Untuk Zanetti Dan Mantan Klubnya

oleh

Selamat siang (atau pagi atau malam terserah kapanpun kau membacanya). Terakhir kali aku membuat tulisan tentang kamu adalah ketika aku membalas surat terbuka yang kau tulis untuk kami, fans di seluruh dunia. Dan kau tidak membalasnya, entahlah apa sempat kau membaca balasan surat yang aku tempo hari.

Maka sekarang izinkan aku menulisimu surat (lagi) , oh iya, masih sama seperti kemarin, aku menulis surat ini dalam rangka tantangan yang sedang ramai di linimasa, tentang bagaimana mengeksplorasi kemampuan kita dalam menulis surat cinta selama konsisten, satu bulan penuh, 30 hari tanpa jeda. Untuk siapa surat itu dikirim, itu terserah kami yang menulis, jika hari kemarin aku menulis surat cinta untuk istriku dirumah, maka kali ini aku berniat untuk menulisi surat untuk klub sepakbola yang (dulu) benar benar sangat kucinta. Ah, karena kupikir klub sepakbola itu sebuah benda, dan buta, mana mungkin juga bisa baca, jadi, yasudah aku tulis surat kali ini untukmu, rasa-rasanya sama saja.

Jadi, mari kita mulai, kapten.

Dear Kapten , eh, apa kali ini aku harus memanggilmu dengan “wakil presiden” ?? Aku belum terbiasa untuk memanggilmu dengan sebutan itu, jadi bolehkan kali ini aku tetap memanggilmu kapten – seperti biasanya. Lain kali sajalah jika aku menulis surat lagi, sebutan “wakil presiden” aku gunakan sebagai kata ganti orang kedua untuk memanggilmu.

Sekarang sudah enam atau tujuh bulan semenjak kau memutuskan pensiun, berhenti berlari di dunia yang membesarkan namamu, di sana posisimu sudah digantikan oleh orang lain, malah untuk pertama kalinya sejak aku menyukai klub itu, ban kapten dipakai bergantian oleh banyak orang, padahal satu musim saja belum, huh, payah, klub itu benar benar kehilangan sosok pemimpin.

Di klasemen pun sekarang klub itu ada di posisi … ehm, sembilan atau sepuluh atau sebelas aku tidak tahu pasti, rasa-rasanya aku malas melihat posisi klasemen di liga, padahal pelatih sudah diganti, kau tahulah pelatih saat ini adalah pelatih yang memberi gelar liga pertama untukmu, kan ?? Tapi percuma saja sih, pemain-pemain yang ada di klub itu sekarang kan tidak mempunyai mental yang terlalu bagus, jauhlah dengan mantan-mantan teman seperjuanganmu saat itu.

Oh iya, tentang klub itu tadi di atas aku menulis seperti ini : ‘klub sepakbola yang (dulu) benar benar sangat kucinta’ . Sebenarnya sih itu sedikit berlebihan, aku masih cinta, kok, tak terlalu banyak berubah. Hanya saja sekarang ini aku lebih banyak menonton pertandingan sendirian dirumah, jadi jika satu ketika, permainan klub itu sedang membosankan atau malah kalah secara memalukan,  aku bisa langsung tidur tak perlu dingin-dinginan pake motor tengah malam, dan musim ini baru dua tiga kali aku menonton pertandingan tanpa tertidur, artinya ??

Sekarang kau lebih banyak duduk manis di belakang kursi ketimbang hujan-hujanan saat latihan, boleh jadi, sekarang kau lebih banyak tahu ingin kemana klub itu nantinya, aku jadi sedikit bingung mana masalah yang lebih dulu datang : posisi klasemen yang jeblok atau kebijakan transfer yang acakadut (semoga kau mengerti artinya). Satu dua tahun ini tak pernah ada pemain besar (dan bagus) yang bergabung dengan klub itu, yang datang tipikal pemain pemain besar yang hampir kadaluarsa, kecuali pemain swiss yang diimpor dari jerman kemarin itu, ah, dia pun hanya pemakan gaji buta di klub sebelumnya. Kenapa tuh kapten kira kira ?? Posisi klasemen yang jeblok jadi pemain besar (dan bagus) menolak bergabung ?? Si Setan Merah di Inggris sana masih bisa tuh mendatangkan pemain besar (dan bagus) padahal posisinya di inggris musim lalu lebih hina dari posisi klub itu di italia.  Karena klub itu sedang miskin ?? Si setan merah di Italia, si Tetangga, masih bisa tuh datengin pemain besar (dan beberapanya bagus) , padahal mantan klubmu itu belum miskin-miskin amat , maksudku, klub itu belum perlu menjual bus untuk menstabilkan neraca keuangan, kan ?? Ah sudahlah, memang Si Botak tua klub tetanga itu jago, eh, omong-omong kalau tidak salah, jabatanmu sekarang sama dengan si botak tua itu yaa ?? bisa keleeuss ikutin trik yang dia gunakan untuk dapat pemain bagus.

Aku pikir klub itu mungkin harus sesegera mungkin berbenah, atau akan ada banyak fans yang memilih tidur nyenyak daripada harus keluar rumah nonton bola tengah malam, ya seperti aku ini. Yah meskipun aku pribadi tidak terlalu perduli sih mau sehebat atau sehancur apa klub itu nantinya, jika kembali menjadi hebat ?? Ya terimakasih, karena memang seharusnya seperti itu. Jika menjadi semakin hancur ?? Mungkin lain kali aku menulis surat lagi, pada manajemen klub yang lain, kepada si Presiden baru itu mungkin.

Ehm, mungkin cukup untuk kali ini kapten, tak tahu lagi apa yang harus aku tulis untukmu dan untuk mantan klubmu itu.

Oh iya, di surat yang aku tulis ketika membalas surat terbukamu dulu, aku sempat meminta izin padamu untuk meminjam nama kamu di nama anakku nanti, kapten. Dan di USG terakhir sudah dipastikan jika anak di rahim istriku itu lelaki, sampai saat ini sih aku belum berniat merubah nama untuk anakku, Naufal Daffa Adelmar Partakusumah, nama yang bagus bukan ??

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Mobil, Tiang & Benjol

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah
Go to Top