Metode Catur Dalam Sepakbola

oleh

Bak langit dan bumi, begitulah kiasan yang tepat jika catur dan sepak bola dianalogikan. Dibutuhkan tenaga ekstra kuat untuk memainkan sepak bola, dibanding catur yang jauh lebih sederhana dan tidak terlalu membutuhkan tenaga ekstra layaknya sepak bola. Dari segi popularitas pun sangat timpang. Jelas, sepak bola menang telak dari catur –bahkan popularitas sepak bola mengalahkan popularitas eksistensi Agama.

Catur memang tidak serumit dan semegah sepak bola. Bermain catur hanya membutuhkan papan 64 kotak hitam dan putih, dan 16 buah catur. Bandingkan dengan sepak bola yang membutuhkan lapang kosong untuk memainkannya. Walaupun perbedaan sepak bola dan catur sangat kontras, tetapi kedua olahraga ini memiliki tujuan yang sama, yaitu merangkai strategi untuk mengalahkan lawan.

Sepak bola dimainkan oleh 22 orang yang terbagi menjadi dua tim, sedangkan catur 32 buah dan terbagi dalam dua petak. Pemain sepak bola dan buah catur masing-masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda. Catur memakai istilah Raja, Menteri/Ratu, Kuda, Gajah, Benteng, dan Pion/Prajurit, seperti halnya dalam istilah kerajaan. Sedangkan Sepak bola memakai istilah Penjaga gawang, Bek, Gelandang dan Penyerang untuk menunjukan peran masing-masing pemain. Keduanya juga sama-sama mengenal istilah menyerang dan bertahan.

Sayangnya dalam hal ini, saya tidak membahas kultur maupun filosofi kedua olahraga ini. Saya ingin membahas strategi atau formasi dalam catur ke sepak bola. Tidak ada salahnya jika formasi dan strategi yang selama ini kita kenal dalam istilah catur diaplikasikan dalam bentuk sepak bola. Pada dasarnya, kedua olahraga memiliki kesamaan dalam fungsi dan peran masing-masing pemain/buah yang berbeda. Kesamaan antara catur dan sepak bola, bisa juga dilihat dari mobilitas, komparasi, skema permainan, kombinasi dan mencari serta menempati sisi/petak pertahanan lawan.

Namun ironisnya masih ada beberapa kalangan yang menolak mentah-mentah akan korelasi catur dan sepak bola. Adalah Arsene Wenger yang terang-terangan menolak segala bentuk spekulasi tentang strategi catur dan sepak bola. Wenger beragumen bahwa sepak bola adalah sepak bola, yang membuat keputusan adalah (pemain) yang di lapangan. Argumen Wenger benar adanya, bahwa penentu sebuah pertandingan bukanlah strategi atau formasi, melainkan pemain.

Layaknya film, pemain adalah aktor dan strategi adalah skenario. Skenario adalah adegan yang ditulis secara terperinci dan aktor adalah pelaku dari serangkaian jalan cerita yang sudah tertulis dalam skenario. Sebuah malapetaka jika aktor tidak memerankan peran sesuai skenarionya dan bisa dipastikan film itu film gagal dan tak layak untuk ditonton.

Sama halnya dalam sepak bola dan catur yang sama-sama membutuhkan skenario untuk meraih kemenangan. Fatal apabila sebuah tim tidak menyusun strategi permainan, pemain tentutnya bingung dengan posisi serta tugasnya di lapangan dan permainan pun akan terlihat semrawut.

Skenario juga tidak akan berhasil jika sang penulis, dalam hal ini pelatih, tidak menyusun serta merangkainya dengan tepat, tidak hanya sebatas instruktur senam yang selesai beri pelatihan langsung pulang ke rumah. Pelatih sepak bola harus memperhatikan setiap jengkal susunan skenario yang dirangkainya dengan detil, mulai dari susunan pemain, formasi apa yang dipakai serta menunjuk aktor utama untuk mensukseskan skenario yang telah dirancang.

Kembali pada permasalahan analogi antara catur dan sepak bola. Dalam olahraga catur, pemain dituntut untuk mencari kelengahan lawan dengan mengatur buah catur agar sesuai dengan skenario atau skema permainan yang diterapkan. Setiap buah memilki area dan jalurnya masing-masing, kuda yang jalan dengan jalur huruf L, raja yang hanya jalan satu bidak, dan menteri yang bebas kesana kemari sesuka hati. Dalam sepak bola pemain dengan tipe atau yang memiliki jalur seperti menteri dalam catur biasanya adalah gelandang atau play maker. Seorang gelandang harus bisa mencari ruang kosong lawan agar pemain lain bisa menempati sisi kosong tersebut. Fungsi dan tugas gelandang biasanya mengatur ritme permainan agar tak compang-camping. Kemudian pemain bertahan/bek yang jika diibaratkan dalam catur adalah benteng. Kuat, tangguh dan menjaga area raja/penjaga gawang agar tak diusik lawan. Peran ini dianggap peran paling vital, lengah sedikit saja maka lawan akan memanfaatkan.

Kombinasi permainan. Strategi tidak akan berjalan sesuai rencana jika tidak ada kombinasi antar pemain. Kombinasi ini meliputi menyerang, bertahan, menyerang dari sisi kiri ke kanan, lalu sebaliknya. Jika kombinasi ini tidak terjalin maka bisa dipastikan skema permainan tidak akan terorganisir dengan baik. Maka dari itu sangat diperlukan sosok yang mampu menjembatani setiap sisi/bidak permainan dan gelandang/menteri dianggap sesuai dengan tugas itu. Setiap pemain wajib berpikir sebelum/sesudah mengumpan bola, berlari dan menempati ruang kosong.

Mobilitas pemain. Ini adalah kunci untuk keberlangsungan sebuah permainan yang sesuai dengan skenario. Setiap pemain/buah diwajibkan bergerak sebisa mungkin untuk menempati sisi kelengahan lawan, mencari peluang untuk mencetak gol atau hanya sebatas membuka ruang posisi. Tanpa adanya mobilitas antar pemain, sangat sulit untuk memecah atau menempati area lawan.

Dominasi lini tengah. Ibarat jantung dalam tubuh manusia, begitulah peran gelandang di sektor lini tengah. Saking pentingnya lini ini, sangat diperlukan pemain gelandang yang mempunyai visi dan misi sebagai otak permainan. Jelas konsentrasi tertuju di area ini, pasalnya semua skema permainan, mulai dari menyerang hingga bertahan akan terpusat di lini tengah.

Analogi catur dan sepak bola ini sangatlah penting. Sebuah kesuksesan akan diraih jika semua rencana tersusun dengan rapi dan terorganisir dengan baik. Intensitas catur dalam mengolah strategi memang terbilang rumit dibanding sepak bola. Namun akan sangat baik jika metode strategi dalam catur bisa diterapkan ke dalam sepak bola. Seperti yang dikatakan Adam Wells dalam bukunya berjudul Football & Chess: Tactics, Strategy, Beauty yang membahas tentang metode catur dan sepak bola “At the most fundamental level, football and chess are games that involve using space effectively and getting the timing right to break down an opponent’s defence whilst preventing them from breaking down yours.”

 

1 Comment

  1. kenapa gue mampir ke sini, buat baca, dan trus sekarang malahan komen…
    judulnya itu loh, metode catur dalam sepak bola, scara gue lagi hobi-hobinya main catur, sama main bola kasti *emaap beda
    kalo dipikir-pikir, emang ada hubungannya sih, sama-sama menyerang pertahanan lawan, dan butuh strategi jitu untuk menerobosnya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top