Happy Birthday Inter

oleh

Kala itu saya pernah, pada berbagai kesempatan, memperkenalkan diri sebagai seorang pendukung dari salah satu klub sepakbola yang ada di Italia. Sejati ?? Entahlah rasa-rasanya tak perlu sejauh itu jika tujuannya hanya untuk berkonfrotasi dengan khalayak ramai, lawan atau kawan. Kala itu pula saya menjadi salah satu yang paling marah ketika klub itu dikutuk atau dihina dengan semena-mena oleh  pendukung klub lawan untuk berbagai alasan. Dan juga saya termasuk dari bagian yang menjadi rusak mood-nya ketika klub itu sedang kalah dan menjadi yang paling berbahagia ketika sedang bermain cantik lalu menang.

Kala itu saya termasuk yang tak sudi untuk kehilangan satu pertandingan pun klub itu bermain. Tengah malam, hujan lebat, sakit sedang, jarak jauh belasan atau puluhan kilometer, itu persoalan kecil belakangan lah bisa kita pikirkan. Tapi demi bisa senantiasa duduk manis di depan layar untuk menonton klub itu bertanding, saya akan lakukan apapun persoalannya. Pertandingan persahabatan yang tak mempertaruhkan apa-apa saja saya sanggupi apalagi jika dihadapkan pada pertandingan besar penuh gengsi. Kerja ?? Cuti sajalah, masih ada besok lusa.

Mencintai dengan berlebihan untuk klub sepakbola yang berjarak ribuan kilometer itu sudah menjadi bentuk sebuah kebodohan. Apalagi ketika mengorbankan banyak hal, banyak waktu, banyak uang lengkaplah sudah menjadi kebodohan yang paripurna. Saya pernah menjadi orang bodoh itu, untungnya bersama orang banyak lainnya sehingga setidaknya saya tidak menjadi bodoh sendiri. Tapi perduli setanlah, bukankah memang dalam banyak kasus, cinta seringkali membuat manusia terlihat bodoh ?? Asalkan demi alasan cinta, kebodohan seringkali dimaklumi.

Saya jabarkan sedikit saja. Jika sempat kala itu saya menghitung, entah berapa banyak jam tidur yang saya pangkas demi mengunjungi cafe demi cafe penyelenggara nonton bareng bahkan terkadang harus berpindah-pindah kode pos dalam waktu satu-dua malam. Entah berapa puluh atau berapa ratus lembar rupiah yang saya habiskan demi kepuasan diri yang sampai sekarang hanya bisa menggantung di lemari. Entah berapa banyak kota yang saya datangi untuk alasan pertemanan, melebarkan jejaring komunitas dengan loyalitas tanpa batas. Omong kosong, besok lusa kita semua sadar itu hanya ajang adu eksistensi, besok lusa yang tersisa hanya satu-dua saja dari itu semua.

Lalu apakah saya menyesal ?? Tidak, sama sekali tidak pernah saya menyesal. Untuk apa ?? Lagipula ada satu orang yang secara tidak langsung menjadi contoh tentang bagaimana menjadi pendukung yang baik, rela melakukan apa saja tanpa menghitung untung rugi. Ia adalah panutan, ia adalah ayah, ia adalah pemimpin, ia adalah pemilik yang masa bodoh dengan segala hal demi sebuah klub yang sungguh ia cintai. Meneladani seorang pemimpin adalah sebuah kelaziman. Dalam skala yang lebih kecil banyak sekali hal sama yang ingin dan sudah saya lakukan untuk klub yang saya cintai itu. Tetapi,  ah, saya sehelai benang pun tidak pantas disamakan dengannya.

Memutuskan untuk mencintai klub dengan jarak puluhan ribu kilometer itu berarti kita seperti memasrahkan diri menjalin cinta dengan jarak yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan saya, bisa dikatakan menemui mereka disana hanyalah kemustahilan, mimpi. Tapi tentu saja mimpi yang menyenangkan, karena ada perasaan rindu, rasa penasaran dan apa sajalah kosakata yang tepat untuk menjelaskannya. Sama mustahilnya seperti ketika saya memimpikan untuk bertemu dengan Spiderman atau Captain Tsubasa. Beruntungnya, beberapa tahun silam Tuhan masih baik untuk mewujudkan mimpi itu. Saya, maaf maksudnya kami, bertemu dengan mereka yang kami cintai, bahkan Tuhan mewujudkan mimpi itu dengan cara yang lebih luar biasa. Mereka yang datang kesini. Mimpi itu lengkap sudah. Sungguh, sampai disitu saja. Tak perlu ada lagi. Karena bukankah mimpi yang berulang-ulang akan juga menjadi membosankan ??

Tapi itu sudah lama, lama sekali. Sebelum negara api menyerang dan memporakpondakan semuanya. Semenjak hari itu saya sudah merasa puas bermimpi, terlebih lagi ia yang saya teladani sudah tak lagi duduk di kursi tertinggi, digantikan orang yang berbeda.  Karena meneladani seorang pemimpin adalah sebuah kelaziman, maka saya seolah membiasakan diri untuk meneladani sikap si pemimpin kali ini. Saya mulai menghitung untung rugi. Ketika pertama kali memutuskan untuk menyukai klub itu, saya tak pernah sedikitpun berharap keuntungan finansial yang banyak, ah, sedikitpun tidak. Karena perkara mencintai klub sepakbola tentu saja tak pernah tentang laba. Itu semua hanya sebuah kepuasan, nafsu, atau hasrat sebagai pemuja.

Tapi sekarang saya merasa harus berpikir ulang, apa keuntungan yang saya dapatkan untuk melakukan lagi semua itu. Keuntungan finansial ?? Astaga, yang ada malah saya akan kembali rugi, membuang-buang lembaran rupiah seperti dulu. Kepuasan diri ?? Tentu saja saya akan mendapat kepuasan diri yang luar biasa ketika melakukan lagi itu semua, hanya saja waktu yang saya gunakan untuk mendapatkan kepuasan diri rasanya lebih baik saya gunakan untuk melihat anak saya tersenyum senang melihat ayahnya diam dirumah. Eksistensi ?? hah, bahkan mungkin saya tak akan sempat memikirkannya ketika nanti saya mati. Satu yang mungkin saya rindukan adalah berkumpul dengan beberapa teman yang kami memulainya dari hobi yang sama ini. Tapi, kawan kita bisa melakukannya di lain tempat di lain soal, bukan ??

Saya masih mencintai klub ini, tentu saja. Tetapi sekarang ini banyak sekali yang berubah. Oh, tentu saja bukan karena prestasi yang beberapa tahun terakhir seolah menjadi musuh bagi klub ini, tentu saja bukan karena itu. Karena toh klub ini memang sedang menjadi pecundang ketika saya pertama kali menyukainya. Jika saat itu banyak rindu dan rasa penasaran karena jarak yang begitu jauh. Sekarang setelah menjadi dekat, apa menariknya ?? Ketika saya mulai merasa kehilangan sesuatu yang menarik, saya merasa kehilangan sesuatu yang menyenangkan. Ketika saat itu hal yang menyenangkan adalah sebuah kemustahilan, saya merasa lebih baik betah bermimpi dalam kemustahilan. Ketika saya mulai merasa kehilangan sesuatu yang menarik, saya merasa lebih baik mencintai klub ini dengan cara lain yang lebih menyenangkan meskipun harus sendirian. Karena dalam banyak kasus, sebagai seorang manusia kita akan merasa lebih puas ketika membiarkan hal-hal yang menyenangkan menjadi urusan individu yang rahasia.

Saya masih mencintai klub ini, tentu saja. Oleh karena itu saya tetap akan mengucapkan : Selamat ulang tahun, Inter. Semoga mendukungmu bisa kembali menyenangkan.

 Inter-2016

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top