Cerita tentang Wibi

oleh

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. “Ayah” ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. “Maafkan paman datang terlambat, Wibi”.

Line Separasi2Cerita ini tentang Wibi, yang ditinggal ibu sebelum ia sempat mengenalnya. Beberapa saat setelah Wibi lahir ibu mengalami pendarahan luar biasa. Ayah melakukan segalanya untuk menyelamatkan ibu kala itu, termasuk berhutang banyak sekali. Percuma, Wibi yatim di hari kedua belas ia berteman dengan dunia. Ayah berhenti bekerja setelah itu tanpa sedikitpun persediaan tabungan. “Kamu yakin, Bang” kata paman saat itu. Ayah mengangguk mantap. “Aku telah berjanji untuk menjaga dan memastikan anak itu tumbuh sempurna. Jika itu berarti aku harus mengorbankan seluruh waktu, tenaga dan pikiran yang aku punya, akan aku lakukan. Meskipun sebenarnya itu tidak bisa menggantikan waktu satu hari anak itu bersama ibunya”. Maka ayah, sejak saat itu, berperan juga sebagai ibu. Wibi kecil begitu dekat dengan ayahnya. Ia tumbuh menjadi anak yang pintar, lucu dan periang. 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu ayah selalu ada, memberikan gizi dan asupan terbaik, mengajarkan dan bercerita apa saja. Bagian paling menyenangkan dan paling ia sukai adalah ketika ayah bercerita tentang ibu sebagai pengantar tidur. Wibi yatim di hari kedua belas ia berteman dengan dunia, oleh karena itulah ayah selalu bercerita tentang ibu. Agar kelak di alam mimpi, Ibu bisa bermain, bercerita dan menjaga Wibi sampai ia kembali terjaga.

Sampai Wibi berusia tiga tahun. Setelah ia sangat mengenal dan bergantung pada ayahnya, cerita ini berubah menjadi menyedihkan. Tak ada lagi cerita tentang ibu sebagai pengantar tidur. Ayah harus pergi ke negeri seberang mencari uang. Harta bendanya sudah habis dijual untuk membayar hutang dan juga menyambung hidup. Keputusan yang sulit. “Aku akan menjaga Wibi. Abang bekerjalah dengan tenang” paman mengucapkan itu di hari keberangkatan ayah. Ayah tersenyum, memeluk paman penuh penghargaan. Kemudian tatapannya beralih, air matanya tak terbendung tak kuasa meninggalkan Wibi untuk waktu yang lama. Itu pertama kalinya ia berjauhan dengan ayah. Wibi menangis sejadinya. Ayah pergi bersamaan dengan sifat Wibi yang periang. Setelah ini yang akan kita temukan adalah Wibi yang selalu menyendiri, yang selalu merindukan waktu ayahnya pulang.

Satu tahun pertama setelah kepergian ayahnya menjadi tahun yang sangat berat untuk Wibi. Pamannya yang harus bekerja terpaksa mempekerjakan asisten rumah tangga untuk menjaga Wibi di rumah. Beruntung, Bi Inem termasuk orang yang cakap dalam menjaga anak kecil. Untuk urusan menjaga, ia nyaris sempurna. Tak sedikitpun urusan fisik Wibi terlewatkan. Paman sering memberikan bonus tambahan untuk Bi Inem. Tapi hanya sebatas itu, bagaimanapun sempurnanya Bi Inem tak pernah mampu untuk menenangkan apalagi menyenangkan. Bi Inem atau paman sekalipun tak pernah mampu membuat Wibi tertawa seperti yang biasa ayah lakukan. Wibi kehilangan sifat periangnya. “Sabar, Jagoan. Tak lama lagi ayahmu pulang” hanya itu yang kerap terlintas dari mulut paman setiap kali Wibi menangis. Sesekali rindu itu terobati lewat panggilan telfon, Wibi tentu mengharapkan lebih dari itu. Setahun setelahnya Bi Inem berhenti. Wibi sekolah di Taman Kanak-kanak Tadika Puri, satu arah dengan tempat paman bekerja.

Line Separasi2“Paman, sudah datang??” suara Wibi terdengar begitu parau. Paman mengangguk, mengajak Wibi pulang. Digendongnya Wibi ke atas sepeda motor, demi melihat wajah Wibi yang pucat paman memacunya motornya kencang. Benar saja, sesampainya dirumah badan Wibi panas. Mustahil mengajak Wibi ke dokter dengan hujan yang semakin deras. Paman menjaga Wibi sepanjang malam, sepanjang malam itu pula Wibi terus menginggau memanggil nama ayah.

Paman mengambil cuti keesokannya. Kondisi Wibi belum membaik, begitu pula dengan cuaca di luar. Sedari malam sampai sore ini langit ikut menangis melihat Wiby seperti itu. Jadilah paman menelfon banyak sekali dokter, mencari yang tercepat untuk datang. 4 jam, yang berarti jam 7 malam dokter baru bisa datang. Wiby masih memanggil nama ayahnya. Sesekali ia menangis, melampiaskan rindu lewat air mata. “Ayah mana, Paman?”. Paman getir dibuatnya, diangkatnya lagi gagang telfon. Menelfon ayah. Percuma, beberapa minggu ini ayah tidak bisa dihubungi. Jam 8 tepat. Sudah lewat dari jadwalnya, tetapi dokter belum juga datang. Wajah Wibi semakin pucat, lebih dari 24 jam ia tidak makan -yang ia makan dimuntahkannya kembali. 

Bel berbunyi. Paman bergegas membuka pintu. Pintu terbuka dan paman terkejut bukan main. Lihatlah siapa yang datang?? Lelaki yang basah kuyup dengan tas besar yang ditarik. “Abang !!!??” paman loncat memeluk ayah, tidak terlalu lama, waktunya tidak tepat. Ia menjelaskan kondisinya. Ayah bergegas kedalam kamar. Memeluk Wibi dengan erat, lalu menangis, meluapkan rindu dan penyesalan. “Maafkan ayah, Nak”.

“Ayah !!!???” Wibi berteriak hampir tersedak. Yang dirindukan telah datang. Dipeluknya juga ayah dengan erat. Mereka larut dalam tangisan rindu, lewat pelukan itu mereka bercerita tanpa kata, banyak sekali.

“Ayah pulang, Nak” ayah melepaskan pelukannya. “Maafkan ayah tak memberi kabar lama sekali, ayah ingin memberi kejutan” dikeluarkannya sebuah kotak besar yang sudah basah. “Selamat ulang tahun, Nak. Kau sudah besar sekarang dan mulai malam ini ayah akan selalu ada untuk melihatmu terus tumbuh besar. Ayah tak akan pergi lagi” mendengar itu Wiby kembali menangis kencang. Kali ini berbeda, air mata yang turun adalah air mata bahagia. Malam itu, semua rindu dibayar dengan akhir yang menyenangkan.

Photo credit : cartoonaday.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger.

banner-blog-competition

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

39 Comments

  1. Wah aku pikir ultahnya wb harus tulisan tentang perjalanan wb dari masa ke masa, makanya aku gak ikutan…

    Kalo ternyata tentang ulang tahun, tahu gini kemaren aku ikutan lombanya -__-
    Ya ampun penyesalan memang datangnya selalu terakhiran

  2. Ayah, bagian terpenting dalam kehidupan selain Ibu.
    Ayah, pusat keluarga.
    Pedih jadi wibi. Jadi aku juga pedih😂😂 sempet gak kenal ottu pas mereka pulang prajabatan wkwk

  3. Jadi ayahnya wibi, siapa mas andhika? :’D

    Kalo ga baca komen, mungkin ayi gagal fokus dengan tulisannya. Hahaha. Selamat ulang tahun, wb! Semoga kau selalu bahagia!

    • Ayahnya, yaa, ayahnya. Yang pulang di akhir cerita 🙂

      Saya tidak memberi nama untuk karakter ayah.

      Wah, berarti saya harus lebih banyak belajar untuk memberikan cerita yang lebih jelas. Terimakasih Mbak Ayi

  4. Aku udah deg2an khawatir endingnya wibi meninggal & ayahnya menyesal. Alhamdulilah, cerita pendek dg happy ending. Selalu suka cerita begini. Kerja keras paman dan ayahnya tidak sia-sia. Hehe

    Eh, tapi kalau adik ayah bukannya om ya? Kalau paman itu kakaknya ayah. Sedangkan di cerita, paman memanggil “ayahnya wibi” abang. Berarti adiknya ayah wibi kan? Emmm…

    • Wah, terimakasih sudah sangat detail dalam membacanya. Penggunaan “Paman” atau “Om” boleh kok, pengertiannya lebih kurang sama.

      Menurut KBBI :

      paman/pa·man/ n 1 adik laki-laki ayah atau adik laki-laki ibu; pakcik; 2 sapaan kepada orang laki-laki yang belum dikenal atau yang patut dihormati;

      om2 n cak 1 kakak atau adik laki-laki ayah atau ibu; 2 panggilan kepada orang laki-laki yang agak tua.

      Tergantung dari kebiasaan saja. Kalau di tanah sunda, kakak laki-laki dari ayah atau ibu biasanya disebut “uwak”.

    • Bukan pengalaman pribadi sih, Mbak.

      Pengalaman kerabat yang saya modifikasi waktu, dan plot ceritanya 🙂

      Iya, semula saya juga menuliskan “piatu” tapi setelah cek di KBBI saya menemukan poin berikut :

      yatim/ya·tim/ a tidak beribu atau tidak berayah lagi (karena ditinggal mati);
      — piatu sudah tidak berayah dan beribu lagi

      Mungkin karena kebiasaan penalaran ya mbak. Dari KBBI berarti seharusnya kita tidak perlu menyebutkan yatim piatu untuk mereka yang tidak memiliki kedua orang tua. Cukup Piatu saja.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang
Go to Top