetti dengan nada suara yang lebih mirip motivator ulung ketimbang mantan pemain sepakbola.

Sekeliling meja tempat Zanetti dan Simeone berbincang sudah sepi. Tak ada lagi pengunjung selain mereka berdua. Tinggal tersisa kesibukan lalu lalang karyawan restoran yang bersiap tutup mendekati berakhirnya jam operasional mereka. “Terakhir Pupi, jadi tim mana yang kau jagokan untuk memenangkan final Liga Champions sabtu nanti ?”  Tanya Simeone sambil menggosokan kedua telapak tangannya.

“Cholo, kita bertemu di sini sebagai kawan namun kau seolah menganggapku pundit sepakbola yang di setiap akhir perbincangan harus di tanyakan soal siapa yang di jagokan? Hahahaha. Aku memilih untuk tidak memilih Cholo. Kau bisa menemui Materazzi dan bertanya kepadanya jika kau ingin mendengar jawaban dari pertanyaanmu tadi.” ujar Pupi sambil sedikit tersenyum.

“Materazzi ? apa hubungannya pertanyaanku tadi dengan dia ?” tanya Simeone penasaran.

Zanetti lagi-lagi melepas senyum berlesung pipit yang menjadi ciri khasnya lalu berujar “Kau tadi bertanya soal tim mana yang harus di jagokan di final nanti kan? Pelatih dari lawan mu di final nanti jelas bisa membuat seorang Marco Materazzi menjawab pertanyaanmu tadi dengan mudah. Hahahahaha” ucap Zanetti seraya siap berdiri untuk beranjak dari kursi nya.

“Selera humormu luar biasa Pupi. Terima kasih untuk waktumu.” Simeone bangkit dari kursinya. Menjabat tangan Zanetti lalu kedua kawan lama itu pun berpelukan.

“Buena suerte Cholo.”

“Gracias Pupi, hasta luego…”

Diego Simeone melangkah dari sudut ruangan menuju pintu keluar. Meninggalkan Javier Zanetti yang masih berdiri di dekat meja tadi dan bercengkrama dengan beberapa karyawan restoran. Waktu yang nyaris mendekati pukul dua dinihari memaksa Simeone untuk mengenakan kembali parka hitam tebal yang sedari tadi ia simpan, tak cukup disitu ia naikan pula resleting parka hitamnya sebelum keluar dari Botinero.

Taksi yang di tunggu Simeone mulai melaju meninggalkan Botinero. Di kursi belakang, Simeone mengeluarkan telepon genggam canggihnya, memasang headset dan memutar deretan  lagu dari playlistnya. Dengan kepala yang di sandarkan di kaca penumpang sebelah kanan, alunan musik Enigma terputar secara acak dan lagu berjudul “Return To Innocence” menemani perjalanan nya kembali ke Hotel Melia Milano. Ketika alunan lagu memasuki detik ke 97, telapak tangan Simeone di atas lutut nya mengepal,  sepasang matanya terpejam seolah terasuki rentetan lirik dari lagu yang sedang ia dengar.

“Be yourself don’t hide… just believe in destiny. Don’t care what people say… Just follow your own way. Don’t give up and use the chance.”

Gambar diambil dari salah satu adegan dalam film Almost Paris, diedit seperlunya oleh andhikamppp.com

7 Comments

  1. Luar biasa nih bang tulisannya, meskipun fiksi tapi menurutku Zanetti dan Simeone pasti kopdar disana. Ya meskipun nama lokasi kopdarnya dirahasiakan, tapi menurut saya isi dan perbincangannya pun tak beda jauh dengan tulisan ini.
    Tulisan ini mengajak saya seolah menjadi pendengar langsung, seolah duduk satu meja dengan mereka, dan mengerti semua percakapan mereka.
    Luar biasa bang X)

  2. AWESOME kak Ichaaaaanx 😍😍😍

    Kepikiran aja sampe bawa2 Materazzi yang milih tim yg dijagoin. Kebayang momennya LoL :))

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang
Go to Top