Pergi Ke Pasar

oleh

Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat jauh dibandingkan saya.

Tetapi jikapun anggapan buruk itu ada, biar sajalah. Dan semoga saja satu cerita berikutnya bisa meyakinkan anda semua -dan anda harus percaya bagaimanapun akan ada saatnya seorang laki-laki akan menunjukan rasa tanggung jawab kepada keluarganya, ya meski dalam kasus ini porsinya teramat kecil.Kecuali ketika di akhir pekan istri harus menambah waktu kerja diluar rumahnya, cerita yang saya sampaikan di atas adalah benar. Memang saya memiliki kompetensi yang cukup payah ketika berurusan dengan baju kotor, piring dan gelas yang menumpuk, lantai yang berdebu atau bagian pernak-pernik rumah yang berantakan. Istri saya tahu betul kebiasaan buruk itu, yang dia tidak tahu ternyata saya tetap tidak berubah meskipun telah menikah, tetap menjadi lelaki yang pemalas.

Sejujurnya saya tidak sampai hati melihat ia menanggung dua beban pekerjaan sekaligus, oleh karena itu saya sempat memintanya untuk berhenti bekerja di luar rumah. Meski pada akhirnya karena satu dan lain hal keputusan yang diambil tetap seperti sekarang ini. Sabar ya nak, semoga dalam waktu dekat ibumu bisa menemani kamu di rumah sepanjang hari. Tapi baiklah demi fisik gelas dan piring yang tetap baik di masa depan saya memutuskan mengambil alih sebagian pekerjaan di rumah, tidak semuanya dan tidak banyak, hanya berusaha mengurangi aktivitas istri di rumah. Ia setuju, syukurlah, dan tetapi ia memberikan satu tambahan pekerjaan. Ehm, lebih tepatnya meminta : menemani belanja bulanan setiap selepas gajian di tanggal dua puluh delapan. Astaga, saya menggaruk kepala yang tidak gatal.

Setiap lelaki memiliki tingkatan gengsi yang berbeda untuk pergi belanja membeli satu-dua barang untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Dan secara pribadi untuk berbelanja saya akan menempatkan gengsi saya ditempat yang paling tinggi tambahkan rasa malas untuk menguatkan jika saya lebih memilih menghabiskan waktu dengan tumpukan baju kotor ketimbang pergi berbelanja. Banyak sekali alasan mengapa saya malas pergi berbelanja salah satunya -dan yang paling menyebalkan ketika istri membandingkan harga mana yang paling murah, sekedar informasi di tempat kami tinggal beberapa hypermarket lokasinya berdekatan jadi bukan suatu keanehan jika suatu waktu untuk mendapatkan harga yang paling murah kami harus berpindah ke beberapa lokasi belanja dalam satu waktu.

“Kenapa gak ke pasar aja bunda ?? Disana lebih murah kan ??” suatu ketika saya bertanya. Ia sepakat dengan beberapa argumentasi.

Sepakat dalam hal harga yang lebih murah. Tentu saja, pasar tradisional memang seringkali menawarkan harga yang relatif lebih murah ketimbang pasar modern di hypermarket. Modal yang kecil dan lokasi yang memiliki pungutan pajak tidak terlalu tinggi (atau mungkin  tidak ada beban pajak?) membuat para penjual di pasar tradisional tidak memiliki kewajiban memasang harga tinggi di barang jualannya. Terlebih kebanyakan konsumen pasar tradisional adalah golongan menengah kebawah dan atau golongan menengah keatas yang sesekali kebawah.

Tambahan argumentasinya adalah, berbelanja di pasar tradisional tidak bisa menjamin tingkat kebersihan dan kesegaran seperti yang ditawarkan pasar modern di hypermarket. Kita tidak berbicara tentang lokasi pasar tradisional, sekarang ini di kota-kota besar sudah hampir tidak ada ada pasar tradisional yang beralaskan tanah seperti jaman jadul sepuluh dua puluh tahun lalu. Saya ingat betul sewaktu kecil ketika menemani ibu pergi berbelanja di pasar tradisional saya sempat dalam beberapa kesempatan terjatuh di pasar akibat jalanan yang becek dan berlumpur. Sekarang mana ada, semua kepala pemerintahan pasti mentransformasi bentuk pasar tradisional menjadi lebih baik, setidaknya alas dan dinding dibuat dari keramik maka untuk merubah image pasar tradisional yang kotor dibubuhilah istilah pasar bersih.

Memang betul sudah banyak sekali upaya yang cukup baik untuk membuat kita tidak perlu merasa jijik menjejakan kaki di pasar tradisional. Tanpa bermaksud menyinggung secara umum pelaku transaksi di pasar tradisional namun ada yang masih tidak berubah ketika kita berkunjung ke pasar tradisional, yaitu kebiasaan jorok dari para penjual ataupun pembeli. Silakan berkunjung ke bagian barang basah seperti penjual daging sama saja baik ayam maupun sapi, penjual ikan sama saja. Mereka memiliki itikad yang cukup baik dengan mencuci daging-daging yang mereka potong sebelum menjualnya, tapi lihatlah percikan air saat mereka mencuci mulai membasahi lantai tambahan darah dan debu dari udara membuat semuanya jadi percuma, tetap saja bagian komplek penjual daging akan tetap becek dan kotor meskipun dialasi keramik berlapis sekalipun.

Lain tukang daging lain pula dengan tukang buah. Dengan tampilan buah-buah yang tidak semenarik pasar modern di hypermarket yang bisa dilakukan penjual buah untuk membuat dagangannya laku adalah membiarkan calon konsumen mencicipi satu-dua buah dagangan mereka, sekali lagi itu sungguh itikad yang baik sampai mereka membiarkan kulit dari buah-buahan yang mereka kupas berserakan dimana-mana. Dengan sifat air yang menyesuaikan dengan kondisi ruang, pada bentuk alas lantai pasar bersih tradisional yang terbuat dari keramik tinggal menunggu waktu kiriman air dari cucian tukang daging tadi sampai ke tukang buah. Dan, sekali lagi pasar itu akan tampak becek, kotor dan menjijikan.

Agar berimbang, dalam sudut pandang saya, kita sebagai pembeli pun memiliki andil yang cukup tinggi perihal kotornya pasar tradisional. Konsep tawar-menawar yang disuguhkan dan memang menjadi andalan pasar tradisional seringkali membuat kita sebagai pembeli menjadi terlena. Demi menghindari antrian atau debat kusir tawar menawar yang cukup lama, kita sering memasukan sejumlah barang terlebih dahulu kedalam kantong plastik bukan?? Baru setelah itu melakukan negosiasi kepada si penjual. Nego berhasil ?? Anda pulang dengan membawa barang murah, nego gagal ?? Anda akan kecewa dan kemungkinan barang tersebut dibanting (atau setidaknya dilempar ke sembarang tempat) cukup tinggi. Jika itu terjadi, bisa anda bayangkan kondisi barang yang tidak jadi anda beli itu seperti apa ?? Si penjual mau tidak mau akan kembali memasukan barang itu tadi ke tumpukan jenis barang yang sama, alhasil anda akan menemukan variasi kondisi barang disitu. Ah, jika kotonasi ‘barang’ disini cukup menganggu daya nalar anda, silakan ganti kata ‘barang’ pada paragraf ini dengan sayuran atau buah-buahan. Dan bayangkan mereka itulah yang menerima perlakuan dibungkus-ditawar-ditolak-dilempar-hancur. Dengan kondisi seperti itu apa anda masih mau membelinya ??

Jika proses dibungkus-ditawar-ditolak-dilempar-hancur terlalu lebay untuk menganalogikan peran buruk pembeli dalam transaksi di pasar tradisional. Saya coba yang lebih sederhana : saat calon pembeli melakukan proses pilih memilih barang yang akan dibungkus, pada akhirnya ada berapa ratus sidik jari yang belum tentu bersih yang menempel pada barang yang akhirnya anda beli ??

“Bukan belagu, ayah. Tentang bersih dan kotor usia anak kita masih terlalu sensitif, bunda cuma takut dan gak mau anak kita kenapa-napa cuma karena makanannya yang gak bersih” itu yang ia katakan kemudian. Saya malas mendebat perihal bahan-bahan mentah yang dibeli di pasar tradisional itu bisa dicuci sebelum dimasak, ia yang belajar dan bekerja di bidang mikrobiologi cukup paham tentang mikroba apa saja yang tidak bisa hilang ketika dimandikan. “Iya ayah, gak ada jaminan juga barang-barang di pasar modern 100% bersih, tapi dengan perlakuan yang lebih steril dan tampilan lebih segar, buat dede ayah mau pilih yang mana” kalimat yang cukup ampuh untuk saya menyelesaikan cerita ini.

Jika para pelaku transaksi bisa memperbaiki sikapnya, maka tinggal menunggu waktu eksistensi pasar tradisional bisa menyamai pasar modern di hypermarket. Jika waktu itu telah tiba, maka anak saya tidak mungkin mengalami pengalaman seru seperti ayahnya ketika masih kecil. Bersembunyi di balik kerumunan ibu-ibu yang sedang tawar menawar dengan penjual sayur selagi neneknya masih asik mengobrol dengan penjual daging. Atau merasakan pengalaman ayahnya ketika berkejaran dan lalu terjatuh di depan kios kecil yang menjual makanan-makanan khas anak SD. Beberapa tahun kedepan, yang bisa dilakukan seorang anak ketika menemani orang-tuanya berbelanja hanyalah kepala yang menengok kiri-kanan bergantian dan tangan yang mengambil beberapa barang kedalam keranjang, kaki yang tidak berhenti berjalan, serta mulut yang tersenyum ketus ketika mengucapkan terimakasih kepada penjaga kasir yang enggan memberikan tambahan kantung plastik.

Tetapi jika pada akhirnya eksistensi pasar tradisional benar-benar hilang dan mati, yang akan dirindukan disana adalah sebuah kehidupan. Kehidupan yang sering dibicarakan dan akan menjadi legenda, bahwasanya pasar adalah tempat yang paling berisik.

Ilustrasi - Photo by sweetjavanese.com
Ilustrasi – Photo by sweetjavanese.com

Epilog :

“Bunda, emang gak ada pasar online yaa ?? tiga-empat jam buat belanja kan lumayan kalau buat nonton, ayah belum nonton Inception, bun”

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

22 Comments

  1. Ulasan yg sgt menarik. Setuju dengan bahasan harga. Sepertinya memang lebih murah. Soal beban pajak, menurut saya ada “pajak” tapi tak sebesar swalayan.
    Soal kebersihan, setuju. Gambaran saya seperti pergeseran handphone k smartphone, jgn kan handphone yg smakin cerdas, masyarakat juga semakin pintar. Salah satunya soal kesehatan atau kebersihan.
    Misalkan seorang perokok mungkin akan segan merokok di rumah sakit, karena terlihat bersih, apalagi di area cineplex atau bioskop. Ada peringatan sekaligus pengawasan. Tempatnya yang bersih juga menunjang orang segan membuat kotor. Tidak menjamin, hanya meminimalkan.
    Mungkin saja, bila pasar dibuat nyaman,tertib,aman,bersih dengan fasilitas memadai, paling tidak bisa bertahan dan menarik untuk dikunjungi oleh semua golongan. @ge1212y

  2. konteks lingkungan dan sosial memang sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupan seseorang. ketika lingkungan seseorang berada di desa dan dekat dengan pasar tradisional di desa itu tentunya akan berbeda persepsi pandangannya dengan yang hidup di tengah kota dan dikelilingin banyak swalayan dan supermarket. Itu sebuah keniscayaan dan sangat wajar 🙂

    • Gak selalu kok mas, masih banya nampaknya orang yang “idealis” yang masih bisa survive dengan prinsip yang dia pegang meskipun lingkungan dan sosialnya “beda”.

      Orang desa ke kota, atau orang kota di desa masih banyak juga yang berprinsip teguh 😀

      mungkin

  3. pasar di tempat saya juga masih kotor. nggak terlalu sih tapi kalau pas sampah di luar pasar nggak segera diambil itu, baru menyengsarakan.

    yang saya herankan, sivitas pasar itu kok ya sabarnya nggak habis-habis. sampah numpuk ya tetap jualan, jalan raya dibongkar pasang ya jualan, hujan ya jualan, lagi ada pasar malam ya tetep jualan.

    @diahdwiarti

    • sivitas itu apa yaa mbak ?? 😀

      Pernah nanya sih ke tetangga yang jualan di pasar tentang pertanyaan : kok ya sabarnya nggak habis-habis. sampah numpuk ya tetap jualan, jalan raya dibongkar pasang ya jualan, hujan ya jualan, lagi ada pasar malam ya tetep jualan.

      Jawabannya : yaa mau gimana lagi, kondisinya kaya gitu

  4. di penutup mengenai pasa ronline..

    di sini ada sebuah akun ig yang membuka usaha jasa belanja sayur mayur..
    jadi kita tinggal list mau belanja apa..
    ntar sayurnya diapain,ikannya dibersihkan gimana dipotong berapa tinggal bilang.

    ahahee

    @mutmuthea

  5. Emang sih, kebersihan penjual di pasar itu seringnya enggak sreg sama standar kebersihan kita. Pas baca yang berapa ratus sidik jari di barang yang kita beli, jadi geli sendiri. hehe

    Enggak asyiknya di pasar itu kalau beli daging-dagingan, remis atau ikan, wooo jorok buanget. Darahnya muncrat-muncrat kesana-sini. Tapi kalo aku sih ada langganan tukang dagingnya, jadi dia paham sendiri kalau buat aku dicuci lagi, motongnya juga pelan-pelan biar gak muncrat. Wkwk

    Tapi di Banjar pasar tradisionalnya asyik mas, bersih…kecuali blok daging sih.. :/
    @onlykharisma

  6. Tidak bentuk ada yang abadi.
    Pasar pada intinya bentuk, wahana atau platform untuk jual beli, bentuknya bisa berubah, pasar tradisional tergerus ya mungkin sekali, tergantung manusia2nya

  7. Di domisili tempat tinggal saya pasar tradisional umumnya masih suka becek dan banjir kalo hujan, adapun beberapa pasar tradisional yg di sulap lebih modern nyatanya malah menurunkan omset para pedagang.

    @siethi_nurjanah

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top