Rasa Yang Sama

oleh

Malam ini adalah malam kesekian untuk aku melakukan hal yang sama, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, mengantri demi sesuap sate. Tak perlu heran, sate adalah makanan favoritku –selain mie ayam tentu saja. Demi sate, aku rela untuk berkeliling kota berpindah dari satu tempat sate ke tempat yang lain. Seperti apapun itu tempatnya, untukku itu tak pernah menjadi soal. Asalkan sate itu adalah ayam dengan bumbu kacangnya, itu sudah menjadi alasan yang masuk akal untuk aku berkeliling tempat, entah itu harus menunggu manis di rumah makan kelas atas atau berdesak-desakan di abang sate pinggir jalan, sungguh, aku tak perduli.

Seperti malam ini misalnya, aku memutuskan membelinya di tempat ini, setelah sekian lama alpha. Terakhir kali aku makan disini, yang aku ingat rasanya enak sekali. Tak perlu waktu lama, aku segera memesan satu porsi sate ayam. Tapi, antrian yang begitu panjang membuatku –mau tak mau turun dari mobil untuk menunggu di salah satu kursi yang mereka disediakan. Di tempat itu sudah ada beberapa orang yang bernasib sama, menunggu. Lima menit pertama kuhabiskan memandangi para pembeli. Pasangan suami istri dengan dua anaknya yang masih duduk di atas motor yang baru saja mereka parkir, lucu sekali. Ada juga dua orang bapak yang asyik bercerita tentang entah apa, mungkin soal Persipura, soal politik atau hanya soal keluarga mereka. Ada seorang ibu yang kukira usianya tak jauh berbeda dengan usia ibuku, namun berpenampilan nyentrik dengan dandanan bak gadis berusia muda. Dan sepasang muda-mudi yang duduk manis tak jauh dariku. Lima menit pertama sudah habis, dan mereka yang terakhir itu lah, yang membuat aku masuk kedalam sebuah lamunan pada lima menit berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi.

Entahlah, apa nantinya ini menjadi lamunan yang menyenangkan atau malah menyedihkan. Tapi setidaknya untuk saat ini aku menemukan diriku tersenyum menikmati kenangan yang menari-nari dalam pikiran. Aku melamun untuk tempat ini, ketika menunggu sate pada malam hari jauh sebelum ini. Sama persis dengan apa yang aku lakukan sekarang ini, hanya saja saat itu ada kamu, alasan untuk aku bisa menunggu dalam senyum. Lucu sekali, aku yang tidak pernah pulang lebih dari jam sembilan malam melakukan sebuah pengecualian ketika malam itu, sembilan lewat tiga puluh menit, aku masih bersama kamu di tempat ini, menikmati sate berdua di pinggir jalan. Tentu saja dengan piring yang berbeda, aku tahu kita tidak sedangdut itu.

Aku tak tahu pasti apa malam itu kamu tahu tentang bagaimana perasaanku, perasaan yang bahkan sebenarnya tak pernah aku kehendaki ketika pertama kali mengenal kamu. Atau tentang pikiran abang penjual sate itu ?? Dengan semua yang kita bicarakan, dan bagaimana kita saling menatap, mungkin saja dia itu berpikiran bahwa kita adalah sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta yang datang ke warungnya untuk sebuah makan malam yang romantis, dengan sate. Nyatanya dia salah, atau aku yang terlalu berburuk sangka?? karena mungkin saja dia tak sempat repot-repot memperhatikan urusan kita. Tapi yang pasti, malam itu untuk pertama kalinya seporsi sate dengan harga dua puluh ribu memiliki nilai yang berbeda dengan rasa yang berlipat ganda. Bukan perkara bumbu kecap yang terlalu manis, sambal yang terlalu pedas atau ayam yang disate terlalu gosong. Itu semua tentang kamu, tentang kita berdua, saat kita masih menjadi “kita”.

Ah, terlalu klise mengatakan bahwa pengalaman pertama itu sudah dilupa. Tapi, bagaimanapun juga begitulah kenyataanya. Aku kembali ke tempat yang sama beratus malam setelah malam itu. Lihatlah, sate pesananku sudah datang. Abang penjual sate itu mengantarkan sate yang kupesan, aku membayarnya dan mengucapkan terimakasih sebelum pergi. Sengaja menghindar sebelum abang sate itu ingat pada seorang gadis yang untuk makan satu porsi sate membutuhkan waktu yang lama sekali. Sekembalinya di rumah, aku memindahkan sate yang kupesan tadi kedalam piring. Ada senyum dari bibirku ketika bungkus sate itu aku buka. Selanjutnya, seperti biasanya aku menikmati setiap kunyahnya. Aku terdiam, kemudian sebentar tersenyum. Ternyata sate itu rasanya sama. Malam itu saat bersama kamu, aku saja yang terlalu berlebihan.

Jadi, harus menyalahkan siapa ketika hari ini aku datang ke tempat yang sama, memesan makanan yang sama tapi rasa yang aku rasakan hari ini berbeda dengan sebelumnya saat aku datang bersama kamu?? Ingin menyalahkan kamu, tapi kok ya aku tak sampai hati. Atau mungkin aku sendirilah yang salah karena saat itu terlalu menikmati setiap tusuknya yang ditambahi bumbu dari kamu yang selalu tersenyum?? Ya, tak dapat aku pungkiri kamu dan senyummu membuat semuanya menjadi lebih baik. Melalui waktu bersama kamu membuat detik terasa begitu lambat namun sempurna. Bersama dengan kamu aku menjadi lengkap, bersamamu menjadi diri sendiri, bersamamu aku menjadi orang yang tidak egois dalam mencinta. Bersama kamu, ya, kamu.

Tak sanggup aku tulis lebih banyak lagi kalimat demi kalimat jika semua frasa yang tersusun hanya mengulang kata “bersamamu”. Semua nyaris sempurna dalam ingatan. Dari semenjak tangan yang menggemgam ketika menunggu sate itu datang di malam itu, sampai malam ini ketika abang penjual sate itu membalas ucapan terimakasih yang aku ucap tadi. Entahlah apa dia benar-benar mengingat aku, mungkin saja ingatan dia itu tidak cukup kuat karena banyaknya pelanggan yang silih berganti tiap hari, atau mungkin saja yang makan terlalu lama satu porsi sate itu bukan Cuma aku saja.

Namun, dengan begini, setelah lamunan malam ini. Satu hal yang yang melegakan yang aku sadari. Setidaknya, aku tidak pernah menjadi seorang pengecut yang tega mengubur semua kenangan yang telah lama usai. Terlebih, ketika kenangan harus tentang kamu.

Credit images : picturespider.com
Credit images : picturespider.com

PS : Abang Penjual Sate, terima kasih telah sudi menjadi orang yang bersaksi atas cerita yang tersampaikan malam ini.

A pharmacist who love Inter and her job. Feel blessed every second of my life.

6 Comments

  1. Wah-wah… Agak nyes-nyes hampir baper gitu bacanya. Dari abang sate, jadi inget kenangan. Tapi serius, ngebaca ini itu kek ikut dalam cerita. Sama kek lagi nonton video. Deskripsinya rapih dan gak buru-buru.

    Ditunggu cerpen selanjutnya. Kalo bisa yg ada sate sama bakso, ya. Biar ada varian rasanya.

  2. Ceritanya kok mirip banget sama kisah saya ya. Bedanya cuma di makanannya aja, aku dan “dia” suka banget makan mi ayam. Bisa keliling kota cuma nyari rasa yang berbeda dari mi ayam. Tapi saat putus, jadi nggak pengen lagi makan itu karena setiap makan itu pasti keinget dia. Haha..
    Salam kenal ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi
Go to Top