Keputusan Sepihak

oleh

Sering saya membayangkan apa yang para orang tua rasakan ketika anak yang begitu dicintainya memutuskan untuk pergi dari rumah untuk alasan dan keadaan apapun, seperti misal kuliah di luar kota, mendapatkan pekerjaan di luar pulau, menikah dan berpindah rumah dan atau yang paling mengerikan, benar-benar meninggalkan rumah tanpa alasan apapun atau apa biasa kita menyebutnya, minggat?? Kabur?? Terserahlah.

Saya membayangkan itu semua ketika sedang mengalami hubungan jarak jauh dengan gadis yang akhirnya menjadi istri saya sekarang ini. Ketika itu, astaga, berjauhan dengan orang yang baru dikenal dan dicinta beberapa waktu saja rasanya sudah tidak enak. Bagaimana para orang tua yang hatinya diacak-acak rasa rindu akibat berjauhan dengan anak yang dicintainya bahkan semenjak anak itu belum mengenal cinta.

Dan, pada akhirnya waktu akan memberikan jawaban. Rasanya sakit sekali melebihi rindu ketika menjalani sebuah hubungan dengan jarak yang paling jauh sekalipun. Dan hujan melengkapi semuanya.

Namun tentu saja berbeda dengan kalimat pembuka pada awal tulisan ini. Bukan anak itu yang pergi meninggalkan rumah, tetapi akibat saya yang menjadi pecundang dengan membiarkan ibu dari anak itu untuk bekerja di luar rumah. Untuk urusan ini saya sebagai orang tua yang membuat anak itu tidak tinggal di rumah yang sama, meski begitu percayalah rasa sakit dan rindu yang ditimbulkan sama hebatnya dengan cerita pembuka itu.

Anak itu belum mengerti benar tentang keputusan kami -orang tuanya untuk membiarkan dia tinggal bersama neneknya. Tapi tatapan kosong ketika ia melihat kaki kami yang melangkah meninggalkan rumah neneknya itu sungguh membuat saya merasa menjadi orang paling tidak berguna sedunia. Anak itu belum tentu tahu akan rindu, tetapi ia yang selalu ceria tertawa sesukanya ketika bermain bersama kami di rumah lalu sekarang ini memilih diam setiap kali kami menelfon seolah ingin menerjemahkan bahasa “Ayah, bunda aku rindu”. Anak itu boleh jadi belum mengenal sebuah amarah, tetapi isak tangisnya ketika melihat kami pertama kali setelah tidak bertemu beberapa waktu lebih terdengar seperti ungkapan kekesalan atas keputusan sepihak yang kami buat.

Iya, keputusan sepihak.

Jika sebuah cerita pada kalimat pembuka tadi terjadi pastilah akan muncul beberapa argumentasi antara yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, tawar menawar tentang waktu untuk nantinya bertemu atau apapunlah. Dalam beberapa kasus, boleh jadi adu bicara diantara kedua pihak bisa membatalkan cerita tadi cerita yang selalu memaksa rindu untuk terlibat masuk tanpa permisi, entah senang atau pilu rindu itu berkembang tergantung seperti apa para pelakunya nanti bersikap. Sedangkan untuk saya bersama cerita ini, tak ada sedikitpun adu bicara antara yang ditinggalkan dan yang meninggalkan. Yang ada hanya sebuah keniscayaan dan dua tiga tanggung jawab yang berjalan beriringan.

Aduhai, bahkan anak itu sama sekali tidak bisa menawar waktu temu apalagi untuk menolak. Meski sekali lagi, ia menjadi korban dari ketidakadilan keputusan sepihak.

Ini akan menjadi terlihat begitu drama. Tapi orang tua mana yang tidak menjadi melankolis jika terpaksa dihadapkan pada urusan seperti ini. Ibu dari anak itu sudah menangis di malam pertama anaknya tidak dirumah, jika saya tidak besar dengan gengsi yang tinggi, pastilah saat itu kami menangis berdua sepanjang malam. Tapi mana bisa kami menjadi bijak jika terus bermuram durja untuk keputusan yang kami buat sendiri harus ada langkah yang dilakukan agar kelak sebelum anak itu mengenal rindu keputusan ini bisa kami ubah.

Ah tetapi nak, jika cerita ini menjadi lebih lama dan kamu tumbuh menjadi lebih menggemaskan, tetap bersenang-senang sajalah, bermain dan tetap pintar. Biar kami saja yang menahan rindu, karena ketahuilah semenyenangkan apapun rindu itu berkembang, tanpa muka yang bertatap tanpa tanggan yang menggenggam rindu itu tetap terasa menyakitkan.

Sekali lagi Nak, bersabarlah disana. Meski semenjak keputusan itu dibuat rumah ini benar-benar jadi membosankan.

Naufaldaffa

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top