Kami (Tidak) Takut

oleh

Memang akan sangat membosankan ketika kita harus terus-terusan mendengar dan melihat hal yang sama berulang-ulang terlebih jika pengulangan itu dilakukan dalam waktu yang yang berdekatan. Tetapi, hanya karena kejadian luar biasa di Jakarta-lah yang membuat saya akan membuat pengecualian untuk mengabaikan rasa bosan ketika harus membicarakan hal yang telah dibicarakan banyak orang berulang-ulang.

Tragedi yang menewaskan tujuh orang korban jiwa itu memang telah usai, cerita ditutup dengan ditembak matinya tiga orang pelaku dan empat orang pelaku lain ditangkap. “Jakarta telah aman” sebut beberapa media dan juga petinggi Polri di konferensi pers, itu kabar baik, dengan berakhirnya teror yang diawali dengan ledakan bom di pusat kota Jakarta ini  setidaknya masyarakat Jakarta bisa kembali pulang sampai ke rumah dengan perasaan yang lebih tenang.

Berakhirnya teror tersebut tidak lantas membuat perasaan khawatir dan was-was untuk sebagian besar masyarakat Jakarta menjadi hilang. Ada efek traumatis yang membuat masyarakat Jakarta agak takut-takut untuk keluar rumah -setidaknya itu menurut pandangan saya terlebih untuk mereka masyarakat normal yang saat proses teror berlangsung berada di areal kejadian perkara. Pasca kejadian kemarin jalanan ibu kota menjadi lenggang (jika tidak bisa dibilang kosong) perjalanan pulang ke rumah yang biasanya memakan waktu dua sampai tiga jam kemarin dan hari ini satu jam lebih dari kantor sudah sampai di rumah, boleh jadi efek lanjutan dari rasa takut membuat masyarakat Jakarta atau mereka yang bekerja di ibukota lebih memilih untuk tidak keluar rumah sementara waktu.

Saya pribadi memiliki kekhawatiran dan rasa takut yang sama dengan orang normal kebanyakan. Memang areal perkantoran tempat saya bekerja di bilangan Jakarta barat cukup jauh dari lokasi kejadian, tetapi isu yang muncul yang menyebutkan bahwa si pelaku ‘kabur’ ke arah barat Jakarta sempat membuat saya dan banyak orang di sekitar saya yang merasa parno terlebih di areal perkantoran kami ada coffe shop yang juga menjadi target penyerangan teror di lokasi kejadian utama di ring satu kota Jakarta sana. Percaya atau tidak siang kemarin kantin di sekitar basement kantor menjadi luar biasa penuh kebanyakan penghuni gedung kantor berpikiran bahwa basement menjadi tempat yang mungkin paling aman saat itu.

Saya yakin banyak sekali manusia yang mengutuk tragedi Jakarta empat belas januari ini. Lagipula manusia mana yang suka melihat nyawa manusia lain direbut paksa dengan cara yang sangat-sangat biadab. Kecuali mungkin beberapa pemikir sempit sok tahu yang mencocok-cocokan dan memaksakan kehendak yang berkesimpulan bahwa tragedi ini adalah sebuah propaganda, pengalihan isu untuk kasus-kasus negara yang sedang memasuki tahap akhir kesimpulan. Tapi jikapun benar ini semua hanya sebuah skenario biadab yang dibuat iblis berkedok manusia, kita tetap tidak pantas untuk tidak berempati, tidak menghaturkan rasa duka dan malah menjadikan tragedi ini sebagai bahan canda. Ah, semoga di neraka nanti pelakunya mendapat siksa berupa bom khusus yang diciptakan langsung oleh Tuhan yang maha adil.

Selain mengekspresikan rasa takut sebagai dampak dari serangan teroris ini, ekspresi Jakarta dan isinya terbagi menjadi beberapa kubu. Ketimbang memberi kabar kepada keluarga di rumah yang jelas sekali akan khawatir, banyak dari mereka malah lebih asik berdebat bodoh tentang tagar apa yang harus dibuat di twitter, sungguh keluarga dirumah lebih memikirkan bagaimana kau pulang ketimbang topik yang paling banyak dibahas di dunia maya. Belum lagi orang-orang tidak berperasaan yang tega sekali mengirimkan foto korban secara vulgar di grup-grup pesan singkat dan sama kejamnya dengan orang meneruskan foto tadi ke grup lainnya. Saya sempat menegur cenderung kasar kepada teman yang mengirimkan foto-foto seperti itu. Kawan, banyak hal cara untuk kalian menghormati manusia lainnya, dengan tidak mengambil dan menyebarkan foto korban adalah salah satunya.

Di tengah meeting mingguan di kantor sore tadi, kami sangat menyayangkan setengah tidak percaya ketika melihat kumpulan foto yang diambil saat baku tembak antara pelaku dengan polisi di lokasi kejadian. Manusia tampak lebih memilih mencari bahan untuk diunggah di media sosialnya ketimbang bersembunyi mencari aman. Para ‘penonton’ yang berdesakan nampak tidak peduli dengan kemungkinan ada peluru nyasar menembus kepala mereka atau kemungkinan bom susulan yang bisa saja meluluhlantahkan anggota tubuh mereka. Saya malas untuk menyanjung keberanian manusia-manusia dengan lingkar otak sempit disana, sebaliknya saya merasa kasihan. Rasa ingin tahu yang begitu besar membuat mereka kehilangan akal sehat paling parah tempat kejadian perkara yang tanpa sengaja dirusak boleh jadi akan menyulitkan pihak kepolisian untuk mengusut habis kejadian ini.

Semoga ini yang terakhir.

kamitidaktakut

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*