Zanetti : Pahlawan Gotham Di Dunia Nyata

oleh

“A hero can be anyone, even a man doing something as simple and reassuring as putting a coat on a young boy’s shoulders to let him know that the world hadn’t ended”

Pahlawan bisa menjadi siapa saja, begitu yang diucapkan Christian Bale ketika memerankan Bruce Wayne dalam film The Dark Knight Rises. Pahlawan bukan hanya orang yang mampu menjaga apa yang dia cintai, apa yang ingin dijaga, tetapi pahlawan adalah orang yang mampu menggugah orang lain untuk melakukan hal yang sama, berjuang untuk apa yang dia cintai.

Saya mencoba mengingat tiap tiap scene dalam film The Dark Knight Rises tersebut, membayangkan tiap adegan dari film yang hampir satu tahun lebih belum saya tonton ulang (ini rahasia: sebenarnya Batman bukan superhero favorit saya). Setelah berusaha mengingat, dan mudah mudahan tidak salah, bukankah peran Batman dalam film tersebut lebih sebagai motivator ?? Ketimbang sebagai pemeran tunggal untuk melawan kejahatan ??

Bagaimana dia bisa menjadi sangat dibutuhkan di Gotham City, baik saat menjadi Bruce Wayne, ataupun saat menjadi Batman. Paling penting, bagaimana dia bisa membuat sosok pahlawan baru dalam diri John Blake (sampai akhirnya dia menjadi Robin pada akhir cerita), pada Jim Gordon, dan bahkan mampu merubah pandangan si Beatiful Thief , Catwoman.

Sulit menemukan sosok Bruce Wayne dalam kehidupan nyata.

Tapi, Hei, sebentar, bukankah ada orang seperti itu ?? Pahlawan yang baru saja mundur dari Medan Perangnya ??

Ya, bukankah sosok Bruce Wayne  sama seperti  dia, legenda hidup itu.

Dia yang bernama Javier Adelmar Zanetti.

Alih alih menyamakan sosok Javier Zanetti sebagai Superman seperti apa yang biasa orang katakan, saya lebih suka mensejajarkan Zanetti dengan Bruce Wayne, tokoh di balik kostum Batman. Tak seperti Superman yang memiliki kekuatan super, Batman hanya manusia biasa yang memiliki pengetahuan luas, intelegensi yang tinggi, ketahanan fisik diatas rata-rata manusia gara gara porsi latihan yang luar biasa, dan rasa cinta yang luar biasa terhadap Gotham City, yang membuat dia rela melakukan apa saja untuk menjaganya. Dan, bukankah Zanetti seperti itu ??

Pada sekuel terakhir film Batman, diceritakan Bruce Wayne “cuti” menjadi Batman untuk waktu yang cukup lama, cedera “mental” dia karena gagal menjaga Rachel, orang yang dia sayang (Yang diceritakan di seri sebelumnya).  Ah, cerita ini benar benar mirip dengan Zanetti, bukankah dia juga cedera di awal musim terakhirnya bersama Inter?? Dan hei, lihat lagi kesamaannya, baik Zanetti ataupun Batman “lemah” sekembalinya dari cedera panjang. Merekapun terasing, “dibuang”, bedanya Batman dibuang ke “penjara” oleh Bane, sedangkan Zanetti dibuang ke bench oleh Mazzarri, Bane = Mazzarri ?? Jangan dulu, nanti saja belakangan.

Bagaimanapun Gotham City membutuhkan figur pahlawan, dan pemimpin tentu saja. Gotham memiliki John “Robin” Blake yang dibantu oleh Jim Gordon untuk menjadi pahlawan dan pemimpin Gotham untuk sementara. Sedangkan Esteban Cambiasso, Walter Samuel, Andrea Ranocchia dan bahkan Yuto Nagatomo bergantian menjadi “Robin” untuk Inter. Dan, tentu saja, sebagai pemeran utama dalam film kepahlawan ini, sang pahlawan akan selalu ditunggu. Tak mudah memang, dalam proses penantiannya, Robin di gotham ataupun di Inter, mengalami kesulitan dalam tiap langkahnya tanpa protagonis sejarah yang sebentar lagi ditulis. Tanpa pahlawan,  Gotham dan Inter nyaris terpuruk. Bukan melulu masalah kekuatan, boleh jadi para pahlawan pengganti punya kekuatan yang lebih besar dari pendahulunya. Dalam satu kesempatan Robin terlihat lebih sigap dan cekatan dibandingkan Batman, Pun dengan Yuto Nagatomo yang mampu berlari lebih cepat dibanding Zanetti sekarang. Jika hanya membahas kekuatan, para pahlawan tak kembali pun, yang ditinggalkan tak akan terlalu peduli.

Bane tentu tidak takut dengan kekuatan Batman,  atau jangan jangan malah Bane merasa lebih kuat dibanding Batman. Ayolah, apa yang perlu ditakuti dari pemain bola berusia 40 tahun ?? pemain yang cuma mencetak 23 goal selama hampir 20 tahunnya berseragam Inter. Apa ?? Sekali lagi bukan tentang kekuatan, adalah kharisma dari si pembuat sejarah itu yang membuat lawan lebih suka mereka tidak ada. Dan yang lebih menakutkan, kehadiran dari mereka bisa membuat semangat disekitarnya menjadi berlebih. Bayangkan para pejuang Gotham City, mendapat chakra kyubii dari Naruto. Seperti itulah yang terjadi di Giuseppe Meazza , 10 May 2014.

***

Alih alih melawan Milan tim bebuyutan satu kota, atau Melawan juventus yang secara tradisi selalu melahirkan pertarungan panas. Di musim 2013/14 Estadio Giuseppe Meazza justru penuh karna satu nama: Javier Zanetti. Yaa, pertandingan melawan Lazio dinihari kemarin, menjadi laga terakhir Zanetti di kandang (dan mungkin benar benar menjadi laga terakhirnya di Inter). Dan itu cukup menjadi alasan  supporter memenuhi Giuseppe Meazza, hal yang jarang terjadi selama 2-3 musim terakhir. Ini untuk kalian Interisti, apa kalian setuju bahwa pertandingan lawan Lazio semalam, adalah pertandingan terbaik Inter di musim ini?? Kontras dengan permainan sarat gengsi saat melawan Milan minggu kemarin. Dalam konferensi pers sebelumnya Mazzarri mengatakan alasan tidak dimainkannya Zanetti di laga derby (yang membuat ribuan interisti murka) adalah demi mencari kemenangan. Logika itu yang mungkin yang membuat para “robin” di Giuseppe Meazza mengamuk, mereka ingin bahu membahu di pertarungan terakhir “batman”. Sedangkan “Alfred” Mazzarri mengizinkan “Batman” ikut campur, hanya jika hasil pertarungan sudah berpihak pada Inter. Tertinggal terlebih dulu di menit 6, “Robin” dibantu penghuni Gotham di Giuseppe Meazza, membalikkan keadaan menjadi 3-1 , dan sang pemimpin pun nampak bersiap di pinggir lapangan.

Menit ke 52, pertandingan pamungkas Inter di Giuseppe Meazza musim ini, menjadi moment paling mengharukan selama beberapa tahun terakhir. Sosok pemuda yang 19 tahun silam datang jauh dari negri Tango, masuk ke lapangan Giuseppe Meazza untuk yang terakhir kalinya sebagai pemain. Final Coundown menjadi soundtrack pelepas kepergian sang legenda. Dasar manusia aneh, di usianya yang 40 tahun 8 bulan, masih sempat sempatnya jatuh, kemudian bangkit dan melewati beberapa orang pemain. Zanetti bukan aktor film drama ternama yang kerap membuat penontonya berlinang air mata, tapi dia berhasil membuat Giuseppe Meazza seperti itu, tangis dari Interista jika dikumulatifkan dari seluruh penjuru dunia mungkin bisa mencukupi kebutuhan minum dan mandi satu kesebelasan selama satu bulan penuh.  Menit ke 90, skor akhir 4-1 untuk kemenangan Inter, tak lama wasit meniup peluit akhir.

“I had thought of a role as president, But I know that he’ll be vice-president, which I imagine is something prestigious for him, I’m glad this was thought up. It’s up to him to do well in this role but he certainly will do because he has the right head for it.” – Massimo Moratti

Setelah itu, penghormatan terakhir diberikan Inter dan seluruh penghuninya kepada sang legenda. Lihat apa yang dia terima. Ada sebuah pemeo tiap kali ada argumen mengenai hak dan kewajiban sebagai seorang manusia. “Jangan pernah bertanya apa yang dia berikan untukmu, tanyalah apa yang sudah kau berikan untuknya”. Dan untuk Zanetti, atapun Inter. Kedua belah pihak telah memberikan yang terbaik untuk masing masingnya, Zanetti memberikan segalanya untuk Inter, ditambah loyalitasnya yang tak bisa diukur, dan di penghujung karirnya, Inter memberikan apresiasi tertinggi untuk Zanetti.

Ah, Paolo Maldini pasti iri.

Dan diakhir musim, Zanetti memutuskan berhenti dari panggung yang membesarkan namanya. Hal serupa dilakukan Christian Bale dia memutuskan berhenti menjadi Bruce Wayne atau Batman, beberapa saat setelah memenangkan pertarungkan melawan Bane. Mereka merasa cukup untuk itu, harus ada penggantinya, sebelum tua tanpa arti. Ah, baik Inter, ataupun Gotham tak bisa dibiarkan kosong tanpa pemimpin, tanpa pahlawan, perlu sesegera mungkin mencari Bruce Wayne pengganti, karena mereka butuh itu, dan “Robin” tak mungkin terus-terusan dibiarkan sendiri.

Zanetti undur diri, dan sepakbola kehilangan traktor terbaiknya.

Selamat Jalan.

Terimakasih telah menjadi simbol kesetiaan, terimkasih telah memberi kami kesempatan belajar, untuk menjadi seorang pemimpin yang dicintai.

Adioz Zanetti4

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

  1. Suka banget artikel ini . Thanks ucha. Udh 3 hri sejak zanetti melepas ban kaptennya, dan air mata ini ttp mngalir deras. Ntah sampai kpn. Yg jlas akn sangat susah move on sosok sang kapten. Dan percayalah inter akan kmbli k masa emasnya saat inter mnemukan sosok itu, sosok yg dpt mnggantikan sang traktor bhkan mungkin lebih. Adakah?

Tinggalkan Balasan ke andhikaMPPP Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top