Sabar Ya Nak

oleh

Darimana saya harus memulai ?? Ah , iya. Ini cerita di suatu malam, antara kami –saya dengan istri yang saling bertatapan lama sekali. Kami berniat untuk berbicara banyak tentang satu dua hal yang boleh jadi teramat penting. Tapi malam itu, selain suara pendingin ruangan yang mulai rusak tak ada sedikitpun suara di kamar kami yang kecil itu. Ini cerita di suatu malam, antara kami yang bercerita banyak tanpa bicara, yang cuma bisa saling menatap, khidmat. Dipisahkan malaikat kecil yang tersenyum dalam tidurnya. Aduhai, sungguh menggemaskan.

Semua diam tadi sebetulnya tentang anak kecil itu. Anak kecil yang mulai pagi setelah malam itu ditinggalkan kedua orang tuanya , setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari.

“Sudah siap untuk kerja besok, bunda ?? Ninggalin Daffa hampir seharian ??”.

“Hari ini terakhir cuti, besok udah masuk kerja lagi”.

“Daffa gimana yaa ditinggal kerja??”.

Jika malam itu ada bicara, seperti itulah kira-kira kalimat yang akan keluar. Betul, sesederhana itu. Sama saja dengan ketika kami mempertanyakan banyak hal saat anak kecil itu belum lahir, beberapa bulan lalu. Kami sudah berbicara banyak tentang siapa yang mengasuh anak kami nanti?? berapa anggaran yang harus disisihkan jika terpaksa harus memakai tenaga pengasuh ?? bagaimana agar anak kami bisa tetap mengkonsumsi ASI ?? apakah perlu istri berhenti bekerja ?? semua sudah pernah kami bicarakan. Dan hampir kesemua pertanyaan-pertanyaan itu sudah ada jawabannya.

Tapi bagaimanalah, pada kenyataannya memang tidak pernah semudah teori-teori yang dibicarakan. Sedikit berlebihan memang, tapi saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya meninggalkan anak untuk waktu yang cukup lama –percayalah dalam konteks tertentu hitungan jam pun akan terasa sangat lama. Dan kali ini istri yang biasanya tidak pernah lebih dari satu jam “pisah” dengan anak saya, dengan sangat terpaksa harus menambah intensitas pisahnya sampai berkali-kali lipat, kembali bekerja setelah cuti panjang tiga bulan.

Disini sisi emosional saya sebagai laki-laki di aduk-aduk.

Sudah harus berangkat kerja pagi betul –menghadapi rutinitas pekerjaan yang terkadang banyak sekali tuntutan inilah, itulah. Baru kembali kerumah menjelang malam –itu sudah termasuk macet-macetan sepanjang perjalanan. Belum lagi sekembalinya ke rumah masih harus menghadapi masalah yang lebih berat : suami malas yang menyebalkan. Rasa-rasanya mengurus orang macam saya bisa dibandingkan dengan kerja tiga shift sekaligus dalam satu hari. Sekarang ditambah lagi harus mengurus anak, ehm, bagian ini memang menyenangkan, teramat menyenangkan. Tapi meskipun begitu, tetap saja banyak sekali energi yang terkuras untuk menjalani moment yang menyenangkan bersama jagoan kecil itu.

Saya tidak pernah menyangsikan kehebatan dan ketahanan wanita , terlebih wanita adalah sosok yang begitu dimuliakan oleh Tuhan. Tapi coba tengok dan bayangkan makhluk Tuhan yang lainnya, mengerjakan semua urusan rumah ditambah sedikit bekerja diluar rumah, oh iya jangan lupa menambahkan tugas mengasuh anak. Apa mereka bisa ?? Oh, tentu saja bisa. Mudah sekali itu. Tapi tunggu saja sebentar, mereka itu akan mudah sekali lelah dan mengeluh. Hei para pria yang gemar sekali memangku tangan pun memangku kaki, ini tentang kalian, tentang kita semua, yang jarang sekali menghargai peran penting seorang wanita.

Oh, iya. Siang hari ketika mencoba menjadi “bapak rumah tangga” saya sudah menyerah.

Memiliki istri yang bekerja adalah sebuah dilema besar. Dalam urusan materi, sumbangsih istri terhadap ekonomi keluarga kecil kami itu begitu luar biasa, naif sekali jika saya menafikan peran istri untuk urusan ini. Dilain hal, yaitu tadi. Sebagai pria saya merasa sangat malu jika harus terus-terusan membiarkan istri bekerja. Tidak tega membiarkan tenaganya banyak terkuras di luar rumah. Sekali saja dia tersenyum ketika membuka pintu rumah ketika saya pulang dari kerja. Aduh, rasa-rasanya saya telah gagal menjadi seorang suami yang baik, lihatlah di tengah rasa lelahnya masih sempat saja dia tersenyum, sedangkan saya ?? membawa banyak keluhan sisa kerja dan macet di sepanjang perjalanan pulang tadi.

Ah, jika saja perkara surga hanya tentang urusan-urusan duniawi saja, kita semua pasti sepakat jika para istrilah yang paling pantas berada di tempat tertinggi di surga yang Dia ciptakan.

Dan pada akhirnya, kesemua jawaban pertanyaan tadi terjawab sudah. Untuk saat ini, dengan terpaksa jagoan kecil itu harus ditinggal pergi setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari.

Sabar ya, Nak. Sekarang ini ayah “meminjam” bunda untuk, yah kamu akan mengertilah nanti dan jangan lupa doakan ini semua tidak akan terlalu lama. Besok lusa akan ada lebih banyak waktu untuk kami menemani kamu tumbuh dewasa, tanpa harus terlalu banyak memikirkan urusan dunia. Maksud ayah, waktu yang sekarang ayah pinjam, mudah-mudahan bisa menjadi jalan untuk kamu menentukan lantas meraih cita-cita.
 PicsArt_1435717543044

EPILOG :
Semenjak pagi setelah malam itu, kecuali untuk mandi, ganti popok dan minum susu hampir sebagian waktu anak kecil itu digunakan untuk tidur. Tentu ini adalah hal yang lazim dilakukan anak sekecil itu. Tapi di waktu-waktu tertentu, saat ayah dan bundanya sudah harus sampai di rumah. Anak kecil itu selalu terbangun, menyambut kami pulang dengan tawa -dan tangis sesekali. Kemudian terus terjaga sampai lewat tengah malam, mengajak ayah dan bundanya bercanda, sebelum benar-benar dia kelelahan karena terlalu banyak tertawa -atau menangis mana mau dia tidur.  Boleh jadi, anak sekecil itu sudah mengerti dan meminta kami untuk mengganti waktu yang hilang di pagi dan siang harinya.

Nak, terimakasih. Tapi terlalu banyak begadang itu tidak baik.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya
Go to Top