Anomali Totti

oleh

Saat tulisan ini muncul di layar gadget anda, Steven Gerrard mungkin sedang berlari lari kecil di Stub Hub Center California bersama Robbie Keane di bawah arahan Bruce Arena. Gerrard adalah satu dari beberapa nama yang akhirnya memutuskan meninggalkan panggung sepakbola Eropa. Silau nya lampu sorot di benua biru tak lagi di rasa nyaman hingga akhir nya Amerika menjadi tujuan selanjutnya. Hasrat Gerrard untuk bisa menjadi juara Liga Inggris mungkin masih menyala meski dengan cahaya yang temaram bahkan nyaris mati. Maka tak ada yang salah juga ketika seorang Steven Gerrard memilih merumput di MLS agar lebih menikmati hidup nya sebagai pemain sepakbola yang tetap di bayar mahal namun dengan tekanan yang jauh lebih ringan.

Apakah Gerrard pengecut? Apakah Gerrard layak di labeli pecundang yang memilih meninggalkan medan perang nya sebelum ia benar benar gugur dalam pertempuran nya? Saya pribadi tak sesinis itu menilai keputusan Gerrard. Di usia nya yg tak lagi muda Gerrard hanya ingin terus bermain dengan tekanan yang tak melulu memaksanya lelah secara fisik dan pikiran. Gerrard butuh kenyamanan yang bisa melahirkan kebahagiaan dan Gerrard tahu betul kebahagiaan nya harus ia ciptakan sendiri meski itu harus membuatnya pergi dari kota yang ia cintai.

Ribuan kilometer dari negeri Paman Sam, tepatnya di Trigoria di selatan kota Roma, seorang pria asli ibukota Italia terlihat serius berlatih bersama tim nya dengan kaus kaki yang tak pernah mencapai lutut. Ya, Francesco Totti masih menjalani aktivitas rutin nya sebagai pesepakbola no 1 di kota Roma meski usia nya sudah 39 tahun. Ia tidak hanya seorang kapten yang memimpin tim AS Roma setiap musim nya karena sudah menjadi rahasia umum jika seorang Francesco Totti adalah simbol kota bersejarah Roma yang kharisma nya bahkan melebihi kehadiran Paus di kota itu. Saya tidak ingin mengkomparasikan jumlah gelar pribadi Totti ataupun yang di raih bersama klub nya dengan nama nama besar lain yang juga loyal terhadap satu klub seperti Maldini, Puyol,  hingga Ryan Giggs.

Nama seorang Francesco Totti layak di bahas tanpa embel embel jumlah gelar, toh Totti yg lahir, tumbuh dan besar di ibukota itu pun di awal karier sepakbola nya hanya memiliki 2 mimpi sederhana dan Totti memperjuangkan nya dengan sungguh sungguh. Mimpi pertama dari Totti muda ialah Real Madrid yang sarat dengan kemegahan serta hingar bingar dunia sepakbola. Sedangkan mimpi nya yang kedua yang tidak kalah indah ialah, Totti muda ingin menjadi seperti Giuseppe Giannini yg merupakan kapten sekaligus ikon kota Roma di awal 90an. Jika impian Totti muda yang pertama terwujud mungkin akan membuat Totti mempunyai catatan banyak gelar yang mentereng, namun semenjak 18 Maret 1993 Totti seolah sudah memutuskan impian mana yang akan ia perjuangkan dan ia wujudkan.

Hari itu ialah hari dimana untuk pertama kali nya Totti bermain untuk tim senior As Roma. Totti di turunkan sebagai pemain pengganti oleh Vujadin Boskov, pelatih Roma saat itu, kala menghadapi Brescia. Hari itu pula lah untuk pertama kali nya Totti merasakan berada satu lapangan dan bermain bersama idola nya yaitu Giuseppe Giannini. Terwujudnya mimpi kedua dari seorang Totti muda di mulai sejak hari itu. Tuhan pun seolah mengiyakan doa Totti dan memuluskan jalan dengan menghadirkan sosok Carlo Mazzone di awal karier Francesco Totti. Mazzone lah yang memoles dan membentuk karakter serta gaya main Totti yang membuat nya di beri gelar seorang “Fantasista”. Kecerdasan nya saat menguasai bola di sertai pemahaman soal ruang yang membuat nya tidak bingung akan di apakan bola ketika berada di kaki nya benar benar membuat membuat banyak pengamat berdecak kagum sejak awal kemunculan nya. Sentuhan pertama Totti ketika menerima bola tak ubahnya sebuah karya agung seniman yang menghanyutkan dan memberi kesan elegan.

Sejak debutnya pertama kali, penggemar sepakbola Italia selalu di buat kagum akan kehadiran seorang pemain yang mampu bermain baik sebagai trequatista, namun label “Fantasista” yang melekat dalam diri Totti jelas lebih layak di jejali puja puji  kehadiran dan peran nya ketimbang trequatista itu sendiri. Trequatista yang menonjolkan area bermain free role seorang pemain di belakang striker sekilas terlihat mirip dengan apa yang Totti tampilkan selama mengenakan seragam AS Roma. Namun Totti menyempurnakan peran dan cara main itu dengan membubuhi sentuhan magis penuh imajinasi dan fantasi. Del Piero -yang juga satu angkatan dengan Totti oleh banyak pengamat layak di labeli “Fantasista” namun peran Del Piero di beberapa tahun terakhir nya di Italia lebih condong sebagai playmaker bagi striker di depan nya. Suatu hal yang tidak pernah dan ogah Totti lakukan karena sekalipun As Roma turun dengan seorang striker murni, Totti tetap berada di garis penyerangan terdepan dan dalam sekejap bisa berpindah posisi ke area lain untuk berkreasi sesuai fantasi nya, sesuai imajinasi nya.

FrancescoTotti

Trequatista seperti punya tugas khusus untuk menjadi kreator permainan dan di saat yang sama juga seolah punya kewajiban untuk melayani para striker atau pemain lainnya. Totti tidak terkekang oleh pola main baku trequatista yang seperti itu, Totti memilih dan memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan ketika berada di atas lapangan. Ia bisa memberi umpan matang dalam situasi apapun tanpa terlihat jika ia sedang melayani para pemain depan, karena sentuhan magis Totti berada di level tersendiri yang bahkan tidak akan pernah di capai oleh Del Piero hingga Andrea Pirlo. Anda melihat kecenderungan sifat antagonis plus egoistis dalam peran dan pola main Tottti selama ini? Itu adalah tampilan yang memang ingin Totti perlihatkan pada semua pecinta sepakbola, karena sudah menjadi kodrat nya bendera akan terus berkibar di atas mahluk lain yang berbaris seraya memberi hormat dan Totti adalah bendera dari sebuah klub bahkan sebuah kota di Italia. Anda pasti sudah bosan banyak media membuat berita heboh soal kemunculan The New Zidane, The New Ronaldo hingga The New Maradona, tapi berapa kali kah dalam hidup anda hingga sampai saat ini membaca atau mendengar soal kemunculan The New Totti? Rasa-rasanya dalam satu-dua dekade kedepan, Totti tak akan bereinkarnasi. Totti adalah anomali, sangat sulit mencari pemain muda dengan tipikal dan gaya main seperti Totti, Fantasista spesies langka yang terancam punah.

Musim baru 2015-2016 yang akan segera bergulir kembali siap di arungi Totti dan tim nya. Pertanyaan kapan Totti akan pensiun seringkali terlontar dari berbagai pihak. Saya pribadi yakin jika Totti tidak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Toh pada kenyataan nya, Totti masih terlihat jelas bahwa ia masih menikmati setiap menit kehadirannya untuk menari bersama bola di tengah lapangan melawan tim manapun. Entah As Roma dan dirinya bermain baik atau buruk yang berimbas pada hasil pertandingan, Totti tetaplah Totti yang bermain dengan segala kemampuan nya dan tetap rutin mempertontonkan kejeniusan diri nya. Totti bagi saya pribadi adalah adalah sosok nyata sifat “Amor Fati” yang tercetus dari filsuf Prusia, Friedrich Wilhelm Nietzsche. Amor Fati seperti kata Nietzsche adalah bagaimana dengan sungguh sungguh menghidupi kehidupan. Hidup dan karir panjang sepakbola Totti di laluinya dengan gagah berani dan menghadapi semua resiko dengan jantan. Meraih sedikit gelar dengan klubnya dan mungkin tidak akan pernah berdiri di podium untuk memberikan sepatah dua patah kata sebagai peraih Ballon D’ Or, Totti tetap mencintai takdirnya dan terus menunjukan ketegaran berbalut optimisme untuk klub dan kota yang ia cintai. Totti tidak pernah terpikir untuk mengepak koper dan terbang ke benua lain demi mencari kenikmatan dan kenyamanan bermain. Kota Roma adalah kebahagiaan Totti yang abadi. Puja puji untuk Totti di kota itu bahkan bisa ratusan kali lipat banyak nya dari koin yang telah terlempar ke Trevi Fountain di Rione Roma. Totti dengan ke-Amor Fati-annya lebih dari sekedar idola, lebih dari sekedar simbol karena Totti adalah Roma dan kota Roma adalah Totti. Ubermensch berwujud Fantasista.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top