Writer’s Block

oleh

Writer’s block kurang lebih artinya –menurut defisini pribadi adalah suatu kondisi dimana seorang penulis secara tiba-tiba mengalami kesulitan untuk mengembangkan rangkaian ide dan menerjemahkannya kedalam sebuah cerita didalam tulisan. Entah sudah berapa banyak ide yang datang ketika kita sedang ditengah perjalanan pulang dari tempat kerja, atau ketika sedang menatap kosong di ruangan meeting yang membosankan, atau ketika bersenandung kecil dengan guyuran air dingin di kamar mandi. Tapi seketika ide yang banyak itu terbuang hilang entah kemana saat kita benar-benar siap untuk menulis, di depan laptop misalnya. Ah, maaf, jika anda tidak sempat mengalami kejadian di atas, silakan anda ubah saja sendiri kata ganti orang “kita” dengan “saya”, karena memang, saya pribadi sering sekali mengalami writer’s block sialan itu.

Writer’s block adalah kondisi diluar kontrol manusia –dalam hal ini seorang penulis yang kehadirannya tidak diharapkan dan tidak bisa diprediksi, semestalah yang membuat itu terjadi. Atau boleh jadi sebetulnya writer’s block itu tidak ada?? Sifat malas manusia itu sendirilah yang membuat ide tulisan tidak bisa berkembang lalu kemudian mengkambing-hitamkan writer’s block sebagai biang keladi ketika konten blog tidak pernah bertambah atau dalam kasus yang lebih hebat ketika isi dari sebuah buku berhenti di bab kedua. Oh, anda tidak ?? Baiklah, ini lagi-lagi tentang saya yang sering mencaci maki keberadaan writer’s block ketika sarang laba-laba mulai memenuhi blog saya. Ini cerita tentang sifat malas saya yang lalu selanjutnya saya bersembunyi dibalik writer’s block yang tak pernah menuntut apa apa ketika disalahkan dan saya hadir sebagai sosok penulis suci yang tidak pernah kehilangan ide tulisan maupun kreatifitas, lalu jika kemudian saya tidak pernah menulis : maklumlah namanya juga kena serangan writer’s block.  

Begitulah, saya seringkali mendapatkan ide untuk menulis ketika sedang melakukan aktivitas seperti yang saya sebutkan di paragraf awal tulisan ini tadi. Ketika sedang diam menunggu –entah menunggu waktu meeting selesai, menunggu waktu pulang kerja, menunggu bus, menunggu bus sampai tujuan, menunggu isi kotoran keluar dari tempatnya atau apapun lah itu bentuknya otak kiri dan otak kanan bekerja sama begitu kompaknya membentuk sebuah draft naskah yang hebat (nampaknya) jika saya tuangkan kedalam sebuah tulisan. Tapi setibanya saya di rumah, ada saja yang membuat draft naskah hasil kerja kedua belah bagian otak itu menguap begitu saja. Jika writer’s block adalah kondisi dimana si penulis tidak mampu berbuat banyak setelah mulai menulis, maka untuk cerita setelah ini saya tidak akan sepenuhnya menyalahkan writer’s block karena dalam banyak kasus saya memang tidak sempat (jika terlalu naif untuk menyebutnya malas) untuk benar-benar menuangkan draft naskah tadi kedalam bentuk tulisan.

Ada banyak sekali penyebab saya dengan sengaja (atau mungkin juga tidak) membiarkan ide-ide itu pergi dari kepala sebelum saya sempat untuk menerjemahkannya kedalam bentuk susunan aksara, tapi diantara semua itu yang paling banyak terjadi adalah :

GAMES

Sedari kecil, hal yang membuat saya sering lupa waktu selain membaca komik Detektive Conan dan Dragon ball adalah bermain games (Ada pemaksaan pemilihan kata yang salah dalam kalimat ini, tapi saya yakin anda cukup pintar untuk mengerti frasa “bermain games” disini). Saya tak sempat menghitung berapa kali saya diteriaki dan dimarahi oleh orang tua saya akibat lupa waktu ketika asik bermain games tapi jikapun saya sempat menghitung tentunya saya tidak akan ingat yang jelas itu banyak sekali.

Dan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Apalagi sekarang ini, meskipun bermain seharian penuh orang tua saya tidak akan sempat marah dan berteriak. “Masa bodohlah, anak itu sudah dewasa. Mestinya tahu sendirilah mana yang harus dan tidak harus dilakukan” mungkin itu pikir kedua orang tua saya sekarang. Setelah saya puas dan lelah bermain games yang saya lakukan tentu saja tidur, mana sempat saya merangkai kata kedalam sebuah tulisan, besok kerja cuy !!! Oh, untuk kalian tertawakan. Selama kurang lebih sepuluh sampai lima belas tahun semenjak saya mendedikasikan diri sebagai penikmat games sungguh saya hanya membatasi diri kepada tiga permainan saja : Pro Evolution Soccer, FIFA dan Football Manager.

Membosankan sekali.

Gamers

INTERNET DAN SOCIAL MEDIA

Saya tentu saja membutuhkan koneksi internet untuk mengunggah tulisan saya kedalam blog. Tapi dalam banyak sekali kasus, internet jugalah yang seringkali membuat saya tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menunggah sebuah tulisan. Alih-alih menambah postingan pada blog, bahkan internet seringkali membuat saya batal menulis. Bukan karena koneksinya yang buruk tapi aktivitas didalam internet itulah yang membuat saya menunda atau bahkan membatalkan niat awal saya untuk menulis sebuah cerita atau narasi. Dan, social media mengambil porsi paling banyak. Padahal produktivitas saya untuk membuat sebuah cuitan di twitter atau mengemukakan apa yang saya pikirkan di facebook sudah jauh lebih menurun ketimbang beberapa tahun silam. Jika waktu itu saya bisa membuat lima sampai enam puluh tweet perhari, sekarang ini satu tweet satu hari saja belum tentu saya punya. Lalu apa yang saya lakukan disana?? Membaca. Ya, saya adalah penikmat setia linimasa. Dalam kondisi apapun ketika saya diberi sebuah koneksi internet yang pertama kali saya lakukan tentu saja membuka linimasa. Jika anda sering melakukan hal yang sama, tentu anda bisa maklum kenapa saya membuang waktu yang cukup lama dan menunda atau membatalkan keinginan saya untuk menulis.

Dan jika kedepannya hal ini terjadi lagi, yang bisa dan harus saya lakukan untuk kembali membuat atau melanjutkan tulisan adalah : mematikan wifi dan paket data di perangkat genggam. Sederhana, meskipun pada kenyataannya nanti belum tentu saya berani mematikan semua koneksi.

Social media

DIKSI DAN GAYA BAHASA

Hal yang sama yang ada pada dua alasan sebelumnya adalah membaca. Betul, saya suka sekali membaca dalam apapun itu bentuknya. Saya percaya betul sebagaimana pun membosankannya isi sebuah narasi atau cerita –terlebih yang tanpa gambar akan menjadi menarik jika dikemas dengan pemilihan kata, cara penyajian dan gaya bahasa yang baik. Tanpa diksi dan gaya bahasa Ada Apa Dengan Cinta tidak akan pernah menjadi legenda di ranah perfilman negeri ini, lagipula apa menariknya kisah cinta dua insan yang bertemu pertama kali di perpustakaan?? Penyajian bahasa dalam bentuk puisi dan percakapan antara Rangga dan Cinta-lah yang membuat cerita biasa itu menjadi fenomena. Setidaknya itu menurut anggapan pribadi saya.

Saya suka membaca, tapi saya tidak akan sudi berlama-lama diam di bacaan yang membosankan tata bahasanya. Jika anda pernah membaca mojok.co atau panditfootball.com anda pasti tahu penyebab kenapa kedua situs itu begitu menjadi begitu populer dan disukai mengalahkan situs-situs sejenis yang lebih dulu muncul. Sekali lagi, menurut anggapan saya pribadi itu dikarenakan mereka bisa menghadirkan berita biasa dengan cara penyajian dan gaya bahasa yang luar biasa. Setuju?? Saya tidak memaksa, tapi nampaknya begitulah adanya. Para pengunjung kedua situs tadi betah berlama-lama karena membaca subjek yang mereka suka dan ketahui dengan cara kemas yang menarik.

Oleh karena itu dengan segala keterbatasan dan kemampuan saya dalam menulis, saya ingin membuat pengunjung blog saya ini betah berlama-lama disini. Jika materi yang saya sajikan dirasa kurang menarik, setidaknya yang bisa dan ingin saya lakukan adalah memberikan kesan kepada para pembaca blog ini dengan gaya bahasa yang (mudah-mudahan) baik dan menarik. Ini adalah sebuah blunder nampaknya. Saya pernah berdiskudi dengan salah seorang penulis buku (yang sudah diterbitkan) dan beliau bercerita bahwasanya pemilihan diksi dan gaya bahasa dipaksakan untuk dibuat ketika baru memulai sebuah tulisan adalah sebuah kesalahan besar. Saya menyadarinya betul, demi menghadirkan gaya bahasa yang menarik dan pemilihan diksi yang tepat saya sering membuang-buang waktu dan cenderung menjurus kepada putus asa dan berakhir dengan dihapusnya semua isi tulisan karena saya anggap gaya bahasanya menjijikan dan tidak pantas untuk dibaca orang lain. Entah berapa banyak draft di drive server hostingan atau di harddisk laptop yang diabaikan dan dibuang karena saya menganggap mereka itu gagal melewati proses ini. Beliau –si penulis itu tadi menambahkan, sebaiknya pemilihan diksi dan gaya bahasa dilakukan ketika tulisan telah benar-benar memiliki kerangka atau bahkan sudah benar-benar selesai. Proses itu sebaiknya dilakukan pada tahap yang bernama koreksi dan revisi.

Sialnya, untuk saya pribadi proses ini sudah menjadi kebiasaan buruk yang susah sekali saya hilangkan.

diksi

NAUFAL DAFFA ADELMAR PUTRA PARTAKUSUMAH

Ini bukan sebuah aktivitas apalagi nama benda. Ia adalah seorang malaikat kecil hadiah dari kebaikan Tuhan yang baru lahir beberapa bulan lalu. Jika saya seharusnya mengutuk ketiga alasan sebelumnya yang membuat saya seringkali batal menulis. Demi menemani malaikat kecil itu bermain, belajar dan tumbuh saya rela menunda bahkan berhenti menulis sama sekali.

Sebaliknya, mungkin anak kecil itu akan menjadi sumber inspirasi dan tema utama di blog saya ini kedepannya. Tulisan, boleh jadi akan menjadi jalan pintas untuk saya yang tidak cukup berani berterus terang tentang rasa. Jika bisa saya lakukan, saat kelak anak kecil itu bisa membaca, saya ingin dia tahu bahwa sungguh saya teramat beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang ayah dari anak yang luar biasa.

naufaldaffa

Menulis memanglah bukan sebuah keharusan dalam hidup. Sunah saja bukan. Tetapi saya mulai benar-benar menyukainya. Dan, ketika kita bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal dari sesuatu yang kita sukai, bukankah itu menjadi benar-benar hal yang menyenangkan lagi membanggakan ???

Sumber featured imaged : www.whyimcray.com

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

19 Comments

  1. wah, kompleks sekali bahasannya mengenai writer block nya mas andhika.
    saya juga mengalami demikian banyak sekali hal hal yang membuat saya agak susah untuk menulis sebuah konten di blog saya. kadang butuh inspirasi dengan browsing di blog blog lain yang relevan dengan topik blog saya.
    nice info mas andhika

  2. Sama sih biasanya ngegame dulu, internetan, ditambah jailin kucing, baca novel/komik, belajar masak, berkebun dan gambar-gambar sesuka hati. Paling mentok yaa tidur, rehat dulu soal urusan tulis menulis 🙂

  3. Lha, efek ngantuk jadi salah bacanya nggak fokus. Kebalik 😀 Maaf mas maaf. Maksudnya kalau aku sih justru aktifitas itu aku lakukan terbalik ketika mengalami writers block. Biasanya kalau aku, alasan untuk tidak menulis adalah ketakutan dan menduga-duga. *Kalau begini bakal gimana ya? Ah takut di komentar jelek, ah takut gak bermanfaat dan alasan-alasan lainnya,

  4. Kalau saya pas lagi writer block ditinggalin dulu nulisnya, ganti jadi baca-baca buat cari inspirasi lagi. Atau jalan-jalan ke luar rumah biar segar lagi pikirannya, kalau dipaksain juga nulis malah jadi sakit kepala, hehe

  5. Sebenarnya, jika kita teliti lebih lanjut, writer’s block hanyalah alasan untuk kita tidak melanjutkan tulisan. Padahal pasti dan akan selalu ada sesuatu yang bisa dituliskan. Tipislah perbedaannya dengan malas. Menurut saya lho ya.

  6. wah saya telat bacanya yah 😀
    tapi ini tulisan bahas semua tentang write block deh..
    sepertinya semua penulis pernah mengalami hal ini..
    apalagi penulis pemula seperti saya. gak sering lagi tapi keseringan…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top