Berlaku Adil Pada Mereka

oleh

Tuhan adalah perencana terbaik, kita semua akan sepakat untuk kalimat tersebut. Ketika menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya, Ia juga menitipkan banyak sekali rencana kepada manusia-manusia entah itu dalam bentuk mimpi, harapan, kemauan dan atau segala upaya yang bisa dilakukan oleh manusia. Tuhan yang maha baik sungguh sangat menyayangi umat-Nya dengan sangat banyak sekali cara. Dengan memberikan nikmat berupa rasa benci, rasa takut, rasa senang atau hal-hal yang bersifat fisik seperti harta adalah salah satu cara Tuhan menyayangi umat-Nya. Ah, dengan manusia dipercaya sebagai pemimpin di semesta yang Ia ciptakan saja itu sudah menjadi bukti nyata bahwa Tuhan adalah Maha penyayang.

Tetapi dalam beberapa kasus, Tuhan menunjukan rasa sayangnya dalam bentuk yang unik yang boleh jadi sangat sulit untuk diterima oleh mereka yang mendapatkan kasih sayang-Nya dalam cara ‘yang lain’. Rasa sayang yang dikemas dalam bentuk disabilitas.Apa itu disabilitas ?? Disabilitas merupakan suatu ketidakmampuan tubuh dalam melakukan suatu aktifitas atau kegiatan tertentu sebagaimana orang normal pada umumnya yang disebabkan oleh kondisi ketidakmampuan dalam hal fisiologis, psikologis dan kelainan struktur atau fungsi anatomi. Tempo hari orang awam mengenalnya dengan sebutan yang menurut saya lebih keji ‘penyandang cacat’ meski sekarang ini sebutan itu perlahan mulai jarang terdengar. Penyandang disabilitas menjadi istilah yang lebih manusiawi untuk diucap meski memiliki arti yang sama setidaknya melalui sedikit alih bahasa sebutan penyandang disabilitas sedikit lebih nyaman untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Penyandang disabilitas adalah manusia yang disayangi Tuhan dengan cara yang lain, mereka ini memiliki keterbatasan mental, fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam jangka waktu lama. Disabilitas bukan hanya sekedar masalah kesehatan, lebih dari itu disabilitas adalah fenomena yang kompleks. Disabilitas sendiri memiliki beberapa turunan dan sebagian besar dari itu memunculkan sebuah penghalang besar dalam penyampaian pesan antara penyandang disabilitas dengan lingkungan disekitarnya. Ya, komunikasi menjadi sebuah momok untuk para penyandang disabilitas dan atau bagi mereka yang berada di lingkarannya.

Beruntungnya, saat ini kita hidup pada zaman dimana teknologi sudah sangat-sangat berkembang. Mereka para penyandang disabilitas sekarang ini bisa berkomunikasi baik melalui komunikasi audio maupun visual. Contoh paling sederhana tentu saja telefon genggam, sebelum era telefon genggam para penyandang disabilitas fisik seperti (maaf) tunarungu dan tunawicara cukup sulit untuk melakukan komunikasi, memang waktu itu komunikasi bisa dilakukan melalui bahasa tubuh atau menulis pada secarik kertas, tapi bukankah itu merepotkan sekali ?? Dan tidak semua dari mereka mau dan bisa melakukan itu. Tapi, sekarang ini ber-terimakasih banyak-lah pada teknologi lewat telefon genggam dan pilihan pesan singkat yang teramat banyak para penyandang disabilitas fisik yang disebutkan diatas bisa berkomunikasi dengan baik bahkan untuk komunikasi jarak jauh sekalipun.

Bentuk disabilitas fisik yang lain adalah tunadaksa yang diklasifikasikan kedalam tipe D. Tunadaksa adalah disabilitas fisik yang berkaitan dengan bentuk tubuh yang tidak sempurna. Mereka boleh jadi bisa berkomunikasi dengan baik layaknya manusia normal, tetapi dengan kekurangan bentuk fisiknya seringkali membuat mereka merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi sosial. Banyak sekali guyonan biadab yang menyebutkan ‘lebih baik mati daripada cacat’ ketika ada sebuah kecelakaan yang menyebabkan korbannya mau tidak mau menjadi tunadaksa. Hidup adalah tentang bagaimana cara bersyukur, untuk apa kita berprasangka buruk sedang mereka yang menderita saja masih semangat untuk tetap bertahan hidup. Banyak sekali penyandang tunadaksa yang layak dijadikan inspirasi bahkan untuk manusia normal sekalipun. Silakan anda berdiri sejenak berikan tepuk tangan penuh penghargaan untuk mereka yang rela bertahan dalam cacian untuk segala keterbatasan fisik yang mereka miliki. Yang paling dikenal tentu saja manusia terpintar sejagat Stephen Hawking yang tunadaksa bahkan menderita disabilitas ganda dia itu… ah silakanlah cari sendiri bagaimana perjuangan dia untuk bertahan hidup. Sungguh keterbatasan fisiknya tak membatasi semangat hidupnya. Dan lagi dalam hal ini teknologi memiliki andil yang sangat besar.

Yang paling tidak bisa saya bayangkan adalah bagaimana memiliki segalanya tetapi hidup dalam dunia yang gelap. Betul, tunanetra adalah turunan terakhir dari disabilitas fisik. Saya pernah beberapa kali mencoba ‘memahami’ dan ‘belajar hidup’ dalam dunia gelap seperti misalnya menutup mata lama-lama dengan bantuan scarf, perban atau apapun yang cukup kuat untuk menyembunyikan dunia sebentar dari jarak pandang saya. Dan, hanya lima-sepuluh menit saya kuat dalam kondisi seperti itu. Bahkan kita semua mendongkol kesal ketika listrik mati di malam hari bukan?? Ini rahasia, ketika saya kecil dulu saya pernah menangis sejadi-jadinya melihat seorang kakek tua penyandang tunanetra yang berjualan sapu lidi keliling. Bisa anda bayangkan?? Saya tambahkan sedikit informasi untuk sampai dia area tempat saya tinggal dia menempuh jarak puluhan kilometer dengan hanya mengandalkan kaki tanpa alas dan dunia yang gelap meskipun matanya terbuka. Tongkat dan sentuhan fisik sejauh ini adalah substansi yang bisa membantu para penyandang tunanetra untuk berinteraksi dengan lingkungannya, semoga saja kedepannya ada teknologi yang bisa merusak tembok pembatas yang menghalangi penyandang tunanetra melihat keindahan semesta.

Saya sudah menyebutkannya diatas, berulang kali malah. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas saya percaya ada kasih sayang dan rencana Tuhan didalamnya. Mungkin salah satunya untuk membuat manusia yang normal menggunakan kepintarannya untuk membuat alat bantu yang bisa membuat mereka hidup seperti layaknya manusia normal yang sempurna secara fisik atau setidaknya membantuk aktivitas hidup keseharian penyandang disabilitas. Dan teknologi dan inovasi yang saya sebutkan diatas membuktikan rencana Tuhan berjalan dengan sangat baik.

Tetapi yang seringkali kita lupa, bahwa Tuhan tidak hanya memiliki satu rencana dan teknologi tadi bukanlah sebuah permasalahan inti dari rencana Tuhan.

Disabilitas bukan hanya sebuah bentuk lain dari kasih sayang untuk  para penyandang disabilitas, tetapi juga untuk menguji manusia yang terlahir, hidup dan mati dalam kondisi yang sangat sempurna untuk bisa memanusiakan manusia. Akui sajalah kita yang mendapatkan seluruh nikmat kehidupan dari Tuhan seringkali merasa terganggu dengan keberadaan para penyandang disabilitas atau bahkan dalam banyak kasus kita sampai tega untuk menghina kekurangan fisik mereka.

Padahal pada dasarnya, penyandang disabilitas membutuhkan intervensi agar bisa menjalankan hidup yang normal dan layak serta menjalankan fungsinya sebagai anggota masyarakat untuk hal ini bahasan diatas tentang inovasi dan perkembangan teknologi telah banyak membantu mereka. Namun di sisi lain yang jauh lebih penting daripada semua bahasan diatas penyandang disabilitas juga ingin diperlakukan adil sebagai individu yang setara, keingingan berpartisipasi secara mandiri dalam lingkaran sosial dan pandangan normal dari lingkungannya, bukan pandangan menghina atau padangan belas kasihan yang berlebihan.

Pertanyaan baru muncul, jika hal ini benar termasuk dalam bagian rencana Tuhan, untuk berlaku adil pada mereka, sanggupkah ??

 Disability

Catatan :

– Disabilitas sejatinya terbagi menjadi dua kategori inti : disabilitas fisik dan disabilitas mental.
– Yang tertulis pada bahasan ini hanya menyinggung tentang disabilitas fisik yang bukan diakibatkan proses penuaan.
– Menurut data WHO 1 dari 4 orang manusia berusia 60-69 tahun mengidap disabilitas, data pada infographis di atas sudah termasuk penyandang disabilitas usia 65-69 tahun.
– Karena satu dan banyak alasan pribadi mengenai disabilitas mental akan dibuat dalam bahasan terpisah *semoga terealisasi dalam waktu dekat*

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

15 Comments

  1. Mari berlaku adil kepada siapa pun. jangan memandang rendah, kasihan apalagi menghina. lebih baik saling membantu, perhatian dan peduli dengan lingkungan sekitar 🙂

  2. Teknologi memang sangat membantu kemudaha penyandang difabel, Mas.. Mulai dari smartphone yang semakin berkembang dan adanya aplikasi pendukung difabel di dalamnya.
    Btw, Mas, komennya masih 2 aja.. Mungkin karena pakai DisQus, jadi yang lain mungkin agak ribet. Hehehe. Salam 🙂

  3. Yeayyyyy…. kita kudu berlaku adil, karena adil itu memang mencerminkan Pancasila ya kan?

    Semangaaat buat semuaaa
    *komen girang pasca eksodusnya disqus hahahahaha*

    @nurulrahma
    bukanbocahbiasa(dot)com

    • Kemanusiaan yang adil dan beradab.

      Nah iyaa, perlu ditambahin kali yaa kalau penyandang disabilitas itu emang dilindungi sama negara.

      Hehehe, welcome back to convensional comment feature.

      Pas proses pengahapusan disqus barusan, ada beberapa komen yang masuk. Alhasil, komennya otomatis kehapus sebelum sempet di approve ke blog 🙂

  4. saya juga mau bilang horeee… maafkeun saya miskin info nih. kemarin-kemarin mau komen di pos sebelumnya mentok kena disqus.

    balik ke temaaa

    di tempat tinggal saya dulu ada penjual kerupuk tuna netra mas. saya pernah lihat beliau di situ lalu di sana dst. lha heran saya. subhanalloh ya. gimana kalau ditipu orang. tapi barangkali beliaunya ikhlas aja ya. rezeki ada yang atur.

  5. ga usah jauh-jauh.. dulu adikku terlahir dgn disabilitas. kakinya bengkok sehingga ga bisa berjalan..
    dulu saya benci punya adik ga bisa diajak main.. tapi skrg baru saya sadar klo perlakuan saya dulu salah 🙁

  6. Saya selalu kagum dengan penyandang disabilitas namun tetap semangat menjalani hidup
    Apalagi banyak yang membuahkan karya dan prestasi yang gemilang
    Tulisan bagus mas.
    Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya
Go to Top