Ada Apa Dengan Inter ??

oleh

“Karena semua orang bisa mulai dari awal”

Saat anda membaca tulisan ini, tentu saja anda sudah hidup sedari beberapa tahun yang lalu, Jika melihat siklus dari analisis IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang kemampuan manusia untuk fasih dalam membaca, setidaknya saat ini usia anda 5-7 tahun, atau jika anda sedang berada dalam siklus kedua dimana anda berproses dalam mengingat dan merekam apa yang telah anda baca dan atau anda lakukan, setidaknya anda saat ini berusia antara 10-14 tahun. Atau sekarang anda berusia di antara 17-20 tahun –atau mungkin lebih- jika saat ini anda berproses dalam mereka ulang –dalam bentuk fantasi- semua yang telah anda baca, anda lakukan dan hal hal-lain yang anda simpan dalam bentuk kenangan.

Siklus pertama adalah siklus pembelajaran, siklus kedua adalah siklus adaptasi, dan siklus ketiga adalah proses aplikasi. Saat kita sudah masuk kedalam proses aplikasi kita akan cenderung lebih melibatkan emosi dalam tiap bahasan tentang kenangan. Silahkan untuk mencoba mereview kisah hidup pada manusia di siklus ketiga, setiap satu kata bahasan yang melibatkan apa yang anda baca, apa yang anda lihat dan apa yang anda lakukan di masa lalu akan mentranfsormasi jutaan sel di dalam tubuh menjadi emosi kompleks. Senang, sedih, haru, marah itu urusan belakangan tergantung apa yang dibahas. Dan jika hasil transformasi kenangan itu membawa kita ke dalam emosi yang indah, kita pasti akan betah berlama-lama diam didikte kenangan, kemudian berfantasi untuk mereka ulang kenangan indah itu.

Adalah LINE sebuah provider layanan pesan singkat asal korea selatan yang dengan jenius memanfaatkan “kelemahan”manusia di siklus ketiga tadi lewat miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? yang dirilis beberapa waktu lalu. Bagi anda yang membaca tulisan ini dan berada di rentang usia 17-20 tahun atau lebih tidak mungkin tidak mengenal Cinta dan Rangga di film ADA APA DENGAN CINTA?? (AADC) yang muncul di bioskop 12 tahun silam. LINE memaksa kita kembali ke waktu disaat AADC “meledak” , plot film tentu tak akan berubah maka dengan jahatnya –dan tujuan promosinya– LINE mendesain ulang cerita untuk mendorong jatuh manusia di siklus ketiga tadi untuk jatuh lebih dalam ke dinamika waktu 12 tahun terakhir. Hasilnya ?? Indonesia tak akan seheboh kemarin jika LINE membuat miniklip HANTU DUDA  PERAWAN.

Buruknya kualitas tontonan saat ini -yang satu tema dengan AADC- membuat kehadiran miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? versi LINE semakin klimaks, para manusia di siklus ketiga mengalami orgasme massal.

Di belahan bumi lainnya, setengah globe ke barat dari Indonesia, di Milan, Italia, FC Internazionale -untuk pasar yang lebih sempit- mencoba taktik pemasaran LINE dengan membawa kenangan lain bernama Roberto Mancini.

Pasca menjadi headline di seluruh majalah olahraga di dunia di akhir Mei 2010, Prestasi Inter terjun bebas, dari team juara eropa yang mengalahkan juara-juara di eropa , 4 tahun kemudian berevolusi menjadi tim penggembira yang engap-engapanbahkan kehabisan nafas saat melawan tim terbawah di liga. Setelah kesuksesan Inter dibawah asuhan Mourinho di tahun 2010 itu, tak ada lagi pelatih yang bisa memberi gelar bergengsi untuk Inter. Benitez dan Leonardo sempat menambahkan patch di Jersey Inter. Tapi patch Fifa Club Worldcup 2010 dari Benitez dan Coppa Italia 2011dari Leonardo tidak cukup membuat fans dan manajemen puas.Setelah itu ?? Alih alih menjadi juara , bisa masuk Liga Champions pun jadi mimpi besar buat Inter.

Dari keenam pelatih yang menangani Inter sejak 2010 sampai sekarang, sebetulnya Leonardo memiliki potensi yang cukup bagus 68,75% presentase kemenangan dari 32 pertandingan bukanlah statistik yang buruk. “Inter sedang bahagia dan saya juga ikut senang. Saya pikir Inter akan kembali mendapatkan Scudetto di akhir musim nanti” komentar Jose Mourinho pada Januari 2011 silam setelah Inter memenangkan kemenangan keempat secara beruntun di bawah komando Leonardo yang menggantikan Rafa Benitez di penghujung tahun 2010. Titik balik “bulan madu”Leonardo bersama Inter menurut saya adalah ketika kalah 0-3 di derby Milan, dan dibantai Schalke 2-5 di kandang sendiri beberapa hari kemudian.

Coach Inter

Setelah Leonaro, Inter jatuh terpuruk di formasi 3-4-3 ala Gasperini saya sudah memprediksikan hal itu ketika pekan pertama musim 2011/12 kalah dari Palermo 4-3 dan saya tulis DI CATATAN FACEBOOK . Claudio “The Tinkerman” Ranieri sempat membawa angin segar untuk Inter dengan memenangkan 7 laga awal secara beruntun sebelum akhirnya terjun lagi, memaksakan Wesley Sneijder di formasi 4-4-2 Ranieri dituding sebagai biang kegagalan, Pak Tua dipecat. Ranieri digantikan oleh Stramaccioni –yang usianya hampir setengah dari usia Ranieri-yang berhasil membawa Inter Primavera meraih gelar Next Gen Series. Seolah berpegang teguh pada prinsip “orang tua harus dihormati” trend permainan Ranieri diikuti oleh Stramala, naik gunung, sebelum akhirnya terjun bebas. Dan Mazzarri ?? Ah sudahlah saya tidak pernah suka dengan formasi 3 bek sejajar.

Trend negatif yang terjadi pada Inter 4 musim terakhir membuat frustrasi yang berlebih untuk sebagian besar fans. Penurunan jumlah penonton di stadion menjadi bukti otentik ada yang salah dengan Inter. Di Indonesia sini ?? Pemasukan kas beberapa fans club Inter tentu juga mengalami penurunan signifikan akibat animo nonton bareng berkurang, dan saya termasuk di antara mereka yang jadi malas nonton Inter. Bioskop pun tidak akan penuh jika film yang ditayangkan mempunyai plot yang monoton, jalan cerita bisa ditebak, artis kacangan, efek visual yang buruk, apalagi ditambah sutradara yang asal-asalan. Dan saya tidak munafik, sebagai fans saya mengakui kondisi Inter saat ini mencerminkan kondisi yang hampir serupa dengan sebuah film yang tidak laku.

Satu-satunya jalan untuk mengembalikan moodfans  yang kadung hancur adalah memberikan gelar juara, jika itu dirasa sulit setidaknya ajak fans kembali mengenang masa masa juara saat itu, dan Roberto Mancini adalah nahkoda yang paling tepat untuk mengajak interista berpertualang di jalan bernama kenangan. Melihat reaksi interista di social media beberapa hari terakhir, Interista sedang betah didikte kenangan, dan mulai berani berfantasi untuk kembali membicarakan gelar juara. Jika tujuan Erick Thohir mendapuk Mancini adalah untuk mengambil hati Interista, sejauh ini dia sukses.

Mempertimbangkan cost, efektivitas waktu dan kemungkinan gagal, LINE tidak mentransformasi ide bisnisnya ke dalam bentuk film yang notabene membutuhkan biaya, waktu dan resiko yang lebih besar dalam konsep promosi produk. Setali tiga uang dengan cara yang digunakan Inter untuk meretas memori juara para interista, alih alih menunjuk Jose Mourinho yang lebih sempurna dalam pengumpulan gelar dan figur yang lebih dicintai oleh fans, mendatangkan kembali mourinho tentu membawa efek yang lebih besar. Mourinho yang saat ini masih melatih Chelsea tentu tak bisa didatangkan lebih murah, jikapun bisa waktu bernegoisasi dengan Chelsea pun akan memakan waktu yang tak sebentar, Inter keburu degradasi kalau Mazzarri terus dipertahanin sampai akhir musim. Dan jika memperkirakan hal terburuk : RESIKO GAGAL , sekali lagi dengan mempertimbangkan biaya, waktu dan resiko, pertaruhan mendatangkan Mancini tentu tidak semahal jika yang gagal (dan harus kembali dipecat) adalah Mourinho.

Jika Mourinho adalah istana megah yang berhasil membawa kerajaan LA GRANDE INTER II ke masa kejayaannya, maka Mancini adalah pondasi dari Istana itu sendiri. Mourinho adalah pelatih jenius, super jenius jika anda ingin menyebutnya begitu, tapi tanpa mengurangi rasa hormat, Inter 2010 tak akan sebegitu kuat tanpa adukan Mancini beberapa tahun sebelumnya. Hampir mirip dengan kedatangan pertamanya 10 tahun silam, Mancini datang ke Inter saat Inter tengah mengalami krisis, Jika saat itu Mancini harus dihadapkan dengan tim yang mengalami krisis kepercayaan diri akut akibat sering gagal juara di periode akhir kompetisi, krisis mental juara. Kali Ini Mancini menhadapi Inter yang memiliki krisis di segala aspek, kepercayaan diri, mentalitas juara dan finansial bahkan Inter tengah disorot oleh UEFA terkait regulasi Financial Fair Play. Tak kan ada lagi Sugar Daddy ala Moratti.

Jika masalah tidak bisa berbelanja ada di periode pertama Mancini, toh dia tidak terlalu khawatir toh saat itu Inter memang sudah diisi oleh lapisan pemain menengah ke atas, siapa yang meragukan kapasitas Vieri, Recoba, Adriano ?? Guarin, Medel, Kuzmanovic tentu kalah kelas jika dibandingkan dengan Stankovic, Figo atau Veron. Di skuad yang sekarang, mungkin hanya Handanovic Icardi dan Kovacic yang mempunyai potensi mendekati kualitas skud Inter satu dekade yang lalu. Dan lagi, saingan Mancini saat itu hanya ada di Inter sendiri, sekarang ?? ada Rudi Garcia di Roma dan Juve yang juara di 3 edisi.

Hei Mancini, tugas ini nampak menjadi lebih berat bukan ??

Tapi mengalami krisis seperti ini bukan kali pertama untuk Mancio, saat pertama menukangai Fiorentina dan Lazio pun sang allenatore mengalami kasus serupa, bahkan Mancini sempat menambah pajangan di lemari piala milik Lazio dan Fiorentina, di tengah krisis parah kedua klub tadi, Mancini sempat sempatnya menjadi juara di Coppa Italia. Untuk menambah rasa senang kalian hei Interista, bahkan Mancini tak pernah lupa memberikan gelar untuk klub yang dia tangani. Jadi, bolehlah jika anda semua masih betah berlama-lama di zona indah bernama nostalgia.

Jangan terlalu lama, karena ada hal yang perlu kita masukan ke dalam slot memori nostalgia ini.

Melihat daftar yang tertera di inter.it setidaknya ada 3-4 pelatih lain yang dalam sejarah pernah menjalin hubungan ulang dengan Inter setelah berpisah sebelumnya. Roy Hodgson adalah salah satunya, datang di awal musim 1995/96 kemudian pergi ke Blackburn, kemudian datang lagi di musim 1998/99. Legenda Inter Luis Suarez bahkan tercatat pernah 2 kali bereuni 1974/75 1991/92 dan 1995/96 sebelum digantikan Roy Hodgson. Castellini Luciano 2 kali pernah menjadi pelatih sementara Inter 1996/97 dan 1997/98. Bahkan penguasa rezim LA GRANDE INTER I pengembang sistem pertahanan grendel, pelatih Inter tersukses Inter sepanjang masa El Grafico : Hellenio Hererra pun tak mampu berbuat banyak di petualangan keduanya bersama Inter. Pelatih tersukses pun kehabisan tinta ketika menulis ulang kisahnya ditempat yang sama, apalagi pelatih yang tak sempat membuat cerita.

Ah, bagaimanapun , tak selamanya menjalin hubungan dengan mantan itu menyenangkan.

Roberto Mancini

Strategi LINE dengan menyuguhkan miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? untuk pengembangan bisnisnya patut diapresiasi tinggi, para manusia di siklus ketiga tadi sampai saat ini masih terbawa hanyut di memori 12 tahun silam, pun dengan apa yang dilakukan Erick Thohir dengan mendatangkan kembali Roberto Mancini, saat saya menulis tulisan ini, di linimasa ucapan terimakasih Interista kepada Erick Thohir hanya kalah dari berita kenaikan BBM. Tapi euforia ini pastilah tidak akan abadi, LINE akan begitu saja dilupakan jika tidak siap dengan permintaan pasar yang dinamis, sedikit saja ketinggalan, para pengguna layanan pesan singkat pastilah akan beralih ke provider lain. Erick Thohir sama saja, jika dengan mendatangkan pelatih penuh kenangan masih belum juga memuaskan fans, boleh jadi Sang Presidenlah yang nanti diminta pergi.

Dan untuk Dian Sastrowardoyo, kamu cantiknya ngelunjak, Raisa kalah telak.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top