Carta a Los Amigos Javier Zanetti

oleh

Kursi kayu sederhana aku duduki saat tulisan ini aku rangkai. Jika biasanya aku mengetik buah pikiran ku dengan komputer, kali ini aku memilih menulis dengan tangan ku sendiri. Cerutu yang sedari tadi ku nikmati tetap menyala di iringi hembusan angin pedalaman hutan Chiapas. Entah sudah horchata gelas ke berapa ku tenggak demi kesegaran di tenggorokanku. Tidak ada belitan amunisi laras panjang AK-47 otomatis di leher ku dan ketiadaan pasukan pengawal di sekitarku menandakan aku sedang duduk nyaman di tempat aman ketika menulis ini, termasuk ketika aku memutuskan melepas balaclava favorit ku untuk sejenak.

Ini bulan ke 8 yang berarti bulan yang spesial untuk mu kawan. 42 tahun yang lalu kau lahir di sebuah kota tua bernama Buenos Aires di Argentina. Masa kecil mu yang banyak kau habiskan di kawasan distrik Dock Sud tentu memiliki kondisi yang lebih baik ketimbang masa kecilku dahulu di kawasan Meksiko tengah. Ayah ku yang dulu bekerja sebagai guru desa membuat aku mengenal dunia lewat bacaan. Aku tidak mengenal dunia lewat siaran berita melainkan lewat novel, essai atau potongan potongan sajak. Buku karya Garcia Marquez, Fuentes, Monsivais hingga Vargas Llosa menemani ku melewati masa kecil ku hingga kemudian di sekolah menengah aku mulai membaca tentang Hitler, Marx, Lenin, Mussolini dan banyak buku ilmu politik secara umum lain nya.

Di bulan Agustus ini pula jika aku tidak keliru, adalah bulan dimana untuk pertama kali nya kau melakukan debut pertama mu di sebuah klub lokal bernama Talleres. 22 Agustus 1992 tepatnya dan tolong koreksi aku jika aku salah. Di musim pertama mu itu kau mampu bermain 33 kali dan menyumbang 1 gol. Catatan yang cukup baik untuk seorang pemain debutan di usia mu yang baru 19 tahun. Banfield selanjutnya menjadi klub yang kau bela setelah semusim kau bermain di Talleres. 12 September 1993 kau bermain pertama kali nya untuk Banfield saat menghadapi River Plate. Gol pertama mu untuk Banfield lahir 17 hari kemudian ketika melawan Newell’s Old Boys. Ah, aku rupanya tidak terlalu buruk untuk merunut lagi kisah di awal karier mu kawan. Kisah awal karier yang akhirnya membentuk mu menjadi seorang pemain besar di kemudian hari.

1 Januari 1994 jika kau tahu kawan, Presiden Salinas yang merupakan presiden negaraku menyetujui dan menandatangani kebijakan NAFTA ( North America Free Trade Agreement ) yang mulai di berlakukan di Kanada, Amerika Serikat dan negara tercintaku Meksiko. Kebijakan yang menurutku harus di lawan karena merampas hak hak masyarakat adat lewat proses globalisasi ekonomi neo liberal. Aku dan kaumku yang bernama EZLN ( Ejercito Zapatista Liberacion Nacional )  yang di isi suku Indian Maya dengan populasi yang banyak dan hidup di bawah garis kemiskinan mulai bergerak. Mereka memang kumuh, namun mereka terorganisir dengan baik dan efisien. Gerakan memberontak yang di awali dari daerah ku sendiri.  Hari itu, aku dan EZLN menyerbu San Cristobal de la Casas yang merupakan kantor balaikota Chiapas untuk memberitahu dunia jika perlawanan rezim neo liberalisme di Meksiko sudah dan akan terus berjalan. Kota Chiapas berhasil di kuasai oleh ku dan EZLN. Militer menaruh dendam dan memukul mundur pasukan ku dan mengambil alih lagi kota Chiapas dengan sebuah pertempuran yang akhirnya memakan banyak korban. Aku melihat sedikit kesamaan di awal karir ku dan karir mu kawan, jika kau tidak menyerah dan terus bermain sepakbola meski sempat di tolak bermain di Independiente maka aku pun tidak menyerah pada sebuah kebijakan yang menurutku tidak tepat untuk kaum minoritas masyarakat adat di negaraku.

Aku masih ingat betul 20 tahun lalu ketika kau pertama kali datang ke Eropa dan menandatangani kontrak dengan klub besar di Italia. Kau menjadi rekrutan pertama dari rezim presiden baru klub tersebut yang punya ambisi besar menjadikan klub nya sebagai klub hebat di Eropa bahkan dunia. Di bulan Agustus juga kau melakukan debut untuk klub baru mu itu saat melawan Vicenza pada 27 Agustus 1995. Aku lupa kapan pertama kali nya kau mencetak gol untuk Inter, tapi aku ingat betul gol indah mu di final Piala Uefa 1998. Cerutu di mulutku kala itu nyaris terlempar ketika sepakan dari luar kotak penalti menghujam deras ke sudut gawang lawan. Dari ekspresi selebrasi gol mu itu, aku bisa melihat betapa kau menikmati karier mu di Inter dan tidak akan jadi hal yang aneh jika nanti kau pensiun di sana.

Ketika banyak kelompok pemberontakan di identikan dengan serangan serangan bersenjata, aku dan EZLN memilih memberontak dengan cara lain. Las Margaritas, Altamirano, Rancho Nuevo, Chanal, Ocosingo hingga San Cristobal memang pernah di serang dan di duduki oleh EZLN di bawah komandoku, namun sesungguhnya, aku lebih suka memilih menyerang dengan tulisan berisi kritik ku terhadap neo liberalisme. Durito yang merupakan cerpen buatan ku yang ternyata mendapat respon beragam dari banyak kalangan adalah 1 dari banyaknya “senjata” perlawanan yang terus aku lancarkan. Media mulai memberitakan soal perlawanan ku dan menyebutku sebagai titisan Emiliano Zapata yang merupakan pemimpin revolusioner petani Meksiko di masa terdahulu. Ah, aku sama sekali tak merasa senang dengan pemberitaan itu. Aku adalah aku dan Zapata tetaplah Zapata yang hebat dan tetap ku jadikan pahlawan idolaku. Dan menurutku, dunia sepakbola mu kawan, seharusnya juga tidak perlu di hiasi dengan pemberitaan soal akan lahir nya pemain titisan legenda siapapun ketika seorang pemain muda berbakat muncul.

Menurut sepengetahuanku, di karier panjang mu di sepakbola Italia, sudah 17 pelatih pernah menangani mu dan bekerja sama denganmu. Dari mulai pelatih asal Inggris yang tampang nya mirip pialang saham, dari pelatih Italia yang tak punya rambut hitam di kepalanya, dari Argentina yang selalu menepuk dada mu sebelum bermain, hingga pelatih eks pemain yang selebrasi nya ketika tim mu mencetak gol jauh lebih enak di lihat ketimbang formasi nya di atas lapangan. Jika kau kawan, aku suruh memilih pelatih mana yang paling berkesan buatmu, aku bisa menebak bahwa pelatih asal Portugal lah yang akan kau sebutkan namanya. Ya, sebagai kawanmu, aku pun menikmati dan ikut bahagia di masa masa yang kau lalui saat bekerja sama dengan pelatih asal Portugal itu. Meski posisi mu di tim di ubah oleh nya, namun keputusan itu seperti sengaja di ambil untuk memaksimalkan potensi hebat lain dari diri mu kawan. Di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu pun, kau berhasil mewujudkan impian klubmu itu dan jutaan penggemarnya. Kau sukses menjadi kapten pertama non-Italia yang mengangkat tiga piala bergengsi di musim yang sama. Ah luar biasa sekali kawan !!!! Tanganmu tidak kelelahan kan mengangkat tiga piala berbeda dalam jarak waktu yang berdekatan?

Adioz Zanetti

Aku tidak pernah berharap dan memimpikan memiliki kepopularitasan setenar dirimu, meski jika kau nanti berkunjung ke Meksiko, kau bisa mendapati banyak souvenir bergambar diriku atau pasukanku dalam bentuk tshirt, kalung hingga balaclava. Di negara ku ini, pemberontak identik dengan sebutan pengacau bahkan di cap komunis. Padahal, aku dan gerakan Zapatista ku ini sama sekali tidak bertujuan untuk merebut kekuasaan. Aku dan EZLN tidak butuh itu. Aku dan EZLN tidak butuh uang. Aku dan gerakan Zapatistaku ini hanya menginginkan tanah milik masyarakat adat asli Indian Maya kembali. Tanah yang mereka miliki turun temurun dari leluhur mereka, tanah yang bisa di olah dengan bebas sebelum para ganaderos (tuan tanah) datang dan merebutnya dari kami dengan topeng neoliberalisme dan bermaksud mengeruk keuntungan sebanyak banyaknya dengan mengorbankan keberadaan kaum masyarakat adat setempat. Perlawanan keras ku yang ku tuangkan lewat tulisan kritik kritik pedas, agar semakin banyak orang tahu bahwa masyarakat adat dimanapun itu tidak layak termarjinalkan keberadaan nya. Negara juga harusnya melindungi segenap rakyat nya tanpa terkecuali dan aku tak ingin negara tercintaku ini jatuh makin dalam ke lembah hitam buatan berandal perlente pemilik modal agar kepentingan semua pihak termasuk masyarakat adat bisa terpenuhi.

Deru desing peluru mulai terdengar di kejauhan sejak beberapa saat lalu. Militer sepertinya sudah berhasil menemukan lokasi ku dan pasukan EZLN ku. Tenang saja kawan, hal seperti ini sudah kerapkali terjadi dan aku alami hingga membuat aku tetap tenang setenang diri mu menghadapi perilaku bengal Balotelli yang kesohor hingga ke negaraku karena kebodohan kebodohan nya ketimbang prestasi nya. Setelah pensiun, kau sekarang terlihat sibuk menikmati peran mu di luar lapangan masih dengan klub yang sama yaitu Inter, gila…!!! Kau benar benar pria yang setia. Aku mungkin perlu berbincang dengan Paula de la Fuentes untuk bisa tahu hal hal luar biasa apa lagi yang kau lakukan sebagai sosok seorang suami dan ayah.

Jika dahulu aku membaca ” Matinya Artemio Cruz ” untuk mengetahui tentang apa yang terjadi dengan revolusi dan ” Diaz de Guardar ” tentang apa yang terjadi dengan kelas menengah, maka aku harus membaca ” 757 Record di Fedelta, I Giorni di Zanetti ”  untuk belajar tekun dan berdedikasi untuk apa yang di cintai. Oh iya, aku ingat akan satu hal, yaitu penampilan ke 100 mu untuk tim nasional Argentina kau lakoni kala menghadapi negara tercintaku Meksiko di Piala Konfederasi 25 Juni 2005 lalu. Beberapa hal di dunia ini terjadi bukan karena kebetulan meski saat hal itu terjadi kita menganggapnya hanya sebagai sebuah kebetulan semata.

Desing peluru makin terdengar tajam di telinga ku kawan. Aku harus segera pergi dan menyudahi surat ini. Aku dan pasukan ku harus cepat berpindah masuk makin jauh ke pedalaman hutan untuk menyelamatkan diri. Aku tidak takut mati, toh jika aku mati tak banyak yang akan tahu siapa aku sebenarnya. Balaclava dan semua aksesoris yang melekat di tubuh dan pasukanku hanyalah simbol. Simbol perlawanan yang apabila eksistensinya di redam atau bahkan di matikan maka pemberontakannya akan terus hidup karena tidak bergantung pada satu orang, melainkan keputusan bersama. Siapapun bisa menutup wajah nya dengan balaclava hitam ini dan mengatasnamakan sebagai diriku dan itu tidaklah masalah selama semangat perlawanan nya seperti diriku. Hal itu lah yang mungkin membedakan aku dan diri mu kawan. Siapapun bisa menjadi aku, namun aku yakin tidak akan ada pemain sepakbola lain seperti dirimu, mendekati pun tidak.

Sebelum rentetan kata ini ku akhiri, izinkan mulutku yang masih tanpa balaclava ini berucap, Feliz Cumpleanos Amigo Javier Adelmar Zanetti… Zapatista siempre admirado.

— Saludo —

Subcommandante Marcos

Subcommandante Marcos

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top