Bermain Dengan Tinta

oleh

Aku menatap bangunan di depan warung kopi ini. Mengetik balasan pesan singkat, memasukan perangkat  genggam ke tempatnya, lalu tersenyum membayangkan kemungkinan babak kedua perbincangan dengan perempuan cantik di bangunan itu. Hujan memang masih mengguyur bumi cukup deras tetapi akan terlalu memakan waktu jika aku harus menunggunya sampai benar-benar reda. Lalu aku memutuskan untuk berlari cepat menabrak butiran-butiran air hujan yang jatuh ke bumi sesukanya tanpa memperdulikan apapun yang akan dihadapinya.

“Kenapa gak nunggu berenti dulu sih !? Tunggu sebentar akan aku ambilkan kaus punya ayah.” setelah memberiku handuk kering perempuan itu mendengus kesal melihat lelakinya ini basah kuyup. Aku diam sebentar, tersenyum lalu menggangguk, malas mendebat perempuan yang sedang kesal. Karena aku masih memegang prinsip bahwa sesungguhnya bersedia mengalah saat perempuan sedang memupuk kesal adalah salah satu cara mencegah perang dunia ketiga yang paling mudah.    

  Jika berkenan, anda bisa melihat bagian pertama cerita ini pada tautan berikut : Menerka arah tinta

Aku melihat ke arah jam dinding yang terletak persis di tengah-tengah ruang tamu rumah ini. Jarum pendek dan jarum panjang hampir bertumpukan di angka dua sudah cukup lama juga aku disini dan masih harus menunggu beberapa jam lagi. Aku mendengar suara berisik dari ruang keluarga, penasaran aku coba menuju arah suara. Ternyata lelaki bungsu keluarga ini sedang kedatangan beberapa tamu kecilnya.

Lucu kuperhatikan empat anak kecil yang kutebak berusia sembilan atau sepuluh tahun itu sedang asik bersuara tanpa saling bertatap mata. Dua diantaranya sedang bermain playstation, adu serang memainkan game sepakbola menggunakan kesebalasan favoritnya masing-masing. Adit, lelaki bungsu keluarga ini, mungkin sedang menunggu giliran sambil sibuk memainkan perangkat genggamnya. Sedangkan satu yang terakhir membuatku cukup tertarik untuk mendekat karena pada layar monitor laptop yang sedang dia pegang terlihat tampilan yang sangat aku kenal.

“Lagi blogwalking, dek?” aku memulai pembicaraan.

“Eh, apa bang?” yang ditanya tampak kebingungan tidak mengerti apa yang aku ucapkan.

“Oh, itu lagi ngapain?? baca blog ya??” aku bertanya lagi dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti. Anak berambut ikal itu masih bingung dan yang sedang dilihatnya adalah blog milik salah satu blogger muda yang sedang naik daun, aku hafal karena beberapa kali pernah mengunjungi blog tersebut.

Enggak tahu bang, kebetulan aja tadi ada di facebook, yaudah aku buka deh” anak berambut ikal itu menjawab, Aldo namanya, setelah aku menanyakan kebiasaan dia membaca blog. Ternyata hanya kebetulan bukan kebiasaan. Meski tidak bersifat umum, tetapi memang anak pada usia tersebut masih kurang pembiasaan diri dalam membaca blog, frekuensi mereka di dunia digital lebih banyak dihabiskan dengan bermain game atau interaksi media sosial. “Coba lihat yang ini deh” aku yang sempat beberapa kali mengunjungi blog yang sedang dia buka itu cukup hafal beberapa konten menarik yang diunggah didalamnya dan sesuai tebakanku Aldo sangat tertarik dengan konten yang dikemas dalam bentuk video itu dia pun menyuruh teman-temannya untuk berhenti bermain game lalu diajaknya untuk melihat blog itu bersama-sama.

Aku pergi sebentar ke dapur bermaksud untuk membuat teh hangat. Bukannya tidak sopan, tapi di rumah ini oleh pemiliknya aku memang sudah diizinkan untuk hal-hal kecil seperti ini, mungkin karena terlalu sering datang mereka merasa repot jika harus melayaniku seperti seorang tamu. Aku pun telah berganti pakaian beberapa menit yang lalu, meminjam kamar mandi belakang yang letaknya berdekatan dengan dapur. Urusan membuat teh hangat diambil alih oleh perempuan itu. Di ruang tamu gelak tawa empat sekawan itu semakin terdengar begitu keras. Dari dapur kami berdua tersenyum mendengarnya lalu kemudian menghampiri mereka. Playstationnya sudah dimatikan perangkat genggam milik Adit pun sedang dicharge sekarang hanya laptop yang sedari tadi dibuka oleh Aldo yang masih bertahan dengan ditemani tawa dari yang melihatnya.

“Gimana, seru kan lihat blog??” aku bertanya terpaksa dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh mereka, dan yang ditanya mengangguk kompak. “Sebenernya blog itu apa sih bang?? Kaya facebook ya ??” pertanyaan itu muncul setelah kompilasi video tiga menit yang mereka lihat habis diputar.

“Ya beda donk” perempuan disebelahku yang menjawab. “Bedanya apa ?? Ini ada tulisan, ada foto-foto, ada video ada komentar juga sama kaya facebook”. Aku menepuk dahi sambil tersenyum, baru beberapa menit yang lalu aku selesai menjelaskan tentang blog dan fungsinya kepada dua lelaki di warung kopi sekarang harus mengulanginya dari awal untuk keempat sekawang yang mulai memaksa penasaran. Perempuan itu sempat menolak tetapi kemudian mengalah, merelakan waktu obrolan penting kami untuk diambil oleh adik bungsu dan teman-temannya itu.

Aku menghabiskan lebih dari enam puluh menit untuk menjelaskan banyak hal tentang blog. Banyak sekali tanya jawab didalamnya, mimik muka tidak puas, raut wajah penasaran dan ekspresi menggemaskan anak yang bahkan belum lulus sekolah dasar.

Credit photo : gettyimages.com (with edited content)
Credit photo : gettyimages.com (with edited content)

“Tertarik untuk menjadi seorang blogger??” aku bertanya. Mereka yang ditanya saling tatap kemudian diam, malu malu memberikan jawaban. Sebelum aku melanjutkan sepintas aku melihat anggukan ragu dari mereka semua.

“Aku tidak bisa membuat video, bang. Tulisanku pun tidak bagus” aku mengacak-acak rambut Adit yang berkomentar sebelum aku sempat melanjutkan. Tidak terima adiknya diperlakukan begitu, menyusul rambutku yang diacak-acak oleh kakanya Adit, si perempuan cantik itu yang baru saja membawakan camilan untuk menemari keingintahuan keempat sahabat ini.

“Kalian punya facebook kan ?? Punya twitter ??””

“Facebook aku punya bang, kalau twitter enggak, apa serunya?? Itu kan mainan orang tua” itu Dirga yang menjawab dan aku mengerenyutkan dahi tidak mengerti “Mainan orang tua??”.

“Iya bang, twitter kan cuma kaya koran cuma tulisan-tulisan aja enggak bisa komentar, enggak bisa like, enggak ada game juga, gak seru bang !!” aku dan perempuanku kompak tertawa meski tidak sampai terbahak. Kemudian perempuan itu menjelaskan satu-dua fungsi dari twitter yang tidak semonoton seperti yang mereka pikirkan. Sampai saat ini aku masih beranggapan bahwa twitter adalah media sosial terbaik.

“Blog lebih kurang sama saja seperti facebook, twitter atau media sosial lainnya. Ini bukan perkara bisa atau tidak bisa anggap saja kalian sedang menulis status facebook tetapi sedikit lebih panjang. Menjadi blogger adalah urusan mau atau tidak mau. Seperti halnya kalian sekarang ini main facebook karena kalian mau kan ?? Padahal awalnya toh tidak bisa juga” penjelasan itu bukan aku yang menjawab aku hanya ikut mengangguk dan tersenyum melihat dia yang bersemangat menjawab sambil sesekali merapihkan ujung poni yang menghalangi matanya.

Aku menambahkan beberapa belas kalimat tambahan untuk memperjelas fungsi blog kepada mereka. Hari ini aku terlihat seperti duta blog tidak resmi.

Itu karena dari awal aku memang yakin jika blog memiliki potensi yang luar biasa besar terlebih untuk anak muda yang produktivitas, kreativitas dan imajinasinya seringkali lebih baik ketimbang mereka yang lebih tua. Mungkin untuk keempat anak itu -yang lulus SD saja belum sekarang ini terlalu cepat untuk memulai aktivitas kreatif pada sebuah blog tetapi jika mereka mau mulai belajar memahami konten blog dari sekarang bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan blog yang dimiliki anak muda isinya bukan hanya sekedar tugas sekolah saja seperti yang banyak beredar sekarang ini. Akan jadi menyenangkan bukan jika mereka bisa memindahkan ide kreatif yang biasanya dibuat terbatas pada media sosial kedalam sebuah blog.

“Memang abang punya blog ??”

Aku yang baru saja beranjak hendak pindah ke ruang tamu terpaksa harus menundanya sementara waktu. Aku menatap wajah perempuan itu. Dalam waktu yang hampir bersamaan mata kami bertemu saling menatap tidak terlalu lama.

Lalu kami berdua tersenyum mengingat-ingat kembali darimana awal semua cerita ini bermula.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

23 Comments

    • Nah .. iyaa kalo di tumblr ada tuh opsi nulis quote.
      tumblr juga efektif sih untuk belajar nulis lebih panjang dari socmed dan lebih pendek dari blog.

      Kalo di blog cuma nulis quote doank kayanya sayang yaa.

  1. Setuju dengan “urusan mau tidak mau” nya. Mungkin awalnya, memang sedikit perlu diarahkan dengan jalan memberi tugas dsb. Disini peran senior dan dunia pendidikan (sekolah) menjadi vital. Sebab, kebalikannya, kebanyakan pelajar tahu aplikasi sosmed modern dengan otodidak.
    @ge1212y

    • Saya kurang setuju sih mas kalau mengharapkan “peran” sekolah dalam kasus ini.
      Karena tidak semua sekolah (terlebih yang tidak begitu mendalami TI / Software) memberikan tugas / informasi mengenai blog.

      Tapi kalo si muridnya memanfaatkan blog untuk kepentingan sekolah, itu jadi lain cerita 😀

  2. Apakah semua tulisan disin modelnya kayak cerpen gini ya, ntar ane telusur.
    Mbuat cerita panjang gini butuh berapa hari brur, bakat bener ente.
    Setahun udah bisa jadi antologi Cerpen loh.

    @rizalarz

    • tulisan disini ?? di blog saya maksudnya om ?? hahaha ndak juga kok.

      emm, kalau post yang ini sih kebetulan lagi mood nulis, satu-dua jam selesai.

      kalo lagi ga mood mah, cuma jadi draft doank kebanyakan 😀

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang
Go to Top