Satu Tahun Yang Lalu

oleh

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat darurat. Beberapa menit yang lalu aku menerobos masuk pintu rumah sakit meminta pelayanan terbaik untuk istriku yang sejak sore tadi merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Untunglah tidak terlambat, taxi yang kupesan datang tepat waktu, jalanan kota yang sepi membuat perjalanan dari rumah ke rumah sakit bisa ditempuh kurang dari sepuluh menit. “Silakan Bapak pulang dulu untuk membawa perlengkapan. Kami akan membawa istri bapak ke ruang persalinan. Mungkin harus menginap dua-tiga hari. Tak usah terburu-buru, Pak. Masih banyak waktu. Jika lancar, mungkin tujuh sampai delapan jam lagi” perawat itu dengan tenang menjelaskan. Aku tersenyum, menunjuk ke arah kursi yang sudah aku duduki satu jam terakhir “Sudah saya bawa, Mbak”.

Pukul satu lewat tiga puluh dini hari. Aku melihat penunjuk waktu pada layar telefon genggam lalu kuputuskan untuk melakukan panggilan suara. Sepanjang yang aku ingat, ini adalah panggilan suara paling pagi yang pernah aku lakukan. “Sudah pembukaan empat, Bu. Kata perawat mungkin baru pagi nanti. Doakan saja lancar semuanya. Iya, Bu. Pakai bus pertama masih sempat kok. Hati-hati” panggilan suara selesai beberapa kalimat setelahnya. Aku memberitahukan kondisi istri kepada ayah dan ibu dirumah. Tak lama setelahnya aku menghubungi orang tua istri dengan kalimat dan informasi yang lebih kurang sama persis.

“Pak, sudah pembukaan lima” kata perawat bergegas menuju ruang persalinan. Aku ikut menyusul, demi melihat istri yang makin kepayahan, aku berusaha untuk tetap tersenyum.

Yang bisa menyebabkan gagalnya proses persalinan salah satunya adalah rasa takut sang ibu, setidaknya itu yang pernah aku baca. Oleh karena itu yang sekarang bisa aku lakukan adalah mencoba membuat keadaan lebih menyenangkan, dengan cerita-cerita lucu misalnya. Dan gagal, entah karena aku juga mengalami rasa takut yang sama atau memang dasarnya aku tidak berbakat menjadi pelawak. “Ayah, bisa minta tolong mintakan teh manis hangat ke perawat di luar??” aku mengangguk, tersenyum. Mengambil teh manis yang ternyata memang sudah disediakan di ruang tunggu ruang persalinan.

Pukul dua lebih tiga puluh lima menit. “Sudah pembukaan tujuh, Pak. Cukup cepat perkembangannya. Jika lancar empat-lima jam lagi anak bapak akan lahir” dokter cantik yang beberapa bulan terakhir selalu kami kunjungi untuk melakukan pemeriksaan rutin bulanan telah datang, ditelfon oleh para perawat. Salah satu tanggung jawab dokter kehamilan di rumah sakit ini adalah harus selalu siap dan datang kapanpun ketika pasiennya akan melahirkan meskipun pada waktu istirahat seperti sekarang ini. Aku melayangkan beberapa pertanyaan tentang prosedural proses melahirkan, juga tentang berbagai kemungkinan lain. Dokter itu menjawab dengan sangat baik dan menenangkan. Aku tersenyum puas. Setelah beberapa percakapan singkat, aku meminta izin kepada dokter untuk keluar ruangan sebentar. Menenangkan diri. Dokter mengangguk, tetapi di belakang dokter istriku menggeleng. “Jangan kemana-mana, Ayah”.

Aku tak bisa menolak, kuhampiri ranjang tempat istriku terbaring. Kugenggam tangannya erat, mencoba menguatkan. Aku tak bisa membuatnya tertawa, ia maklum akan itu, suaminya memiliki rasa takut yang sama. Tetapi kami tidak bisa diam begitu saja diselimuti rasa takut. Teh manis hangat yang tadi kuambil masih tersisa banyak, hangatnya sudah lama hilang karena pendingin ruangan yang memang berlebihan. Aku kemudian mengajaknya bercerita tentang banyak hal. Tentang surat yang pertama kali aku tulis untuknya, tentang rasa benci yang kami punya ketika pertama kali memutuskan untuk terikat dalam sebuah hubungan, tentang keyakinan dan rasa percaya yang tumbuh jauh setelah itu, tentang kami yang mulai berani bermimpi, dan tentang malaikat kecil kami yang beberapa jam kemudian akan datang menyapa kami. Mata kami bertemu, terdiam beberapa saat, tak percaya telah melangkah sejauh ini. Jika mengingat bagaimana kami di awal hubungan delapan tahun yang lalu, ini jelas adalah sebuah keajaiban dari Tuhan.

Aku bergetar hebat, tak percaya dalam kondisi seperti sekarang ini, pertanyaan itu akan muncul. “Kalau sesuatu buruk itu terjadi, siapa yang ayah selamatkan??” aku terdiam, mematung. Sebetulnya selama hampir sembilan bulan terakhir ini, kami selalu membahas tentang banyak kemungkinan. Juga untuk semua kemungkinan terburuk yang mungkin datang. Tampak sedikit berlebihan, tapi ayolah, bukankah bersiap-siap untuk segala kemungkinan itu lebih baik ketimbang harus meratapinya dikemudian hari?? Tetapi tetap saja, sesiap apapun aku tentang segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Untuk urusan ini, terlebih di detik-detik yang begitu menegangkan seperti ini, jawaban yang sudah ada di ujung lidah terpaksa harus kembali kutelan. Ruangan lenggang sampai beberapa menit kedepan.

Pukul tiga lebih sepuluh menit. Istriku merasakan sakit yang luar biasa, nyaris berteriak. Aku ketakutan, melepaskan tangannya dan berlari keluar ruangan untuk meminta pertolongan. “Astaga, ini sudah waktunya, Pak. Suster, tolong ambilkan peralatannya. Bapak mau menunggu disini atau diluar??” aku tak menjawab hanya bisa memegangi tangan istri, erat. Dokter cantik itu dibantu dua asistennya melakukan beberapa prosedural untuk proses melahirkan. “Jarang sekali loh Pak prosesnya secepat ini. Biasanya butuh berjam-jam. Jam berapa tadi datang?? Jam satu?? Wah, cepat sekali. Nampaknya si jagoan sudah tidak sabar bertemu orang tuanya” dokter itu berusaha bercanda, menenangkan keadaan. Aku yang mulai ikut tegang -teramat tegang malah malas menanggapi percakapan dari dokter. Posisiku kini bersebrangan dengan dokter dan asistennya, mereka dengan telaten  melakukan prosedural melahirkan, sesekali aku memperhatikannya, bertanya seperlunya mengenai proses kelahiran. Lalu kemudian berusaha berbicara kepada istri, memastikannya tetap terjaga. Terbuktilah, wanita adalah makhluk Tuhan yang paling kuat. Di tengah rasa sakitnya yang luar biasa, ia tetap berusaha tersenyum, cantik sekali. Menit-menit ketika itu adalah menit-menit paling menegangkan dan paling lama yang aku lalui sepanjang nafas yang aku hembuskan.

Pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Aku tertunduk lemas, air mataku mengalir tanpa sempat meminta izin kepNaufal Daffa - Photo pertamaada pemiliknya. Aku mencium pipi dan tangan istriku, berterima kasih atas kekuatan dan kesabarannya. Lalu kemudian tubuh istriku bergetar hebat disusul suara tangis anak kecil yang menggema di ruangan persalinan yang tidak terlalu besar. Malaikat kecil itu telah lahir. Aku menangis sejadi-jadinya, tangisan kebahagian. Entah berapa banyak puji dan syukur yang aku haturkan kepada Tuhan ketika itu. Dokter menyuruh aku dan istriku untuk bersiap-siap, masih ada beberapa proses lanjut. Dokter dan kedua asistennya melanjutkan tugasnya dengan sangat baik, melakukan beberapa penanganan pasca kelahiran. Untuk pertamakalinya kulit dua malaikat dikehidupanku bersentuhan, saling memberi kehangatan dan kekuatan. Aku tersenyum, bahagia sekali, Detik itu aku resmi menjadi seorang ayah. Detik itu, kebahagiaan yang baru telah menggenapi kepingan-kepingan yang telah tersusun sebelumnya.

Family

Line people holding hand

Satu tahun setelahnya, hari ini, tempias hujan membasahi jendela bus antar kota yang kutumpangi, mengacaukan lamunanku akan kejadian satu tahun lalu. Sudah dua pekan aku tidak pulang, yang berarti sudah dua pekan juga aku tidak bertemu dengan si jagoan. Karena satu dan lain hal aku harus menitipkannya di rumah nenek-kakeknya. Dua pekan lalu saat aku pamit pergi, jagoan kecil itu sedang bermain-main dengan kucing, mengajaknya bicara, menjambak bulu halusnya dan paling parah menarik ekor si kucing. Untuk yang terakhir itu, si kucing marah mengeong kencang sekali. Jagoan kecil itu bukannya takut malah balas berteriak, tidak terima dimarahi oleh kucing.

Tidak terasa, Nak. Hari ini kamu berusia satu tahun. Cepat sekali kau tumbuh, rasa-rasanya baru kemarin ayah membawa ibumu ke rumah sakit, merasakan cemas berjam-jam menunggu kamu lahir ke dunia. Lalu ayah dan bunda menangis senang -berpelukan ketika kamu, malaikat kecil kami, menangis untuk pertama kalinya. Kamu tahu, Nak? Sampai sekarang ini, ayah masih tak percaya telah menjadi orang tua. Bertanggung jawab penuh terhadap tumbuh kembang kamu nantinya. Bercita-citalah setinggi langit lalu raih cita-citamu itu sekuat tenaga, terserahlah sesukamu ingin menjadi apa -ayah hanya bisa mendukung tidak perlu menjadi orang baik, namun jadilah orang yang benar. Jadi apapun kau nantinya, ayah akan selalu berada di belakangmu, berbahagialah, lalu bahagiakan bunda, ibumu, wanita yang luar biasa.

Sekali lagi, Nak. Selamat ulang tahun. Tunggu ayah sebentar lagi sampai ke rumah nenek. Lalu kita pulang, bunda sudah menunggu dirumah. Menahan rindu yang sama besarnya.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

54 Comments

  1. seperti biasa. tulisannya mengalir. semoga ananda jadi anak solih yang berbakti kepada kedua orang tuanya. semoga ananda tumbuh dengan baik dalam kasih sayang orang tuanya. aaamiiin.

  2. Jadi merinding juga hihi.. *Membayangkan setelah nanti punya istri, pengalamannya bisa dijadikan rujukan nih *eh.

    Keren pengalaman dan ceritanya tentunya yang diolah dengan berbagai emosi.
    Sepertinya harus mencari pasangan dari sekarang biar merasa mendapatkan pengalaman tersebut haha..

    Si anak, mungkin beberapa tahun lagi, siapa tahu membaca ini, akan bangga dengan ayahnya. Semoga demikian.

    Salut!

    • terimakasih mas asmari,

      sepakat, tulisan ini salah satu yang paling menguras emosi, bukan karena nulisnya, tapi pas nginget nginget kejadian setahun lalu.
      semoga bisa menginspirasi.

  3. Happy birthday.. “tidak perlu menjadi orang baik, tapi jadilah orang benar”
    Benar kata kahlil gibran, orang tua ibaratkan busur yg menghempaskan anak panah. Hanya bisa mengarahkan, tapi tidak tentu harus menentukan jalan hidup seseorang, anak.
    Semoga hidup kalian selalu bahagia bang. 🙂

  4. Aku baca tulisan ini senang, terharu, ikut deg-degan dan keren. Proses wanita melahirkan selalu memunyai cerita historis tersendiri ya, Kak Ucha. Apapun, wanita itu hebat!

    Selamat ulang tahun jagoannya Kak Ucha, semoga kelak menjadi anak yang membanggakan 😀

    “Tidak perlu menjadi orang baik, namun jadilah orang yang benar.”

    Kutipan itu, bagus.

  5. Huaaaaaaa.. Ini tulisannya kok nganu banget? Kebayang banget pas proses persalinan itu :3

    Btw, selamat ulangtahun, Jagoan. Jadi anak sholeh, ya. Trus nanti pas udah besar jangan kemana-mana.
    :v

  6. Saya nggak tau apa yang dirasakan para suami ketika istrinya berada di detik-detik persalinan, di titik paling “lemah tapi harus tetap kuat”, mengalami kontraksi yang menimbulkan sakit secara berkala. Ada beberapa suami yang dengan tegar mendampingi istri di dalam ruang bersalin, dan nggak sedikit juga suami yang lebih memilih berada di luar kamar bersalin dengan dalih nggak kuat melihat istrinya bertaruh nyawa seperti itu.

    Oke. Ini sebenernya mau curhat kalau pas saya ngelahirin, suami nggak berani masuk kamar bersalin. Nggak kuat katanya. 🙁

    • Nah, itu dia. Kontraksi, saya lupa istilahnya apa jadi gajadi saya tulis di dalam cerita.
      Duh, Mbak. Sebenernya saya juga ga kuat, tetapi istri melarang saya keluar. Beruntungnya, saya bisa menjadi saksi kelahiran si jagoan.

  7. Aaahhhh… terharu bacanya.. jadi inget pengalaman melahirkn si sulung. Proses yang panjang bahkan hampir saja nyawa anakku jadi taruhan, telambat satu jam kalau ga cepet cepet dikelurin, ga bisa kulihat anakku sebesar sekarang.

  8. Aih, moment flashback ketika di waktu gitu kadanv bikin mikir ulang.
    Dulu juga ketika mamah hamil lagi, sempet ada rasa benci, khawatir, takut akan kelahiran yg berisiko itu. Tapi ya Tuhan berkata lain. Allah punya rencana-Nya sendiri. Lahirlah seorang putri, yang ternyata menjadi penyempurna keluarga. Aih tambah sayang sama dede😂😂😂

  9. saya masih single tapi saya pernah menemani teman saya yang mau lahiran juga dan rasanya ituu..
    panik luar binasaaa..
    apalagi saat itu saya satu-satunya teman yang menemaninya karena keluarganya masih otw ke rumah sakit.
    duhhh.. kalau ingat itu yeee..

    Btw, semoga anaknya sehat selalu dan tumbuh menjadi anak yang sholeh.

Tinggalkan Balasan ke erina Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda
Go to Top