Langkah Selanjutnya

oleh

Saya suka membaca dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam membaca, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibaca, artikel menarik dari beberapa situs, dan linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Sedari kecil saya sempat dan masih mengoleksi bacaan fisik seperti novel, komik, tabloid dan beberapa potong koran. Saat saya masih belum terkontaminasi dampak negatif teknologi, mereka itulah yang menyita waktu saya. Kombinasi terbaik saat makan adalah : tangan kanan makanan dan tangan kiri buku. Entah berapa banyak buku yang sempat basah karena dibawa ke kamar mandi. Sekarang –meski tak seaktif dulu aktivitas itu masih suka saya lakukan. Ehm, maaf. Jadi bolehkan saya mengklaim­ kalau saya suka membaca ??

Saya suka menulis dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam menulis, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibalas, mengomentari artikel menarik dari beberapa situs, dan memenuhi linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Ehm, sebentar dulu. Contoh yang lain, apa ?? Menulis cerita di tabloid remaja ?? menulis puisi di surat kabar akhir pekan, menulis opini di situs-situs bertraffic tinggi ?? atau sekedar memenuhi blog dengan tulisan-tulisan entah apapun lah itu bentuknya ??

Mengingat kebeberapa waktu belakang. Sial, ternyata saya tak sesuka itu dalam menulis.

Jika semua tulisan boleh disebut sebagai karya, maka karya yang saya tulis pertama kali adalah sebuah puisi. Dan karya maksa bernama puisi itu saya gunakan untuk mendekati gebetan. Benar, saya terbawa suasana drama cinta remaja yang saat itu sangat populer. Entahlah berapa banyak kertas yang diuwek-uwek karena puisi yang ditulis tidak pernah bagus, entah berapa banyak frasa yang diperkosa demi mendapat kalimat puitis yang enak untuk dibaca. Ternyata untuk menjadi cowok keren seperti Rangga –nama pemeran di drama cinta tadi bukanlah perkara mudah, menulis puisi sebagus apapun tidaklah cukup, perlu faktor tambahan lain, rambut keriting misalnya. Ah, sayang sekali untuk perkara rambut saya cuma punya dua pilihan, panjang tak terurus atau cukur habis sama sekali. Tidak seperti puisi rangga yang dibaca hampir semua anak di satu sekolah, puisi saya hanya dibaca satu-dua orang saja itupun sudah termasuk menghitung saya -orang yang menulisnya, tapi jika sedang tidak beruntung, gebetan ternyata punya hobby bergosip, silakan tambahkan dua-tiga-empat temannya. Hanya itu.

Tapi itu tadi saat saya masih hidup di jaman analog sebelum Mark Zuckerberg membuat facebook. Beberapa tahun setelahnya, ketika facebook mulai besar (tapi belum banyak iklan jualan atau konten porno di lini masa) saya mulai menggunakan fitur catatan pada facebook. Beberapa kali, saya masih menulis puisi disana dan tidak ada perubahan, tetap tidak bagus. Ditambah dengan beberapa opini sesat dan review asal tentang pertandingan sepakbola, resmilah jika fitur catatan facebook menjadi media pertama dimana saya menulis di tempat umum. Dari beberapa ratus teman pada koneksi facebook saya setidaknya mungkin ada satu dua persen yang sempat membaca tulisan saya itu tadi, itupun jika mereka sudi melihat teks yang isinya hanya huruf kapital saja. Dear dewa tulisan, mohon maafkan saya yang pernah lancang seperti itu.

Tahun dua ribu sebelas adalah tahun dimana pertama kali saya menulis pada sebuah blog. Berawal dari linimasa twitter ketika beberapa teman sedang membahas tentang LDR (long distance relationship). Sebagai expertis LDR tentu saya penasaran untuk ikut berkomentar. Keterbatasan twitter yang hanya menyediakan tempat sebanyak 140 karakter membuat saya memilih untuk berkomentar pada catatan facebook (lagi). Tapi, untuk apa ?? Mereka yang sedang ramai di linimasa twitter tidak terhubung dalam pertemanan facebook. Setelah bergelut dengan google selama beberapa saat, maka lahirlah postingan pertama saya pada blog pribadi.

Adalah blogspot yang saat itu saya pilih dengan tagline yang cukup menjijikan Lika Liku Laki Laki Laku. Dear dewa tulisan, maafkan saya lagi untuk hal itu. Seperti lazimnya blogger pemula, alangkah produktifnya saya saat itu. Dua tiga postingan dalam kurun waktu satu minggu sih bukan perkara sulit. Isi tulisan ?? Jangan ditanya, kelak kita semua akan sepakat untuk menyalahkan Raditya Dika yang menjadi stereotip bahwa untuk menarik minat pembaca buatlah postingan yang lucu. Dan seperti itulah adanya yang dilakukan mayoritas blogger pemula, memaksakan untuk menulis cerita-cerita lucu, atau setidaknya menyisipkan unsur humor dalam setiap isi postingan.  Mungkin tidak akan terlalu menjadi masalah jika saya memiliki selera humor atau skill yang cukup baik untuk membuat orang tertawa. Tapi, jika anda memiliki kreativitas humor seperti saya –yang lebih rendah dari presenter Dashyat sebaiknya tidak usah memaksakan untuk menulis cerita lucu. Karena pada umumnya ketika ide tentang kelucuan itu habis, yang mungkin dilakukan adalah menertawakan atau menghina kelemahan orang lain. Jika tidak percaya, silahkan lihat acara televisi pagi dan malam hari. Sayang sekali jika pada akhirnya kesucian karya tulis harus dikotori dengan konten yang menghinakan.

Ah, tentu saja saya pernah berada dalam siklus tersebut.

Memang betul mayoritas isi tulisan saya adalah tentang hubungan jarak jauh tapi karena virus sialan itu, saya selalu mencoba memasukan unsur bercanda dalam setiap isi tulisan. Padahal bukankah dalam cinta kita tidak boleh bercanda?? Lagipula, cinta dan canda bukanlah padanan kata yang pas. Karena hal itu, isi otak saya yang terbatas kehabisan bahan bakar, saya tidak bisa menulis lagi.

Sebagai selingan, saya belajar membuat yang lain selain tulisan, namanya iseng-iseng wallpaper. Sebuah proyek penghilang jenuh dalam menulis. Jangan berharap hasilnya bagus, namanya juga iseng, sambil berharap ditengah kegiatan ini ada inspirasi menulis. Percuma, isi otak yang terbatas itu sudah terlalu terjerumus kedalam virus sialan tadi. Yang saya pikirkan bukanlah bagaimana saya harus menulis, tetapi saya malah memikiran terus-terusan bagaimana saya harus menulis tulisan yang lucu. Pada akhirnya, jumlah wallpaper yang dibuat jauh lebih banyak daripada jumlah tulisan, parahnya lagi postingan wallpaper sebanyak itu dibuat dalam interval waktu yang lebih sedikit. Benar, nampaknya saya memang tidak berbakat dalam menulis.

Saya termasuk orang yang mudah penasaran terhadap sesuatu, dan menulis adalah salah satu diantaranya. Saya memikirkan bagaimana caranya agar saya bisa rajin dalam menulis. Dan saya termasuk orang yang tidak mau rugi, maka cara yang terpikirkan untuk katalis dalam saya menulis adalah : uang. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memindahkan blog dari provider gratisan menjadi blog berbayar dengan harapan jika saya tidak menulis, maka setiap tahunnya saya akan kehilangan nominal yang lumayanlah untuk jatah makan tiga-empat minggu. Langkah berikutnya adalah membuang jauh-jauh virus mencoba lucu , saya bersepakat untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan unsur canda atau humor atau lucu-lucuan lain disetiap postingan saya nantinya, karena toh memang hidup itu tidak harus selalu lucu kan ??

Hingga akhirnya lahirlah blog andhikamppp.com sebuah blog yang diharapkan dapat membuat saya lebih aktif dalam menulis sembari melanjutkan keisengan saya dalam membuat wallpaper. Itulah kenapa saya memberi tagline dengan kalimat My Wallpaper Blog.Header sketch black

Berhasil, setelah andhikamppp.com dibuat saya bisa menulis tanpa harus terkontaminasi virus itu tadi. Meski hanya bertahan di tiga-empat tulisan saja. Karena berikutnya saya (lagi-lagi) lebih aktif dalam membuat wallpaper. Melenceng dari rencana semula yang ingin lebih fokus menulis. Meskipun harus diakui, sumbangsih postingan wallpaper itu cukup membantu traffic blog ini. Kabar baiknya, untuk pencapaian pribadi, wallpaper ini pun sedikit membantu saya dari sisi ekonomi. Meski nilainya tak seberapa, tapi lumayanlah untuk menambal biaya operasional tahunan paket hostingan. Sempat saya membuat beberapa postingan yang isinya melanjutkan tentang sebuah hubungan perasaan, atau sesekali jika sedang waras sekali dua saya menulis tentang hidup. Tapi itupun dalam jumlah yang terhitung jari, maka jika sedang tidak ada wallpaper yang dibuat, bisa hampir dipastikan blog ini menjelma bak sistem pemerintahan negeri ini, ada tapi tidak berguna.

Beruntung ada teman yang berbaik hati urun artikel di blog ini. Sesekali tulisan Raymond -seorang blogger dan musisi dari Papua menghiasi halaman blog ini dengan tulisan-tulisannya yang apik. Lain waktu Ichank -seorang die hard interista  yang mengisi kekosongan blog ini dengan tulisannya yang klasik dan elegan. Hebatnya kedua tulisan teman saya itu tadi pernah dimuat di salah satu portal sepakbola dalam negeri yang cukup ternama. Baru-baru ini tulisan salah satu diantaranya malah sempat dimuat di surat kabar salah satu daerah. Sebuah kehormatan untuk saya mereka bersedia membagi tulisannya disini. Hebat sekali mereka, sedangkan saya masih diam saja disitu. Ketika tulisan ini dibuat, usia blog ini genap dua tahun itu tidak menghitung usia blog di provider gratisan. Dalam periode waktu tersebut saya sendiri hampir tidak menunjukan kemajuan apa apa. Janganlah dulu bicarakan kualitas, toh kuantitas tulisan saya saja terbatas.

Jika hidup adalah proses pembelajaran, dan menulis menjadi salah satu dari sekian banyak proses belajar itu. Dengan saya masih diam di tempat setelah beberapa waktu semenjak saya mulai menulis, boleh jadi itu karena saya tidak pernah mau untuk belajar. Menyedihkan.

Menulis memang bukanlah satu-satunya perkara yang harus saya pikirkan atau saya lakukan. Tetapi untuk saya pribadi, menjadi penulis adalah cita-cita dan mimpi saya. Jika perkara seperti ini saja saya tidak bisa, lantas mau sebanyak apalagi saya bermimpi sia-sia ?? Faktor ‘tidak ada yang membaca’ seringkali menjadi momok menakutkan untuk saya dan mungkin untuk orang lain yang juga suka menulis, alasannya begini “untuk apa menulis jika tidak ada yang membaca ??” Padahal bukankah seharusnya tetap menulis saja. Biarkah sajalah jika tulisan yang dibuat tidak cukup menarik untuk orang lain membaca. Setidaknya ada kesenangan hati yang didapat ketika menulis. Dan, boleh jadi menghargai dan menyenangi apa yang telah dilakukan oleh diri sendiri adalah bentuk apresiasi yang paling tulus dan beradab.

Lagipula, jika menjadi seorang penulis adalah sebuah tujuan, seharusnya saya sadar bahwa tujuan tidak bisa dicapai melalui kebetulan belaka, ia harus didekati dengan semangat dan dilakukan dengan melangkah. Jika diam saja ditempat, maka diam sajalah tak perlu capek-capek bermimpi kemana-mana.

Ketika tulisan ini dibuat , usia blog ini genap dua tahun. Banyak terimakasih untuk mereka yang berkenan diam berlama-lama membuang waktunya disini. Ketika tulisan ini dibuat , usia blog ini genap dua tahun. Mohon maaf jika tidak ada sama sekali manfaat yang bisa diambil ketika anda bermain disini.

Kali ini mungkin sudah saatnya saya benar-benar harus melangkah mendekati tujuan. Atau diam saja, tidak perlu kemana-mana.

Doakanlah, untuk langkah selanjutnya.

Header Web 2015

P.S :

Ehm, maaf, dengan menyertakan atau mengabaikan segala omong kosong diatas, Jadi bolehkah saya mengklaim­ kalau saya suka menulis ??

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

10 Comments

  1. Buku di tangan kiri, makanan di tangan kanan. Kebiasaan orang yang suka baca kali ya?
    Eniwei, happy 2nd bday for your blog. Semoga blog ini selalu dipenuhi tulisan2 yang menginspirasi,menghibur,dan semoga suatu saat tulisan saya bisa ikut mejeng disini..ahahhaa..sukses terus kak ucha buat nulisnya. I wanna buy a book with your name as the author 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya
Go to Top