Evolusi Jangkar

oleh

Musim panas 2003, miliuner asal Rusia bernama Roman Abramovic tiba dengan gagah nya di London. Tidak sekedar berlibur, kala itu tujuan Abramovic jauh lebih penting ketimbang menghabiskan recehan nya di Harvey Nichols. Chelsea menjadi tujuan nya untuk ia di ambil alih dari Ken Bates yang memang lebih cocok memiliki klub sekelas Leeds United. Kedatangan Abramovic yang kala itu di sebut memiliki dana tidak terbatas, otomatis membawa ambisi super tinggi bagi Chelsea untuk bisa meraih banyak gelar dan merusak dominasi Manchester United.  Langkah pertama untuk bisa memenuhi ambisi tinggi Abramovic tentu saja mendatangkan pemain berkelas berlabel bintang ke Stamford Bridge dan Claudio Ranieri lah orang yang beruntung kala itu untuk mendapatkan kebebasan penuh memiilih siapa saja pemain yang harus di datangkan ke Chelsea. Seperti dalam serial kartun legendaris Doraemon, saya kadang berfikir, mengapa hal luar biasa justru terjadi pada orang yang biasa saja malah cenderung bodoh? Nobita yang pemalas mendapatkan teman hidup yang bisa memberikan nya apa saja dan Ranieri yang boleh di kategorikan sebagai pelatih biasa saja, justru mendapat berkah pertama atas ambisi besar Roman Abramovic.

Wayne Bridge, Geremi, Damien Duff, Glenn Johnson, Juan Veron, Joe Cole, Adrian Mutu, Hernan Crespo, Neil Sullivan hingga Alexey Smertin adalah sederet nama yang di minta Ranieri kala itu. 10 nama tadi agaknya terasa tanggung jika sebenarnya Ranieri bisa saja meminta 11 pemain baru atau bahkan lebih untuk tim nya. Tanpa meminta bantuan mesin pencari Google, dapat kah anda menebak siapakah pemain ke 11 yang di minta Ranieri langsung kepada Abramovic? Silahkan terkejut, Ranieri kala itu meminta kepada Abramovic agar seorang Claude Makelele bisa berseragam Chelsea. Abramovic yang saat itu tidak paham betul soal sepakbola mulai dari aturan offside hingga taktik njlimet di lapangan, menanyakan langsung alasan Ranieri menginginkan Makelele. Dan Ranieri menjawab, “Makelele adalah arsitek Real Madrid. Dia kunci permainan karena dia menghentikan arus permainan lawan dan mengawali penyerangan dari tim nya sendiri.” Entah suatu kebetulan atau tidak, saat itu Makelele justru tidak terlalu di anggap penting peran nya oleh Florentino Perez di Madrid. Perez terkesan tutup mata atas kinerja hebat Makelele menjaga keseimbangan tim yang berisi pemain bintang. “ Para pemain muda akan datang dan mereka akan membuat Makelele di lupakan.” Adalah ucapan kekeliruan Florentino Perez yang menjadi awal kegagalan dari Los Galacticos sekaligus awal cemerlang bagi Chelsea yang mendapatkan Makelele.

30679_hp

Claude Makelele adalah tipikal gelandang bertahan murni yang menurut banyak pengamat sepakbola sudah terancam punah populasi nya. Makelele bermain tepat di depan deretan 4 bek yang sejajar. Ia berkeliaran di setengah area permainan, tidak lelah melakukan tackling dan memotong umpan-umpan lawan untuk kemudian memainkan sepakbola sederhana yaitu umpan pendek kepada rekan setim nya yang lebih mahir memainkan bola.  Jika menghadapi tim yang memainkan formasi 4-4-2 konvensional yang kebetulan masih banyak di gunakan oleh tim Inggris saat Makelele main di Chelsea, peran Makelele sangat berguna dan menjadi begitu penting. Dan pelatih yang saat itu berhasil memaksimalkan kinerja Makelele ialah Jose Mourinho. Mou menempatkan Makelele untuk bermain di area “di antara” penyerang dan gelandang lawan. Peran itu benar-benar bisa menjadi gangguan nyata bagi tim lawan karena ketika Chlesea menguasai bola, Makelele punya ruang dan waktu untuk membawa bola ke depan dan ketika Chelsea di tekan, Makelele bisa dengan mudah mencari ruang kosong rekan nya di area tengah lapangan yang bisa di umpan setelah Makelele memenangkan duel perebutan bola.

Sukses nya peran yang di mainkan Makelele di Chelsea serta merta membawa perubahan yang memaksa banyak pelatih klub Inggris untuk memiliki gelandang bertahan yang mempunyai kemampuan bagus dalam duel perebutan bola serta  mampu mengalirkan bola dengan umpan-umpan pendek yang efektif. “Makelele Role” muncul sebagai istilah yang menggambarkan begitu krusial nya peran yang di jalankan Makelele. Matt Holland, eks Charlton Athletic pernah berujar bahwa sejak tren “Makelele Role” muncul, ada banyak usaha yang di lakukan klub-klub EPL menciptakan pemain seperti Makelele. Liverpool mendatangkan Javier Mascherano, Arsenal merekrut Alex Song dan Tottenham pun bahkan “memaksa” Didier Zokora yang kuat untuk turun jauh ke belakang ketimbang terus bermain naik terlalu ke depan. MU sendiri yang ketika itu masih kelimpungan untuk bisa mencari pengganti Roy Keane justru mendatangkan Michael Carrick yang notabene nya bukan gelandang bertahan murni. Carrick terlalu “bersih” untuk di sematkan label gelandang pengangkut air karena sejati nya tipikal Carrick adalah gelandang yang ahli dalam membaca permainan dan memutus aliran bola tanpa harus mengotori celana dengan menyusur tanah. Banyak orang yang di buat heran dengan keputusan Sir Alex Ferguson, namun Fergie pun bukan kali itu saja memilih keluar dari arus yang sedang menjadi tren.

Mari sejenak kembali ke awal tahun 1990 ketika Johan Cruyff berkeliaran di Catalonia sebagai pelatih di Barcelona. Suatu ketika, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, Johan Cruyff sengaja datang ke sebuah stadion mini yang berada di ujung jalan dari Camp Nou  dan stadion itu sebenarnya di gunakan sebagai tempat berlatih  untuk tim Barcelona B. Sore itu, ada latih tanding antara sesama tim Barcelona B. Sebelum babak pertama pertandingan latihan itu berakhir, Cruyff menghampiri Charly Rexach yang merupakan manajer tim Barcelona B saat itu. Cruyff bertanya tentang seorang pemain sayap kanan yang sedari tadi menarik perhatian nya, dan Rexach memberi tahu Cruyff bahwa pemain muda itu bernama Josep Guardiola. Rexach yang masih terkejut akan kehadiran Cruyff yang notabene nya pelatih tim senior Barcelona, terus berbicara tentang Guardiola dan beberapa pemain lain yang potensial di tim Barcelona B. Namun Cruyff tanpa perlu berpanjang lebar hanya meminta nanti di babak kedua tolong mainkan Guardiola di tengah sebagai poros tim dan jangan pernah lagi menempatkan nya di posisi sayap. Apa yang di tampilkan Guardiola kala itu di babak kedua sebagai poros di lini tengah lah yang akhirnya membawa nya masuk ke tim Barcelona senior di bawah asuhan Johan Cruyff. Guardiola masuk ke tim senior Barcelona dan terus di asah oleh Cruyff untuk menjadi  poros di lini tengah karena Guardiola punya kemampuan yang baik dalam mengontrol bola dan bisa dengan cepat mengumpan pendek dengan efisien sehingga ia bisa menjadi pendistribusi bola yang baik untuk rekan setim nya yang lain. Guardiola sangat beruntung tumbuh sebagai pemain dengan polesan langsung seorang legendaries bernama Johan Cruyff yang jika di mungkinkan tampaknya  sangat cocok bila bermain dan di duetkan dengan Zico dari Brazil. Duet Cruyff – Zico. Duet raja tanpa mahkota. #IfYouKnowWhatIMean . Guardiola muda menjelma menjadi nyawa Barcelona di era Cruyff. Gelar Piala Champion 1992 melengkapi era emas tim impian Johan Cruyff di Barcelona. Pengalaman semasa menjadi pemain yang di ubah oleh Cruyff secara posisi dan peran di tim, agaknya menginspirasi Guardiola untuk melakukan hal yang sama ketika ia juga akhirnya memimpin Barcelona. Pep Guardiola yang di mata para pengamat sepakbola sebagai pelatih visioner yang banyak melahirkan hal hal baru bagi sepakbola juga melakukan apa yang Cruyff lakukan namun dengan pendekatan yang berbeda.

Tahun 2010, Barcelona mendatangkan seorang Javier Macherano dari Liverpool yang sebelumnya di datangkan Liverpool untuk menjalankan peran Makelele Role. Guardiola sempat mencoba memainkan Mascherano di posisi DMF namun ia merasa kurang puas karena tidak sesuai dengan skenario main impian nya yang mengandalkan kekuatan penguasaan bola. Mascherano yang di satu sisi lihai melakukan tackling dan berani berduel namun lemah dalam penguasaan bola menurut Guardiola justru akan melambatkan tempo aliran bola cepat nan efektif yang menjadi dasar tiki taka milik Barcelona. Guardiola lebih mengidamkan seorang gelandang bertahan yang bisa merebut bola, menguasai bola dan mengalirkan nya dengan umpan jarak pendek yang mumpuni. Mascherano mungkin bisa memenangkan duel dan merebut bola, namun di mata Guardiola, Mascherano memiliki kecenderungan bahwa ia kurang tenang ketika bola dalam penguasaan nya dan Mascherano juga masih gemar mengumpan lambung jarak jauh, satu kebiasaan yang ia bawa dari tanah Inggris dan Guardiola sangat tidak menyukai hal itu. Seiring dengan makin tua nya usia Carles Puyol sebagai bek tengah yang membuat Barcelona seperti kehilangan tembok kokoh di lini belakang, Guardiola menarik turun Mascherano untuk sekalian saja bermain di garis pertahanan bersama Pique.

Guardiola tentu memiliki pertimbangan mendalam dan tidak asal tunjuk seorang Mascherano untuk memainkan peran sebagai bek tengah. Karakter Mascherano yang keras di sertai nyali besar ketika berduel dengan penyerang lawan yang kadang bahkan memiliki postur lebih besar dari dirinya tentu sangat menunjang di tambah kemampuan teknik bertahan nya yang memang sudah baik. Perubahan peran main seorang Mascherano otomatis membuat Guardiola harus memunculkan lagi gelandang lain yang sebetulnya sudah ada di dalam tim nya namun belum bermain secara maksimal ketika Mascherano masih bermain di posisi DMF. Seperti sudah takdir nya Guardiola harus menjadikan pemain jebolan Barcelona B untuk memainkan peran sentral di tim senior seperti yang pernah ia jalani dulu di bawah asuhan Cruyff. Sergio Busquets seperti hal nya Guardiola muda, juga mengemban peran sentral sebagai poros di lini tengah Barcelona. Tak harus sering terlihat menyusur tanah untuk merebut bola, hasil polesan Guardiola terlihat jelas pada cara main Busquets yang elegan. Busquets benar-benar menjadi pemain yang menguasai betul area main nya di lini tengah. Tidak perlu merangsek naik ke depan atau turun jauh ke daerah penalti sendiri, Busquets bisa dengan tenang merebut bola dengan taktis dan mengalirkan nya dengan cara sederhana namun efektif. Ketika menguasai bola, Busquets membuat hal yang sepertinya sulit menjadi terlihat mudah, karena Busquets memiliki visi dan insting yang luar biasa untuk bisa menemukan rekan nya yang berdiri tanpa pengawalan sehingga memungkinkan untuk menerima umpan dari nya. Ketika bola tidak berada di kaki nya, Busquets bergerak membuka ruang yang juga masih di sekitaran area tengah agar diri nya bisa dan siap untuk menerima bola dari rekan nya. Ketika banyak orang memuji habis kinerja duet Xavi-Iniesta atau individu lain nya di Barcelona, Busquets tetap berada di belakang lampu sorot dan memilih terus menjalankan peran nya dengan sangat baik. Kritikan keras banyak penikmat sepakbola soal diving konyol nya di partai-partai penting, tak lantas merubah karakter tenang nan elegan seorang Sergio Busquets. Mungkin bagi Busquets, 90 menit di atas lapangan tak ubahnya penampilan seniman akting di Gran Teatre del Liceu yang merupakan Opera House terbesar di Eropa dan kebetulan juga berada di Barcelona.

071613-SOCCER-Sergio-Busquets-LA-PI_20130716100056529_660_320

Seperti hal nya “Makelele Role” yang di rasa sangat berguna unutk kebutuhan sebuah tim, kemunculan gelandang semodel Sergio Busquets di nilai jauh lebih berguna lagi ketimbang gelandang yang memainkan peran Makelele Role. Era sepakbola yang semakin cepat dan eksplosif di rasa sudah tidak bisa lagi di barengi dengan kehadiran gelandang bertahan yang “kotor”. Sebisa mungkin merebut bola dengan sliding tackle justru harus makin di minimalisir karena hal itu justru bisa merusak posisional pemain tersebut. Jika tackling di lakukan dengan bersih dan berhasil, mungkin tidak akan menjadi masalah, namun ketika cara tersebut gagal malah akan membuat celah di posisi yang di tinggal sang pemain dan otomatis membuat si pemegang bola bisa berhadapan langsung dengan para bek. Sangat riskan untuk terus menempatkan pemain dengan peran Makelele Role seorang diri ketika banyak klub sepakbola di Eropa memainkan formasi 4-3-3 atau dengan variasi nya.. Saya ambil contoh gampang betapa peran Makelele Role tidak lagi bisa menjadi sebuah kebutuhan bagi sebuah tim untuk bisa meraih banyak gelar, Barcelona ketika di masa jaya nya di tangan Pep Guardiola adalah sebuah tim yang dengan fasih dan mahir memainkan sepakbola berlandaskan pola manajemen ruang yang nyaris sempurna. Manajemen ruang ini tergambar jelas dari perubahan cepat yang bisa di lakukan Barca. Saat menguasai bola, mereka membuat lapangan permainan menjadi begitu lebar. Ketika sedang dalam posisi bertahan, Blaugrana bermain rapat dan menyempitkan ruang permainan. Tidak ada pemain tipikal Makelele Role di Barcelona saat itu. Karena dengan pola main seperti itu, semua gelandang seolah di wajibkan untuk bisa menguasai bola dengan baik tanpa harus terburu-buru mengalirkan nya langsung ke lini depan. Dan pemain dengan tipikal Makelele Role jelas akan kesulitan jika tim nya sendiri bermain dengan pola seperti itu. Setelah era jaya Barcelona di tangan Pep Guardiola dengan segala taktik nya, nyaris semua klub di Eropa memiliki atau di paksa memiliki gelandang bertahan elegan dan cerdas semodel Sergio Busquets. Bahkan, belakangan peran itu makin di sempurnakan dengan menempatkan seorang gelandang lain nya dengan gaya main yang mengimbangi pemain tipikal Busquets. Juventus yang sudah memiliki deep lying playmaker dalam diri Pirlo yang juga bertipikal Busquets dalam versi lamban, memasang gelandang yang pekerja keras namun berteknik tinggi dalam diri Marchisio atau Pogba. Kehadiran seorang gelandang  yang mengimbangi peran seperti Busquets jelas sangat membantu sebuah tim untuk menguasai lapangan tengah. Satu untuk mengatur, satu lagi untuk menekan lawan sekaligus pengatur tempo kedua jika sang pengatur tempo pertama di matikan pergerakan nya. Real Madrid di bawah Don Carletto saat ini pun mengaplikasikan pola tersebut dengan menduetkan Kroos yang tidak jago tackling namun jago mengatur tempo dengan Modric yang juga mahir memainkan tempo namun lebih cerdas dan berani ketika memberikan umpan ke lini depan. Saya pribadi lebih menyukai kehadiran gelandang semodel Busquets ketimbang gelandang dengan peran Makelele Role. Dengan tidak selalu melakukan sliding tackle ketika merebut bola, membuat pertandingan berjalan lebih menarik tanpa harus sering berhenti karena peluit wait berbunyi akibat adanya pelanggaran keras.

Lantas, apakah kehadiran gelandang bertahan seperti Busquets otomatis membunuh dan melenyapkan gelandang dengan peran Makelele Role? Saya berani katakan tidak. Sepakbola terus berevolusi dari masa ke masa. Akan selalu ada pola, taktik, formasi dan banyak hal lain baru yang akan terus muncul sepanjang sepakbola masih di mainkan. Ada yang terlahir sebagai sebuah  hal yang benar-benar baru, atau lahir nya hal baru dari penyempurnaan hal lama yang sempat terkikis. Dunia sepakbola bukan dunia musik genre boyband yang bisa melejit karena satu lagu lalu hilang tenggelam setelah tak mampu membuat lagu baru. Minim nya atau bahkan tidak ada nya lagi keberadaan seorang pemain dengan tipikal Makelele Role hanya sebuah siklus yang justru membuat sepakbola makin menarik untuk di nikmati. Makelele Role akan selalu di ingat oleh banyak penikmat sepakbola sebagai sebuah posisi yang penting, posisi yang tidak bisa di jalankan oleh sembarang seniman lapangan hijau, dan sebuah posisi peran main yang lahir dari seorang imigran asal Republik Kongo.

Suatu ketika nanti, ketika seorang anak bernama Kelyan memasuki usia dewasa dan mendengar istilah “Makelele Role” sedang di perbincangkan oleh teman-teman nya, Kelyan sangat di izinkan untuk menyela pembicaraan mereka dan berujar, “ ayah saya yang menciptakan posisi dan peran itu.”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*