Bunda Jangan Berisik

oleh

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Hingga akhirnya bunda, kau kelelahan lalu tertidur karena lelah. Bunda tahu?? Bahkan saat tidur pun bunda tetap terlihat begitu cantik. Tak lama aku pun menyusul bunda, menyusul tidur.

Lewat tengah malam pintu kamar terbuka sungguh pelan, ayah pulang, sengaja meminimalkan suara agar aku dan bunda tidak bangun. Percuma ayah, aku hapal betul suara langkah kaki ayah yang sering tergesa-gesa dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat aku terbangun. Tapi lihat, bunda masih lelap, sungguh lelah nampaknya bunda hari itu, sampai bunda melewatkan kebiasaan mencium tangan ayah setiap kali ayah pulang. Demi melihat bunda tertidur saat itu, ayah tersenyum, entah kenapa begitu penuh penghargaan. Selepas mengganti pakaian kerjanya ayah lalu mencium kening bunda, aku mendapat bagian yang sama. Dan aku tersenyum, sungguh itu adalah momen terbaik setiap ayah pulang di akhir pekan.

Hari itu, ayah tak langsung tidur seperti biasanya. Melihat aku yang belum lagi tidur setelah terbangun tadi, ayah berbisik mengajakku bercanda. Satu dua gerakan kemudian ayah berhenti, raut wajah ayah berubah sendu. Semenjak aku lahir beberapa bulan lalu, baru kali itu wajah ayah terlihat tidak menyenangkan. Belum sempat aku menangis –aku ingin bertanya kenapa wajah ayah berubah muram ayah lalu bercerita banyak sekali, masih sambil berbisik malah sekarang suara ayah hampir tidak terdengar. Aku tahu, ayah tak ingin membuat bunda terbangun.

Aku khidmat mendengar bisikan cerita dari ayah. Dan kali ini aku benar-benar ingin menangis kencang, dari cerita ayah aku jadi tahu, setelah dewasa nanti aku tak boleh seperti ayah.

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Sungguh Tuhan baik sekali menitipkan aku kepada wanita sehebat bunda. Bahkan tanpa perlu aku menangis, tanpa perlu aku marah, bunda selalu memperlakukan aku dengan begitu istimewa. Jika aku merasa lapar, atau saat aku sedang sakit, seringkali aku melihat malaikat nampak iri. Karena bunda memberikan kasih sayang yang luar biasa, tak terbalas.

Tapi bunda, hari itu aku menangis bukan karena lapar, bukan karena aku merasa sakit. Hari itu adalah akhir pekan, sungguh aku sudah sangat ingin bertemu Ayah. Hari itu aku menangis marah sedemikian parahnya karena aku rindu ayah, itu saja.

Bagaimana tidak? Bunda yang mengajari aku tentang itu semua. Tentang bagaimana aku harus menghormati dan menyayangi ayah. Apa yang bunda katakan saat mengganti popokku beberapa minggu lalu? Kalau aku tidak salah, bunda memberitahu bahwa ayah diluar sana sedang bekerja keras, melakukan yang terbaik demi kehidupan di masa depan. Bunda mengatakannya dengan tersenyum, sangat bangga menceritakan ayah. Mendengar aku memiliki ayah yang penuh tanggung jawab, aku senang sekali, tanpa sadar aku bergerak terlalu aktif. Saking aktifnya sampai aku tak sengaja menendang popok yang baru saja bunda ganti, membuat kotoran itu berceceran, berantakan. Menempel pada baju dan apa saja yang ada disitu, tapi ya sudahlah, toh langsung bunda bersihkan. Aku yakin bunda tidak keberatan. Bukankah bunda tetap tersenyum padaku ketika membereskan kotoran yang berceceran itu?.

Malam itu ayah sempat berhenti bercerita. Terpaksa membangunkan bunda, waktunya popokku diganti, sudah terlalu penuh. Selepas itu ayah tersenyum, lalu kemudian dengan lembut menyuruh bunda kembali tidur, itu setelah sebelumnya ayah mencium kening dan pipi bunda, dua sisi. Dan ayah melanjutkan ceritanya tak lama setelah bunda kembali tidur.

Bunda, hari itu aku menangis marah sedemikian parahnya karena aku rindu ayah. Aku merindukan ayah yang akan selalu ada kapanpun untuk bunda, untukku, untuk keluarga kita. Itu yang bunda katakan akhir pekan dua minggu lalu. Aku sungguh sebal saat itu, sungguh tidak sekalipun aku dicium atau dipeluk bunda dan ayah sekaligus. Bunda beralasan sedang tidak enak badan, jadi tidak mau mencium aku, takut tertular. Itu alasan konyol bunda, jangan membuat aku tertawa, kalau bunda tidak enak badan kenapa bunda masih bisa mengurus semua kebutuhanku saat itu, kenapa bunda tidak beristirahat saja? Itu akhir pekan bunda. Ada ayah. Lagipula aku juga ingin main dan bercanda bareng ayah. Tapi bunda malah menyuruhku untuk tidak mengganggu ayah. Bunda bilang ayah terlalu lelah mencari nafkah sepanjang minggu untuk aku, untuk bunda, untuk keluarga kita, jadi bunda memintaku untuk membiarkan ayah beristirahat. Sekali lagi aku tersenyum, luar biasa sekali ayah. Baiklah bunda, aku menurut.

Hampir sepanjang akhir pekan itu ayah tertidur, beristirahat. Aku tidak sempat bermain dan bercanda bersama ayah. Tapi tidak masalah, seperti yang bunda bilang dengan suara serak sambil terbatuk, esok lusa masih ada waktu.

Bunda, maafkan aku untuk hari itu. Untuk aku yang menangis marah sedemikian parahnya karena aku rindu ayah. Bagaimana tidak? Sekali waktu bunda bercerita tentang Ayah yang selalu menomorsatukan keluarga atau tentang ayah yang selalu mampu membuat bunda tenang. Tentang ayah yang selalu bertutur santun bahkan ketika bunda sedang luar biasa marah. Tentang ayah yang selalu tersenyum dan bernasihat dengan bijak ketika bunda melakukan hal yang tidak benar. Maka dengan segala kebaikan ayah itu tentu saja aku sangat merindukan ayah, tentu saja aku sangat menyayangi ayah, tentu saja aku sangat bangga kepada ayah. Kita sama sama tahu bunda, Tuhan menganugerahi kita lelaki yang luar biasa hebat.

Maka tentu saja menjadi seperti ayah adalah cita-citaku esok lusa ketika aku dewasa.

Sampai ayah bercerita banyak malam itu.

Bunda, ayah tahu betul kalau bunda sering membanggakan beliau di depan orang lain. Entah itu pada orang tua, kerabat atau bahkan kepada teman-teman bunda yang lain. Apa yang bunda ceritakan sama persis dengan cerita-cerita yang sering aku dengar dari bunda. Ayah tahu betul tentang itu semua. Maka ayah menjadi sedih ketika pada kenyataannya ayah tak pernah bisa menjadi seperti yang bunda banggakan di depan mereka. Ayah tahu betul kalau bunda menaruh harapan dan semua kehidupan di masa depan bersama ayah, kehidupan di masa depan yang baik untuk keluarga kecil kita. Maka menjadi marah lah ayah, kecewa pada dirinya sendiri karena sampai saat ini ayah merasa tak pernah memberikan kebahagian yang cukup untuk keluarga kecil kita. Alih-alih kehidupan yang baik di masa depan. Bunda, ayah tahu betul kalau bunda menyuruh aku untuk menjadikan ayah sebagai teladan di kehidupan yang baru aku mulai ini. Maka menjadi bingung lah ayah, karena tak sedikitpun hal baik yang bisa ayah wariskan sifat dan sikap yang baik untuk aku belajar hidup. Bunda, itu sedikit kutipan dari cerita ayah malam itu. Yang pada saat bercerita, meskipun sambil berbisik terdengar begitu serak.

Ini semua bukan tentang rasa pesimis atau kerendahan diri. Ini semua bukan tentang rasa takut, maksudnya tentu saja ayah takut tidak bisa menjadi seperti sosok dalam cerita bunda di depan orang lain. Tapi itu nomor sekianlah. Lagipula, bukankah kalimat yang keluar dari mulut istri dan ibu yang shalehah kerap kali dijawab dengan indah oleh Tuhan? Bunda, ayah berterimakasih banyak untuk semua itu, untuk semua doa yang sengaja atau tidak, kerap terlantun dari mulut bunda. Maka yang lebih ayah takutkan adalah bagaimana nantinya aku memaknai peran bunda, memahami peran ayah pada kehidupan yang baru aku mulai ini.

Ayah takut, dengan semua kebaikan tentang ayah yang seringkali bunda ceritakan padaku, pun pada orang lain. Itu akan membuat aku lebih menyayangi dan menomorsatukan ayah ketimbang bunda. Sampai malam itu, ayah benar. Sudah berapa kali aku sampaikan tentang cita-citaku esok lusa saat aku dewasa?

Ayah takut, aku menjadi seperti ayah. Karena saat dulu nenek bercerita banyak kepada ayah tentang segala kebaikan kakek. Ayah langsung setuju tanpa sempat bertanya apalagi membantah. Karena cerita nenek kepada ayah tentang segala kebaikan kakek itu membuat ayah lebih menomorsatukan kakek ketimbang nenek. Untuk kali itu, ayah sampai kesulitan untuk melanjutkan ceritanya. Yang aku ingat ayah berkata begini : “kelak akan ada saatnya ,ketika kita merasa sakit hati yang teramat sangat ketika kita sadar kita telah melukai perasaan ibu, mama, bunda atau apalah itu kamu menyebutnya nanti. Lalu, silahkan bayangkan hal yang sama ketika kamu menjadi orang tua”

Ah, bunda, kenapa urusan ini menjadi begitu rumit? bukankah menyayangi dan menomorsatukan ayah itu bukan hal yang buruk? apa salahnya?

Pertanyaan itu segera terjawab bunda, masih dalam cerita ayah malam itu.

Sungguh ayah berterimakasih banyak. Ayah sadar cerita-cerita tentang ayah itu adalah pengganti untuk waktu dan perhatian ayah yang terlalu sedikit untuk keluarga kecil kita ini. Ayah mengerti jalan pikiran bunda, setidaknya dengan cerita baik tentang ayah, itu akan membuat aku merasa dekat dengan ayah. Bunda tak memperdulikan bagaimana cerita-cerita itu sedikit banyak akan mempengaruhi porsi sayang dan hormatku pada bunda untuk diberikan kepada ayah. Dan menurut ayah, itu yang tidak bisa ayah terima, Bunda. Ayah merasa tidak pantas untuk itu, karena bagaimanapun bunda lah yang lebih berhak untuk dinomorsatukan, karena begitulah bunda adanya.

Karena itu bunda, ayah memintaku untuk memohon dengan sangat kepada bunda. Bunda jangan berisik, berhenti bicara berlebihan tentang ayah. Karena seperti cerita ayah -dan sekarang aku percaya itu betul sehebat apapun yang ayah lakukan tak akan pernah bisa sepadan apalagi sampai menggantikan pengorbanan bunda. Karena seperti cerita ayah -dan sekarang aku percaya itu betul sebanyak apapun darah ayah yang keluar tak akan bisa mengganti setetes keringat yang bunda berikan untuk keluarga kecil kita.

Ah, bunda, ayah. Urusan ini nampak begitu rumit. Mungkin sekarang aku tidak terlalu mengerti maksud dari cerita bunda yang disitu ayah menjadi pemeran utama dengan segala kebaikannya. Mungkin sekarang aku belum paham arti dari cerita ayah yang disitu bunda dengan segala pengorbanannya menjadi pemeran utama. Yang aku mengerti sekarang ini, aku beruntung menjadi akibat dari segala yang terjadi pada ayah dan bunda. Aku beruntung menjadi bagian dari setiap doa yang kalian haturkan. Tuhan, jika benar aku adalah jawaban dari doa ayah dan bunda di kala senja, aku sungguh berterimakasih banyak untuk kejutan terbaik-Mu ini. Maka izinkan aku untuk memberikan kebahagiaan, doa, dan harapan untuk mereka, orang tua terbaik itu.    

Malam itu, ayah berhenti bercerita, ikut tertidur. Menyusul bunda yang sudah duluan.

Malam itu, menyisakan aku yang tak sabar untuk segera menjadi kebanggan kalian berdua.

Bunda, Ayah.

Terimakasih sudah sempat berisik.

PicsArt_1432987810446

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top