MENANTI PERANG DUNIA KETIGA

oleh

Senin dinihari waktu Indonesia di tanggal 14 Juli 2014, akan tergelar partai terakhir bertajuk Final Piala Dunia 2014 di kota Rio de Janeiro Brazil. Maracana Stadium yang memiliki nama lengkap Estadio Jornalista Mario Filho akan menjadi tempat akhir dari puluhan episode pertandingan di fase sebelumnya yang menyisakan Jerman dan Argentina. Duel dua negara dari dua kultur sepakbola yang berbeda. Duel final yang merusak skenario harapan mayoritas pecinta sepakbola dunia untuk menyaksikan laga final antara Brazil vs Argentina. Maaf, saya ralat, agak tidak terkesan sok tahu kalimat “harapan mayoritas pecinta sepakbola” akan saya ganti saja dengan “harapan saya”.

Brazil yang di prediksi mampu tiba di partai final dengan selamat rupanya harus tersingkir dengan tidak hormat dari Timnas Muenchen featuring Dortmund. Poros kekuatan Jerman di Piala Dunia 2014 ini terletak pada Hummels di lini belakang, Kroos di lini tengah serta Thomas Mueller di lini depan.  Tak heran saya pribadi menganggap pemain seperti Khedira, Howedes, Klose hingga Ozil saya ibaratkan jika dalam sebuah band mereka hanyalah additional player, ikut tour tapi tidak punya space “special thank to” di lembaran  album dalam bentuk kaset. Jerman melakukan lagi kemampuan luar biasa mereka dalam menghancurkan raksasa lain nya ketika menghadapi Brazil di semifinal. 40 tahun lalu tepatnya di tahun 1974, ketika Belanda menghebohkan dunia sepakbola dengan memiliki Rinus Michels sebagai “bapak Total Football” di tambah pemain jenius dalam diri Johan Cruyff, Jerman tanpa banyak pemberitaan mengenai skuadnya diam diam mengamati dengan detail setiap lekukan elok Total Football yang melegenda itu hingga akhirnya tiba waktunya  untuk Jerman mendikte Belanda lewat kaki kaki kuat di bawah komando Gerrard Muller dan Sang Kaisar Franz Beckenbauer. Diego Maradona yang di tahun 1986 mampu  menyihir dunia di buat nangis terisak 4 tahun kemudian ketika Andres Brehme dengan sempurna mengeksekusi penalti untuk kemudian menjuarai Piala Dunia 1990 di bawah asuhan Sang Kaisar Franz Beckenbauer. Dan di 2014 ini, Jerman lagi lagi menunjukan kualitas permainan yang tergolong kelas partai final ketika menghancurkan Brazil dengan skor yang saya sendiri tidak sampai hati untuk menuliskan nya. Silahkan googling sendiri untuk mengetahui hasilnya. Jarak dari Belo Horizonte ke Maracana Stadium yang mencapai lebih dari 2000 km menjadi terasa dekat jika di bandingkan dengan jauhnya kualitas permainan yang di tampilkan Brazil. Partai semifinal antara Jerman vs Brazil bisa anda tonton lagi di situs Brazzers.com dengan keyword “Europe Fucks Latinas”

Lawan Jerman di partai final nanti adalah Argentina yang datang ke Brazil dengan sang mega bintang Lionel Messi sebagai kapten. Tim besutan Alejandro Sabella perlahan tapi pasti mampu sampai di partai final dengan permainan yang tidak tergolong cantik tapi memberikan hasil yang memuaskan. Argentina di Piala Dunia kali ini bagi saya pribadi adalah Argentina yang pragmatis, tak perlu banyak goyangan layaknya tarian tango, namun tetap memuaskan dengan liukan seadanya. Sabella yang di tahun 2009 lalu mampu mengantarkan Estudiantes menjadi juara di Copa Libertadores setelah menahan imbang Cruzeiro  0-0 di La Plata untuk kemudian menang 2-1 di Belo Horizonte, ternyata mampu meracik formula yang bisa di jalankan dengan baik oleh pasukan nya di atas lapangan. Sabella cukup sukses menyatukan kemampuan individu pasukan nya untuk bekerja sama secara tim dengan baik. Formasi Sabella yang 4-3-3 namun seringkali bertransformasi menjadi 4-2-3-1 juga mampu memberikan kenyamanan bermain bagi Lionel Messi sehingga ia terlihat di beri kebebasan menjelajah ke seluruh bagian lapangan. Sisi pertahanan Argentina yang dalam beberapa tahun terakhir di nilai lemah dan rapuh, di bawah asuhan Sabella berubah menjadi barisan pertahanan yang kokoh dan tangguh. Partai di semifinal lawan Belanda menjadi bukti sahih betapa rapatnya barisan pertahanan Argentina . 2 central bek Argentina yang di bentengi  Mascherano dan Biglia mampu memutus aliran bola bola gelandang Belanda yang di tujukan untuk Robben. Dan ketika aliran bola sudah terhenti sebelum sampai di kaki Robben, Argentina bisa dengan nyaman memainkan bola bola pendek yang di mulai dari kaki Mascherano.

Satu hal yang menarik dari Jerman di bawah asuhan Joachim Loew kali ini adalah tim tersebut mampu bermain dengan baik sejak menit awal pertandingan. Jerman tidak bisa lagi di analogikan seperti mesin diesel yang butuh waktu sebelum benar benar panas. 6 partai yang membawa Jerman sampai ke final kali ini, 3 di antara nya di menangkan setelah mencetak gol cepat di 35 menit babak pertama. Yang lebih unik, 3 gol cepat pertama di 3 partai tersebut tercipta di awali dari skema bola mati. Ini tentu harus di waspadai betul oleh Argentina yang secara fisik tidak se menjulang para pemain Jerman. Lini belakang Argentina harus cermat dan meminimalisir pelanggaran ketika pemain Jerman memasuki wilayah pertahanan mereka. Penampilan impresif duo Mascherano dan Biglia harus mampu di ulangi di partai puncak agar tidak menjadi jajahan empuk trio Kroos – Schweinsteiger – Khedira. Sabella harus memberi instruksi khusus kepada Enzo Perez bila memang di turunkan untuk ikut serta bertahan ketika lini tengah Jerman menguasai bola. Pola bertahan secara zona yang di terapkan Sabella di semifinal sangat mungkin di terapkan lagi di partai final meski pemain semodel Thomas Muller sebaiknya di redam dengan pola man to man marking mengingat betapa berbahaya nya Muller bila bergerak tanpa pengawalan. Dari sisi Argentina, menghadapi Jerman yang kuat di segala lini di tunjang fisik kekar, Sabella bisa mencontek dan mengaplikasikan pola Barcelona di era Guardiola dengan memainkan bola bola pendek akurat dengan jarak antar pemain yang saling berdekatan. Pola tiki-taka yang dalam setahun terakhir di sebut sudah mulai terbaca dan using, masih bisa menjadi senjata ampuh merontokan Jerman apabila para pemain Argentina mampu menciptakan ruang dan memanfaatkan nya. Saya menggunakan kata “menciptakan” yang berarti ruang tersebut memang harus di buat langsung oleh Messi dan kawan-kawan karena Jerman adalah sebuah tim yang mempunyai manajemen ruang yang begitu disiplin di segala lini. Ketika nanti di suatu momen Messi menguasai bola, pemain lain harus berada dekat dengan nya agar Messi bisa melakukan kombinasi satu dua sentuhan yang sangat mungkin menciptakan ruang di salah satu lini tersebut. Aguero, Lavezzi atau Di Maria jika memang sudah fit juga berpotensi bisa menciptakan ruang dengan pergerakan yang eksplosif. Para penggedor Argentina harus siap beradu badan dengan punggawa punggawa kekar Jerman seraya berharap mendapat keuntungan dari pelanggaran yang nanti nya di eksekusi oleh Lionel Messi.

Jika pada akhirnya terlontar sebuah pertanyaan yang di tujukan kepada saya pribadi soal siapa yang akan menjadi juara Piala Dunia 2014 kali ini, dengan pasti saya akan menjawab… Argentina. Saya bukan anti Jerman, namun saya menilai bahwa penampilan konsisten Argentina di Brazil kali ini layak mendapatkan ganjaran gelar juara yang terakhir mereka raih di Mexico 1986. 24 tahun absen di partai final mungkin akan membuat gemetar seluruh personil Argentina ketika memasuki megahnya Maracana Stadium. Namun, sekali lagi bahwa kerja sama dan kekompakan tim yang tahun ini jelas lebih solid adalah modal yang sangat cukup untuk menaklukan kekuatan Jerman entah dengan 90 menit atau melalui babak adu penalti. Oh iya, FIFA menunjuk langsung Carles Puyol untuk membawa trophy Piala Dunia yang 2010 lalu di raih Spanyol untuk di bawa langsung ke Maracana Stadium. Di temani model cantik Brazil bernama Gisele Bundchen, Puyol akan membawa trophy maha agung itu yang akan di bungkus koper elegan karya Louis Vitton masuk ke Maracana Stadium beberapa saat sebelum laga kick off di gelar. Ah Carles Puyol, saya sangat yakin bila Puyol akan memilih tangan Lionel Messi yang ia kenal baik untuk mengangkat trophy Piala Dunia di akhir laga nanti. Terlebih lagi, Puyol mungkin masih sedikit menyimpan dendam pribadi kepada beberapa punggawa Jerman termasuk sang kapten Philip Lahm yang pernah memporak-porandakan klub tercinta nya dengan gelontoran 7 gol tanpa balas di ajang Liga Champions tahun lalu. Jika telaah ngawur saya mengenai pilihan saya bahwa Argentina akan menjuarai Piala Dunia 2014 ini masih belum cukup untuk meyakinkan anda, saya tambahkan satu hal lagi, wasit di laga final nanti adalah Nicola Rizzoli. 2 laga Argentina sebelumnya yaitu kala menghadapi Nigeria dan Belgia  di Piala Dunia 2014 ini di pimpin Rizzoli dan semua menghasilkan kemenangan untuk Argentina.  Yang lebih unik lagi, dua negara yang di kalahkan Argentina ketika di wasiti oleh Rizzoli adalah negara yang di latih oleh pelatih asal negara itu sendiri. So, kita semua tahu berasal dari mana Joachim Loew dan semoga anda bisa dengan bijak mempertaruhkan uang anda kepada tim yang mana.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Wallpaper

Go to Top