Di Luar Hujan Sebentar Lagi Aku Pulang

oleh

Padahal kita sering bersapa rindu, teramat malah, tapi bolehlah sesekali aku menulis segalanya tentang kamu disini, Istriku.

Terakhir aku menulisimu, kita belum tidur di ranjang yang sama, lebih dari itu kita bahkan belum sempat mengikat janji. Yang aku ingat, saat itu kita masih lucu berbalut baju putih abu, saat dimana nilai merah adalah hal sederhana yang membuat mood rusak sempurna, seketika. Saat pikiran kita hanya disibukan dengan kalimat “tugas apa besok?” bukan “makan apa besok?” seperti yang kita bahas sekarang setiap sebelum tidur, itu ketika kau kehabisan jatah memainkan permainan di selulermu.

Ah, tapi surat itu pun aku tulis karena tugas bahasa, bukan suka apalagi cinta.

Sebelum aku lanjutkan, tolong kau jangan bertanya isi surat saat itu, tentu saja aku lupa

Eh, satu lagi, saat kali ini aku menulisimu surat, pun, bukan karena cinta atau karena rindu. Setiap hari kita bertemu, kalaupun aku rindu, malam nanti aku cukup mematikan lampu, seperti sering hari kita lakukan. Jadi, aku menulis ini karena kebetulan saja saat sedang diam tadi aku melihat di linimasa tentang sebuah tantangan menulis surat cinta dalam waktu tertentu, 30 hari kalau tidak salah. Menurutku itu menarik, dan kebetulan di luar sedang hujan lebat, jadi aku coba menulisimu surat. Sebetulnya untuk mengikuti tantangan itu, bisa saja aku menulisi orang lain, tapi ayolah, malam ini aku tidak mau tidur di ruang tamu.

Jadi, mari kita mulai …

Apa kamu ingat saat dulu kita masih tinggal di atap yang berbeda, atau bahkan kita pernah menjalani cerita berjauhan, teramat jauh malah. Ah, entah berapa penjaja pulsa yang kuhutangi banyak hanya untuk tetap menjaga komunikasi kita, hal yang kita anggap sangat penting, bahkan mungkin komunikasi berbatas waktu itu lebih penting dari hubungan kita sendiri saat itu.

Lalu seberapa sering kau putus asa melawan jarak ?? Aku ?? Aku sendiri tak pernah menghitungnya, tapi rasa putus asa saat kita berjauhan itu terpaut tipis dengan rindu yang datang tiap harinya. Pagi ini aku putus asa, merasa jarak dan waktunya tak pernah mau berteman dengan kita, kemudian sore nanti rindu itu datang, menyembuhkan keputusasaan pagi tadi. Dan boleh jadi, besok pagi aku bisa mengulang siklus itu, terus menerus.

Tapi selain rindu itu, ada lagi yang mampu menghapus segala jenuh dan rasa muak ketika jarak sedang tidak bersahabat. Mimpi, rangkaian mimpi yang terus kita ucapkan tanpa bosan selalu aku percayai sebagai hadiah untuk menebus semua rasa sakit saat kita berjauhan, dan coba tengok malaikat kecil di perutmu malam ini, bukankah itu adalah salah satu mimpi yang sering kita ucap saat itu ?? Bukahkah itu hadiah terbaik dari Tuhan untuk kita , untuk semua mimpi-mimpi kita ??

Terkadang aku masih tak percaya, setiap harinya kini kita tidur dalam satu selimut yang sama. Rasa-rasanya baru kemarin kita tersenyum malu untuk tangan yang tak sengaja mengenggam.

Aku juga sering membayangkan aku hidup di pikir dunia yang berbeda dengan sekarang, katakanlah di dunia sebelah lain aku juga hidup, lalu kemudian berpasangan dengan orang selain kamu, dan sialnya di kehidupan lain itu juga aku harus berjarak saat menjalani hubungan itu. Nampaknya aku tak sudi untuk merasa sakit lama lama, lebih baik tertawa senang sendirian daripada menangis berdua berjauhan. Tapi, di dunia yang aku tinggali sekarang, aku rela untuk pernah menjalani hubungan dengan jarak itu, meskipun rasa sakitnya sama saja. Karena di dunia yang aku tinggali sekarang ini aku menjalani hubungan dengan jarak itu  bersama kamu, dan bersama kamu, aku rela merasa sakit, atau mungkin kamu terlalu istimewa untuk aku tinggalkan.

Ah, Istriku, hujan diluar sudah reda. Aku harus pulang sekarang sampai bertemu dirumah.

PS : tulisan ini bukan untuk menyogok secangkir kopi dari kamu, kok.

Love-Letter
Credit photo : Sandiamorim.com

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

14 Comments

  1. Aaah i love this ! Absolutely romantic. Your wife is the luckiest woman :p

    Aku lebih suka gaya bahasa seperti ini. Atau karna memang aku lebih suka sesuatu yg bertema cinta.
    Saran aku : sering2 nulis gini kak
    bagus buat kesehatan keluarga :))

  2. Lahh, kok jadi kesehatan keluarga : -)))

    menurut aku ga ada yang paling “beruntung” sih di sebuah hubungan,

    Ehm, maksudnya, siapa siapa aja bisa jadi yang paing beruntung kalo bisa maklum dengan keadaan :p

  3. Trust me. Nulis kayak gini bakal bikin sehat. gak cuma kakak tapi istri dan anak kakak kelak *sotoy*

    Maksudnya maklum dengan keadaan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top