Meneladani Leo

oleh

Siapa yang tidak mengenal Leonardo Wilhelm Di Caprio? Semua penikmat seni peran pasti akan sepakat jika Leo adalah aktor papan atas yang berkelas, jika terlalu berlebihan untuk disebut sebagai yang terbaik. Namun, sebelum kita membicarakan kemenangan Leo dalam ajang piala Oscar yang hangat diperbincangkan beberapa waktu lalu, mari saya ajak Anda sejenak untuk meneladani jejak karir Leo yang panjang.

Leo pertama kali diperhitungkan setelah bermain pada film This boy’s life pada tahun 1993. Di film ini ia memerankan seorang anak yang beranjak dewasa yang mendapat perlakuan tidak adil dari ayah tirinya. Lawan mainnya di film ini adalah Robert De Niro seorang maestro dalam dunia perfilman. Tetapi, meski berstatus anak baru yang minim pengalaman, ia sama sekali tidak gentar. Leo muda percaya diri sekali terhadap kemampuan aktingnya. Terbukti Leo mampu mengimbangi akting sang legenda. Beda sekali dengan kebanyakan dari kita yang seringkali minder ketika berhadapan dengan seseorang yang pengalamannya lebih tinggi atau lebih senior. Padahal belum tentu mereka memiliki kompetensi yang lebih baik. Kita sendirilah yang tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, keburu takut salah dan kalah.

Tak lama setelah memerankan Toby dalam film This boy’s life, ia kembali bermain dalam sebuah film keluarga bertajuk What’s Eating Gilbert Grape. Tebak peran seperti apa yang dimainkan oleh Leo? Penyandang disabilitas mental. Sebagai aktor, memerankan karakter penyandang disabilitas mental tentu saja bukan pilihan peran yang baik, terlebih tantangannya luar biasa besar. Tapi Leo seolah tidak perduli, ia berani menerima tantangan yang diberikan oleh sang sutradara dan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya. Jika Anda sempat menonton film yang juga dibintangi oleh Johnny Depp ini, Anda pasti akan tercengang ketika melihat bagaimana alaminya akting Leo disana. Hasilnya, pada tahun tersebut ia dinominasikan sebagai ‘Best Actor in a Supporting Role’ pada ajang Academy Awards. Sebuah ajang tertinggi untuk insan perfilman internasional. Menang? Tidak. Patah semangat? Sudah selazimnya pada seusia Leo saat itu untuk mengalami patah semangat luar biasa ketika gagal dalam sebuah kesempatan bergengsi. Biasanya kegagalan pertama akan berimbas pada kepercayaan diri yang hilang, demotivasi, penuruan performa, menyalahkan keadaan atau lainnya. Kawan, jika direnungi sejenak bukankah banyak dari kita yang seperti itu? Bagaimana dengan Leo muda? Setelah kegagalannya saat itu, di kemudian hari akting Leonardo Di Caprio malah semakin luar biasa. Sejatinya setelah mengalami kegagalan, manusia akan terbagi pada dua kategori. Yang pertama adalah meraka yang tetap berjuang dan belajar yang kedua adalah mereka yang menyerah dan kalah. Bagaimana dengan Leo? Ia paham betul bagaimana seharusnya belajar dari kegagalan.

www.telegraph.co.uk
Photo Credit : www.telegraph.co.uk

Setelah itu yang ia tahu hanya belajar, belajar dan belajar. Berusaha terus mengembangkan diri agar bisa memberikan yang terbaik di manapun ia bekerja. Kesuksesan film itu sendiri baginya sama penting dengan kesuksesannya secara pribadi. Penghargaan individu? Nanti dululah. Anda pernah menonton ‘Titanic’, film tersukses secara finansial sepanjang sejarah? Film tersebut meraih 11 Academy Awards untuk berbagai kategori. Namun, selain gaji yang didapat dari film tersebut, Leo tidak membawa pulang apapun. Bahkan untuk sekedar masuk nominasi pemeran pembantu terbaik pun tidak. Ia minder? Tidak. Patah semangat karena terkucil di tengah kesuksesan kelompok? Tidak. Lagi-lagi yang ia tahu hanya belajar, belajar dan belajar.

Berbicara tentang Leonardo Di Caprio adalah berbicara tentang perjuangan, kesabaran, semangat pantang menyerah, keinginan untuk terus belajar lebih baik lagi dan keikhlasan. Karena memang begitulah keadaannya. Film-film Leo berikutnya selalu luar biasa jika yang dibahas adalah kualitas. Aktingnya? Acungan dua jempol seolah tidak cukup. Bermain sebagai Frank Albagnale Jr penipu ulung di ‘Catch Me If You Can bersama Tom Hank, legenda film lainnya. Lalu dalam film ‘The Aviator’ ketika memerankan karakter Howard Hughes seorang sutradara, pecinta petualangan, pengusaha multi-juta dollar yang takut memegang gagang pintu akibat terlalu khawatir dengan kebersihan. Pada film ini ia mendapat nominasi Oscar ‘Best Performance by an Actor in a Leading Role’, nominasinya yang kedua setelah menunggu 11 tahun. Menang? Tidak. Menyerah? Patah semangat? Jangan lupa. Leonardo Di Caprio termasuk manusia dalam kategori yang pertama. Bahkan ia tetap berkarya dengan luar biasa meskipun tetap gagal mendapatkan piala Oscar setelah bermain apik sebagai Danny Archer, seorang penyelundup berlian di film ‘Blood Diamond’. Atau ketika berperan sebagai Jordan Belfort, salah satu pialang saham terbaik yang pernah ada, di film ‘The Wolf of Wall Street’. Sebuah film yang menggagalkan usaha ketiganya dalam mendapatkan penghargaan ‘Best Performance by an Actor in a Leading Role’. Meskipun berulang kali gagal, Leo tetaplah Leo. Seorang aktor berkualitas yang selalu belajar dan tak pernah menyerah.

redbandproject.com
Photo credit : redbandproject.com

Tetapi bagaimanapun, Tuhan akan selalu bersikap adil terhadap umat-Nya. Ia yang Maha menghargai proses memberikan imbalan yang pantas atas perjuangan, semangat pantang menyerah dan kerja keras untuk terus belajar yang selama ini dilakukan oleh Leonardo Di Caprio. Lewat film terakhirnya, The Revenant, dimana ia berperan sebagai Hugh Glass – seorang pemburu beruang yang berkali-kali nyaris mati, penantian panjang Leo akhirnya berbuah manis. Gelar ‘Best Performance by an Actor in a Leading Role’ di tahun 2016 berhasil ia bawa pulang setelah lima kali gagal meraih Oscar. Sungguh, perjalanan panjang Leo adalah sebuah inspirasi bagi kita yang mudah sekali menyerah untuk banyak hal, kita yang malas belajar – lalu menyalahkan keadaan atas situasi yang seringkali dianggap tak adil – perlu meneladani cerita dari karir panjang Leonardo Di Caprio. Apa jadinya jika pada tahun 1994 silam Leo memilih menjadi tipe manusia kategori kedua yang menyerah kalah karena gagal. Boleh jadi kita tidak akan pernah mendapatkan suguhan apik dari peran peran Leo di film Romeo & Juliet, Gangs of New York, Shutter Island, Inception atau Django Unchained.

Photo credit : timcarthon.com
Photo credit : timcarthon.com

Peran Sutradara sebagai Leader

Kesuksesan sebuah film atau seorang aktor sangat bergantung kepada sang sutradara. Dua dari empat kesempatan Leo memenangi Oscar adalah ketika sedang memainkan film yang disutradai oleh Martin Scorsese. Untuk para penggemar film, sudah bukan rahasia lagi jika Leo dianggap sebagai anak kesayangan Scorsese, itu dibuktikan dengan beberapa film keren lain yang mereka kerjakan bersama-sama. Tetapi hasilnya? Sama-sama kita ketahui, tak satu pun penghargaan Oscar bisa mereka pajang di lemari kaca di rumahnya. Sampai pada akhirnya tangan dingin Alejandro González Iñárritu-lah yang membuat Leo untuk pertama kalinya menaiki panggung Oscar.

Bagaimana bisa? Mari kita sekali lagi sedikit berprasangka dan berfilosofi.

Tak bisa dipungkiri, baik Scorsese ataupun Iñárritu itu sama-sama ahli pada bidang perfilman. Tapi bagaimana bisa Iñárritu membantu Leo mendapatkan penghargaan tertinggi pada kesempatan pertama mereka bekerjasama sedangkan Scorsese gagal berulang kali? Jika boleh saya mengambil kesimpulan, mungkin karena tangan dingin Iñárritu lebih mantap dalam mengembangkan potensi pemainnya.

Sederhananya begini, Scorsese tahu betul jika Leo memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memerankan sosok yang berpengaruh, kharismatik, bisa mengendalikan banyak orang dengan kemampuan berbahasa yang luar biasa. Pada beberapa kesempatan “hanya seperti itu” peran Leo dalam film-film Scorsese. Leo menjadi luar biasa karena diberi peran yang benar-benar ia kuasai. Sedangkan Iñárritu memberikan peran dan tantangan lain yang mendobrak kebiasaan Leo dalam berolah peran. Dan silakan bertepuk tangan untuk totalitas olah peran Leo yang luar biasa.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari Iñárritu dan Scorsese? Terkadang, potensi seseorang lahir hanya karena ia diberikan kesempatan. Iñárritu membuktikannya, ia mengeluarkan potensi luar biasa yang lama terpendam pada diri Leo. Hasilnya? selain membantu Leo memenangkan ‘Best Performance by an Actor in a Leading Role’ pada kesempatan yang sama ia pun dinobatkan sebagai ‘Best Achievement in Directing’.

Keahlian Iñárritu ini perlu diterapkan dalam kepemimpinan tim. Seorang pemimpin kadang abai terhadap potensi bawahannya. Selama hasilnya memuaskan, itu sudah cukup. Padahal, mungkin ia memiliki potensi lebih besar yang jika dikembangkan boleh jadi hasilnya akan jauh lebih baik dari sekedar “memuaskan”. Bisa kita bayangkan seberapa suksesnya sebuah kelompok/golongan/perusahaan jika memiliki keduanya: personel yang baik kompetensinya dan pemimpin yang mampu mengembangkan potensi personelnya menjadi jauh lebih baik.

Faktor-faktor non teknis

Selain karena faktor yang diceritakan di atas. Faktor sering gagalnya Leo (atau filmnya) mendapatkan penghargaan tertinggi boleh jadi dikarenakan waktu yang tidak tepat. Ia muncul pada saat persaingan sedang tinggi, meskipun filmnya bagus tetapi yaa gitu-gitu aja. Sebagus apapun suatu film akan kalah jika di waktu yang bersamaan ada film dan cerita yang sama bagus tetapi menawarkan warna yang berbeda.

Kita sebagai individu sebagai kelompok atau sebagai sebuah perusahaan pun akan diam di tempat dan jatuh jika tidak pernah menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda. Meskipun sama-sama bagus dan kita bisa berlari lebih cepat dari pesaing kita, tetapi kita akan jadi kalah jika kita gitu-gitu aja.

Sekali lagi, Congratulations, Leo.

Photo Credit : www.redbulletin.com
Photo Credit : www.redbulletin.com

Catatan:

Naskah ini dibuat kolom “Moral Story” pada suatu Company Magazine. Jika ada kalimat tendensius untuk suatu pihak itu murni semata untuk penyuguhan moral cerita untuk kalangan tertentu

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

5 Comments

  1. Jujur saja, melihat sepak terjang pengalamannya yang selalu hampir mendapatkan oscar, mungkin saya pikir sampai-sampai ketika leo masuk nominasi oscar kembali dia sudah punya pikiran nyari aman saja pikiran “Ah mungkin ini seperti oscar yang lalu lalu.” dan lihat ketika dia dapat oscar beneran pidatonya luar biasa, membahas lingkungan dan pemanasan global.

    Salute!

    • Iyaa bener. Keren gila pas nama Leo dibacain sebagai pemenang. Standing ovation. Isi Thanks Speech Leo seolah udah disiapin belasan tahun itu.
      Sempet jadi olokan kan, kalau sampai kali ini doi ga dapet. Doi ga akan pernah dapet oscar. Mungkin nanti dibikin biography Leo, dan orang yang berperan sebagai Leo-lah yang akan menang Oscar.

  2. papah leo emang luar biasa. berkali-kali gak menang oscar padahal filmnya sangat apik. jatuh?bangun. jatuh lagi? ya bangun. papah leo emang kereen. ditambah persahabatannya sama Kate Winslet. aaaaaaaaaakkkkkkk saluuuttttt

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top