Dari Tepian Mahakam

oleh

Seorang lelaki yang baru genap berusia dua puluh tahun melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Berpindah dari pulau terpadat menuju pulau terbesar yang ada di negerinya. Ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu karena bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah sebagian saja dari rencana masa kecilnya.

Pada hari itu paripurna sudah ia menjadi asing untuk banyak orang di sekitarnya. Termuda diantara banyak usia dan boleh jadi terbodoh diantara para profesional yang ada. Namun, sekali lagi ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu. Dengan modal seadanya ia bersiap untuk bernafas dan berkeringat dalam entah beberapa lama kemudian untuk bertahan hidup di tanah yang baru ia pijak. Di tepian sungai Mahakam, ibukota Kalimantan Timur, Samarinda.

Itu adalah sebuah penggalan cerita, tak kurang dari delapan tahun yang lalu. Ketika untuk pertama kalinya saya membulatkan tekad untuk merantau di tanah orang. Merantau dalam artian sebenarnya, mencari penghidupan di tempat yang jauh, teramat jauh. Sebelumnya saya memang pernah meninggalkan rumah ke kota orang untuk sekolah atau alasan lain seputar sekolah. Namun tak pernah terlalu lama, barang seminggu atau dua minggu rumah tinggal di kota asal tetap saya kunjungi. Namun ketika itu -sampai sekarang rumah di tanah kelahiran adalah sesuatu yang langka untuk saya jamah. Saya benar-benar menjadi anak rantau.

Samarinda adalah kota yang saya tuju.

Bekerja di Kalimantan adalah sebuah cita-cita sebagian besar anak lelaki di sekolah. Entah apa pasal, tapi seolah bekerja di Kalimantan adalah sebuah takaran kejantanan seorang lelaki. Pikir kami saat itu boleh jadi dengan tinggal dan bekerja jauh dari rumah, jauh dari hiruk pikuk kesenangan di masa muda, dan jauh dari orang-orang yang dicinta adalah sebuah keberanian yang tak ternilai harganya. Meski sebenarnya tak semua persoalan yang disebutkan barusan tadi menjadi alasan utama. Melanjutkan kehidupan bersama rekan seperjuangan adalah sesuatu yang lain yang dicari. Seperti disebutkan sebelumnya, bekerja di Kalimantan adalah cita-cita sebagian besar anak lelaki di sekolah kami, ketika sebagian besar bercita-cita yang sama, maka di sana pastilah kami akan bertemu orang-orang yang sama.

Tapi untuk apapun alasannya bekerja jauh di tanah orang adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Dimulai dengan menaiki pesawat terbang untuk pertama kalinya, bertemu berinteraksi dan bekerja dengan banyak orang dari berbagai macam suku dan agama, melintasi sungai Mahakam yang luar biasa lebar, menjelajah belantara hutan. Eh, sebentar. Belantara hutan ?? Saya terlalu banyak mendengarkan cerita kuno tentang bahwasanya Kalimantan adalah tempat dengan peradaban tertinggal ketimbang Jawa, terlebih Bandung tanah kelahiran saya. Seperti misalnya tentang bekerja di tengah hutan lebat yang dikelilingi tambang batu bara, dengan hanya beralasakan peti kontainer yang dimodifikasi, sekali dua kita akan ditemui oleh binatang buas pemakan daging, hanya yang kuat dan pemberani lah yang sudi tinggal di tempat seperti itu, pasokan listrik terbatas, sinyal telefon yang hampir tidak ada dan banyak cerita lainnya. Dan ternyata, pada kenyataannya selain pasokan listrik yang terbatas semua yang diceritakan tadi benar-benar cerita dongeng untuk saya yang hidup di era milenium. Kalimantan, terlebih Samarinda sudah sangat maju dan beradab ketimbang apa yang diceritakan banyak orang.

Oh, iya. Hal menarik lain dan benar adanya adalah tentang tambang batu bara. Yang luas sekali dan dapat ditemukan di hampir sudut perbatasan kota. Demi melihat itu semua saya rela ditugaskan satu-dua minggu untuk berkunjung dari satu tambang ke tambang lainnya untuk melihat belt conveyor yang luar biasa panjang, dump truck raksana atau stockpile batubara yang menggunung. Bontang dan Tanah Grogot adalah salah satu persinggahan kota dimana saya memuaskan rasa penasaran tentang tambang batu bara.

Saya tak pernah mau menganggap apalagi sampai mengakui saya adalah seorang lelaki yang lemah. Jika yang mereka katakan hanya yang kuat dan pemberani lah yang sanggup bertahan lama disini, boleh jadi saya termasuk diantara yang lemah. Hanya dalam hitungan bulan saya bertahan di Kalimantan. Tawaran untuk dipindahkan kembali ke Jawa begitu menggiurkan untuk saya tolak begitu saja. Entah karena rindu yang teramat besar atau sudah merasa puas dengan rasa penasaran bekerja di Kalimantan. Yang jelas saat itu saya menyerah dan memutuskan kembali mendekati rumah.

Dan, sekarang ini saya berkesempatan kembali mengunjungi Samarinda. Untuk waktu yang tidak terlalu lama. Sudah cukup banyak yang berubah. Sejatinya, Samarinda belum mampu memberikan kenangan manis untuk saya kenang sepanjang masa akan tetapi bagaimanapun dalam kisah perjalanan hidup saya ia akan tetap selalu ada dalam setiap penggal cerita.

Dari tepian Mahakan saya menulis. Senin 18 April 2016.

Photo Credit : alidesta.wordpress.com
Photo Credit : alidesta.wordpress.com

 

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

7 Comments

  1. Dari tepian sungai mahakam, terlihat sungainya yang begitu lebar, layaknya batas antara rindu masa lalu dengan rindu kampung halaman. Hanya bertahan beberapa bulan, tapi itu tak jadi soal, yang terpenting dari yang terpenting adalah sebuah ikhtiar, sebuah kesungguhan, dan sebuah percobaan. Percobaan untuk bertahan, meskipun gagal, sekiranya sudah mencoba. Mencoba adalah sebuah usaha,…

    Dari melihat dan membaca segala garis tulisannya, pemilihan katanya bagus, pemandangan fotonya juga bagus. Senang sekali ya bisa bekerja di luar pulau :’)

    • Fotonya itu bukan hasil foto sendiri kok, tapi kenapa foto itu yang dipilih. Karena satu-dua kilometer dari tempat saya menginap. Pemandangan itulah yang akan muncul.
      Hanya saja, hayati lelah bang untuk jalan jauh :'(

  2. Suka banget sama tulisan ini, kebawa suasana golden sunsetnya. Untuk orang yang suka jalan-jalan kayak saya, rasanya gimana gitu sampe umur segini belum pernah menginjak Borneo. Yang jelas, diksi-diksi tulisan ini membuat saya terdorong untuk ke sana.
    Bawaannya saya ingin menulis puisi seperti ini:

    Samarinda…
    Seindah-indahnya samarinda, lebih indah lagi samakamu~~

  3. kalau aku penasaran dengan banyak daerah di kalimantan, saat aku traveling di sekitar banjarmasin, aku kagum dengan banyak hal yang aku tak lihat di jawa. Jadi masih ingin pergi ke daerah lainnya lagi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Mobil, Tiang & Benjol

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah
Go to Top