Collezio Inter

oleh

Collezio adalah sebuah bahasa italia yang jika diterjemahkan secara paksa kedalam Bahasa Indonesia memiliki arti ‘koleksi’. Dan Inter dalam bahasa semesta bola kerap diidentikan kepada sebuah tim sepakbola yang juga berasal dari italia. Jadi jika sekali lagi saya diizinkan untuk memaksakan bahasa terjemahan maka saya akan mengartikan Collezio Inter adalah koleksi inter. Lalu bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Nama bagaimanapun adalah sebuah tentang variasi yang banyak. Bisa saja ia tentang warna kulit seperti misalnya si hitam & si putih atau bisa saja suatu waktu ada yang dinamai si malas, si pintar, si rajin dan lain lain bergantung seperti apa sifat dari yang dinamai tersebut. Yang paling mulia, tentu saja nama yang digunakan sebagai doa seperti misalnya ketika saya menamai anak saya dengan nama Naufal Daffa yang secara bahasa kurang lebih artinya adalah : Lelaki tampan dan dermawan yang memiliki pertahanan diri yang kuat. Tapi, bisa saja kan nama tidak memiliki arti apa-apa –kosong hanya sebagai pembeda antara A dan B karena pada akhirnya nama akan menjadi sebuah identitas yang harus dijaga.

Lalu, kembali ke pertanyaan tadi bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Sebenarnya Collezio Inter hanyalah sebuah forum diskusi pada salah satu aplikasi pesan singkat. Tempat manusia-manusia yang banyak bicara kurang bekerja menghabiskan baterai perangkat genggamnya. Bebas saja kan jika mereka menamai diri sebagai Collezio Inter, seperti penjelasan akhir di paragraf sebelumnya bahwa mereka membutuhkan nama sebagai pembeda antara A atau B dan dalam hal ini sebuah nama tadi bertujuan untuk membedakan sebuah forum diskusi di aplikasi pesan singkat tersebut agar kelak tidak tertukar ketika sedang mengirimkan gambar dan kata-kata yang kurang pantas.

Tapi jikapun ada dari anda yang menganggap mereka –Collezio Inter sebagai kolektor (orang yang mengoleksi) sesuatu tentang Inter, ya, tidak ada salahnya juga, karena beberapa dari mereka memang pernah, sedang dan akan mengoleksi sesuatu tentang Inter khususnya koleksi jersey. Tapi, jika ada sebuah kasta dan tingkatan tertentu dalam kehidupan seorang kolektor, tolong tempatkanlah mereka itu pada kasta yang terendah. Ketahuilah, yang mereka incar dan mereka punya hanyalah jersey murah diskonan atau jersey mahal cicilan. Karena bagi mereka jersey hanya sebuah barang koleksi atau tentang kepuasan pribadi, bukan sebuah gengsi, sehingga menurut mereka tidak perlulah rasa-rasanya sampai harus mengorbankan harga diri. Dan, alih-alih menasbihkan diri sebagai kolektor murni yang senantiasa menyimpan jerseynya rapat-rapat dilemari tak perduli bagaiamana ukuran dan bentuk atau kondisi ekonomi saat itu, mereka lebih memilih istiqomah pada status kolektor abal-abal yang gemar sekali menukar jersey dengan jersey lain atau dengan beberapa lembar rupiah terlebih saat akhir bulan dan kondisi yang kepepet.

“The Greatest way to support our club from unreasonable distance”

Menjadi seorang supporter dari sebuah klub sepakbola adalah salah satu kebebasan pola pikir untuk menikmati hidup yang menyenangkan, lalu ketika harus dipaksakan untuk mengikuti kategori yang dibuat terpisah oleh kelompok lain tentunya adalah sebuah pemerkosaan pola pikir yang jahat. Dan jangan menjadi tersinggung dengan jargon di atas. Ia dibuat hanya sebagai frasa cantik pelengkap poster, tidak lebih. Karena mereka sadar betul mengkampanyekan pemikiran bahwa mengoleksi jersey –dan atribut orisinil lainnya sebagai bentuk dukungan terbaik untuk mendukung sebuah klub dari jarak jauh yang tidak masuk akal adalah sebuah omong kosong. Sama omong-kosongnya dengan sebuah bentuk kesombongan penunjukan identitas diri yang lain, seperti tanda pengenal misalnya.

Bicara tentang kebebasan pola pikir dan kebebasan dalam memilih, maka setiap individu yang memiliki jersey pun boleh memilih untuk mengacuhkan atau terlibat kedalam Collezio Inter. Untuk mereka yang memilih untuk mengacuhkan dan tidak menganggap Collezio Inter ada maka selesai urusan, tidak ada yang perlu dipikirkan.  Tetapi, jika individu itu memilih untuk terlibat dan sampai join dengan forum diskusi Collezio Inter maka akan muncul pilihan kedua. Yang pertama, segera keluar karena muak dengan hal-hal yang tidak penting : sangat sedikitnya pembahasan jersey,  bahasan abstrak tanpa tema yang tidak pernah mengenal waktu, drama murahan penghilang selera makan dan hal-hal menjijikan lainnya. Yang kedua, berterimakasih banyak atas ikatan luar biasa kuat yang terbentuk akibat segala ketidakpentingan yang ada di sana.

Dan mereka hari ini menginjak usia yang ketiga. Sebuah pencapaian luar biasa untuk sebuah wadah yang isinya berasal dari berbagai usia, sifat, watak, kesukuan, agama dan golongan sosial yang berbeda. Tak pernah mudah untuk bisa menyatukan pemikiran, gaya dan kehidupan sosial jika sudah berurusan dengan perbedaan kesukuan, agama, ras,  dan asal muasal. Tapi mereka membuktikan diri dengan segala variasi lingkar otak, banyaknya sudut pandang, gaya berbicara yang berbeda-beda serta sifat dan sikap yang memang tak mungkin sama, mereka tetap bisa melangkah berdampingan dengan langkah tegap. Dan untuk saya, ketika saya nanti bertemu dengan Tuhan, telah dipersilahkan untuk menjadi bagian dari mereka adalah salah satu ungkapan terimakasih yang akan saya haturkan .

Jersey, Inter dan koleksi hanya sebuah substansi untuk kami mendekatkan diri. Lebih dari itu, kami telah membuat sebuah konsep silaturahmi dengan cara kami sendiri.

Dengan segala canda tawa, semua tangis haru, toleransi dan empati yang ada didalam sana, sedikit lagi mungkin forum diskusi itu mendapat restu dari semesta untuk mengikat diri lebih kuat, dan sedikit lagi itu mungkin kami akan berani berteriak lantang : Kami adalah keluarga !!!  tanpa embel-embelan “cih” dibelakangnya.

Collezio Inter Anniversary

Collezio

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top