Menerka Arah Tinta

oleh

Diujung pertanyaan aku bergegas berlari ke warung kecil yang berjarak sepelemparan batu dari bangunan tempat aku berbincang panjang enam puluh menit terakhir tadi. Warung ini tidak terlalu ramai hanya ada dua-tiga orang lelaki muda yang usianya aku taksir lebih kurang samalah dengan usiaku sekarang dan ditambah ibu pemilik warung beserta asistennya. Sembari menunggu pesanan kopi datang aku kembali dibuat tersenyum dengan perbincangan di bangunan yang letaknya persis berada ditempatku duduk sekarang ini. Tentang apa ?? Jika benar kau ingin tahu mohon tunggu sebentar dulu, aku harus menghisap satu-dua batang rokok yang sudah kutahan sedari tadi lagipula kopi hitam ini sudah datang, terlalu sayang jika sampai harus kubiarkan dingin demi menjawab rasa keingintahuan kalian tentang perbincanganku dengan perempuan cantik itu.

“Emangnya apa rencana lu??”

Aku menengok ke arah samping dan kuperhatikan lelaki muda yang sekarang tinggal tersisa dua orang itu berdiskusi, sialan suara mereka kencang sekali. Aku yang merasa terganggu dengan suara mereka berniat pergi atau setidaknya pindah kebagian luar warung sebelum akhirnya dihentikan oleh butiran hujan yang mulai datang bergerombol banyak sekali. Astaga, aku terjebak, dikepung oleh derasnya hujan dan obrolan tidak penting dari lelaki muda bersuara keras. Aku mendengus, memanggil ibu pemilik warung memesan kopi kedua.

“Blog, kalau itu yang lu pengen, gue saranin lu bikin blog” si lelaki berkacamata tebal di meja sebalah menjawab dengan semangatnya meyakinkan si penanya untuk membuat sebuah blog. Aku yang tidak bisa kemana-mana karena hujan yang semakin deras diluar membuatku mau tak mau mendengarkan diskusi kedua orang itu, bukan, tentu saja aku tak bermaksud untuk mencuri dengar, mereka saja yang suaranya setara dengan toa mesjid di perumahan. Dari lima menit terakhir diskusi mereka aku mulai memahami alur pembicaraan keduanya si penanya lelaki berkepala plontos itu ingin membuat self image dalam jaringan menurut dia media sosial sudah terlalu jamak, dan blog ?? pilihan menarik.

Blog memang platform abadi keberadaannya tak tersentuh oleh kemewahan media sosial apapun. Maksudnya begini, semenjak Evan williams mengenalkan blogger kepada dunia konsep blog telah dilewati beberapa platform media sosial seperti friendster, multiply, facebook, twitter (meski lebih tepatnya disebut micro-blogging), path dan entah apalagi nanti ada kedepannya. Tetapi, ia tetap ada dan bahkan pengguna blog makin berlipat ganda terlebih blog sekarang bukan platform ekslusif seperti saat pertama kali dibuat, sekarang siapa saja bisa membuat blog, bahkan untuk mereka yang tak terbiasa menulis. Menulis blog bukan perkara bakat ini semata hanya tentang kemauan.

“Tapi gue ga bisa nulis” ucap si penanya berkepala plontos itu.

“Yaelah, santai aja bro, lu ga perlu jago nulis untuk posting di blog” si penjawab berkomentar “Lu cukup fokus di konten yang lu kuasain, lu jago gambar bikin blog konten gambar, lu jago photo bikin blog dengan konten photografi, jago maen game bikin blog dengan konten gaming, gampangnya bikin blog hobi, blog sesuai hobi” si penjawab menambahkan. Sialan, kenapa bahasan mereka menjadi begitu menarik. Dan pemikiran si penjawab kurang lebih sama dengan apa yang aku pikirkan.

Aku memang suka membaca blog, alasannya sederhana di era internet yang semakin berkembang pesat banyak sekali kualitas dan integritas tulisan yang dipangkas atau bahkan dihilangkan sama sekali demi sebuah reputasi. Media jurnalistik yang lebih gemar menulis judul berita fantastis ketimbang memastikan akurasi dari isi berita yang ditulis tersebut dan para penulis profesional yang boleh jadi mengesampingkan idealisme dan kejujurannya dalam menulis demi sebuah nilai jual dalam pasar maka tulisan didalam blog hadir sebagai oase di tengah padang pasir. Ia hadir dalam segala bentuk kejujuran ditulis apa adanya tergantung dari ekspresi si pemilik blog tersebut. Bisa saja suatu ketika kita menemukan tulisan satir yang menyinggung hal-hal sensitif yang tidak mungkin bisa kita temukan di media mainstream, atau tulisan galau oleh-oleh buah pemikiran penulis yang sedang patah hati, atau tulisan penuh semangat yang ditulis ketika misalnya tim sepakbola favorit penulis sedang menang atau setelah si penulis mendapat lotre mungkin, atau dalam bentuk apapun. Kecuali sedang mengikuti lomba atau ketika dibayar oleh suatu brand sebagai buzzer produk tulisan pada blog adalah tentang kejujuran, sesederhana itu mengapa saya suka sekali membaca blog.

“Ikut komunitas blog saja mas untuk latihan nulis” aku penasaran untuk ikut berkomentar ketika si penanya bersikukuh bahwa dia tidak berani untuk membuat blog hanya karena merasa tidak berbakat menulis. “Maaf dari tadi saya ikut menguping pembicaraan anda berdua, benar seperti yang mas, maaf siapa namanya??” aku bertanya dan memperkenalkan diri, belakangan kuketahui namanya si penanya adalah Naufal dan si penjawab bernama Daffa.

“Beberapa waktu kebelakang banyak sekali blog-blog yang isinya hanya seputar hobi, entahlah itu tentang traveling, kuliner, gaming atau apapun banyak sekali” aku berkata mantap seperti seorang pengamat blog saja.

“Mungkin tren seperti itu masih akan terjadi selama beberapa waktu kedepan, dan tidak usah takut mas saya pikir sebagian besar dari mereka pun tidak terlalu cakap dalam menulis tapi mereka cukup pede, bukan tulisan sebenarnya yang dicari di blog hobi” entah darimana asal ke-sok tahuan-ku siang ini, lihat muka kedua lelaki tadi nampaknya khidmat betul memperhatikan pernyataanku.

Tapi yang aku sampaikan memang seperti yang aku pikirkan belakangan ini, aku yang senang membaca sangat merasa terhibur ketika mengunjungi sebuah blog dengan olah bahasa yang baik, tetapi ketika yang aku kunjungi adalah blog dengan konten yang membahasakan hobi kecakapan tulisan tidak lagi menjadi prioritas utama, mereka sudah cukup bersusah payah untuk, misalnya, mengambil photo lalu kemudian mengunggahnya kedalam blog itu sudah sangat harus diapresiasi, atau blog tentang design dengan melihat olah hasil kreatifitas dalam portofolio para kreator itu sudah sangat menyenangkan. Kecuali memang jika konten utama suatu blog adalah sebuah cerita, narasi, esai atau jenis lain yang intinya adalah tentang kecakapan tulisan jangan harap aku sudi berlama-lama di blog yang tulisannya berantakan. Mata dan otakku butuh vitamin, aku tak mau mereka dirusak dengan tulisan berantakan. Dan jika ada blog hobi yang bisa menyuguhkan hobi dengan olah bahasa tulisan yang baik itu sudah menjadi jaminan bahwa aku akan berlangganan blog tersebut.

“Dengan mengikuti komunitas blogger mas Naufal secara sadar atau tidak akan mulai belajar mengikuti pola tulisan dari teman-teman blogger lain yang lebih dulu berkecimpung di dunia tulis menulis” aku melanjutkan nasihat sembarang.

“Dan biasanya komunitas blogger akan mendapatkan informasi lebih dulu jika ada undangan seminar blogger, pelatihan menulis atau mungkin tentang lomba blog. Mas Naufal bisa belajar lebih banyak disana”

Aku merasa belum cukup puas untuk meyakinkan lelaki yang kuketahui berasal dari Bandung ini untuk membuat blog. “Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa tahun dua ribu enam belas ini perkembangan blog akan semakin meningkat dan yang akan mendominasi adalah blog hobi, bukan blog dengan konten tulisan, percaya diri saja mas” aku sok akrab menepuk bahu lelaki itu mencoba menyemangati.

Diskusi tentang blog ini selesai setelah tiga-empat kalimat berikutnya. Si penanya merasa cukup yakin untuk membuat self image dirinya dalam sebuah blog. Tak lupa aku menyertakan alamat email dan alamat blogku jika kemudian dia ingin bertanya dan belajar lebih lanjut. Hujan memang masih deras diluar sana, tetapi kedua lelaki itu sudah berlari menerobos hujan setelah mengucap sepatah dua patah kata terimakasih atas nasehat kurang penting yang kuberikan. “Sudah dipanggil bos mas” itu yang mereka ucapkan sebelum pergi.

Aku baru ingat kalau tadi si penanya itu sempat membahas untuk menutup akun media sosialnya karena merasa bosan dengan postingan sampah yang banyak sekali beredar di media sosial belakangan ini. Yang lupa aku sampaikan adalah dia harus tetap mempertahankan media sosialnya karena bagaimanapun, disanalah tempat paling tepat untuk mempromosikan konten dan postingan yang dimiliki oleh para blogger.

socialmediawrite

“Kamu dimana??” isi dari pesan singkat yang baru saja kulihat di perangkat genggam yang sedari tadi tersimpan di saku celanaku. Tertulis The Future nama dari si pengirim pesan.

Aku menatap bangunan di depan warung kopi ini. Mengetik balasan pesan singkat, memasukan perangkat ke genggam ke tempatnya, lalu tersenyum membayangkan kemungkinan babak kedua perbincangan dengan si perempuan cantik di bangunan itu.

 Belum puas ?? Lanjutan cerita ini bisa anda lihat pada tautan berikut : Bermain dengan tinta

 

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

17 Comments

  1. Dan si wanita cantik pun datang. Eh, tapi sudah punya gandengan. Truk kali. Aku pikir ini perpaduan fiksi dan non fiksi yang asyik. Lanjutkan!

    @KMubarokah Grup B LBI

    • Terimakasih …

      Sebetulnya diskusi kedua orang + satu tambahan orang sok tahu itu kisah nyata yang saya alamin langsung kok 🙂
      Cuma jalan cerita dan pelakunya aja yang saya rubah

  2. Dari dulu masih bingun kalau ditanya blog aku itu blog apa, karena isinya gado-gado. kalau orang hobi jalan-jalan buat blog travel, hobi makan buat blog food, sedang aku? hmmm..

    @rin_mizsipoel

  3. tulisanku masih berantakan. itu sepertinya yang jadi pemicu kurang pengujung hihihi. perbaiki sambil berjalan deh 🙂

    cerpennya asik juga

    @gemaulani

  4. ooh bicara sama wanita. mas dialognya cair bener saya belum bisa buat dialog kaya gini huhunnmaaf baru komen soalnya baru nemu cara komen disinin@guru5seni8nhttp://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang
Go to Top