Re : Surat Terbuka Javier Zanetti Untuk Interisti

oleh

“Kami akan menunggu pertandingan yang tak akan pernah usai, yang akan kau mulai”

Hallo Kapten, aku baru saja selesai membaca surat darimu. Di awal surat kau menulis “Untuk Pendukung Inter dan pecinta Olahraga di seluruh dunia” . Ah , aku termasuk di dalam itu tadi kapten, jadi, bolehkan aku membalas surat ini padamu ?? Juga untuk mewakili mereka yang tidak sempat membalas suratmu, atau mungkin terlalu sibuk untuk membacanya.

Tahukah kau kapten, tak pernah aku niatkan sebelumnya, untuk menjadi pendukungmu, atau mendukung Inter (klub yang tak bosan kau bela 19 tahun terakhir). Aku bersumpah kapten, aku tidak sengaja menjadi bagian dari pendukungmu. Aku ingat saat itu, sebelum berangkat sekolah sembari memakan beberapa lembar roti,  aku melihat cuplikan pertandingan antara Inter vs Lazio di final piala UEFA (saat itu aku terlalu muda untuk menonton pertandingan tengah malam- dan sejujurnya saat itu, aku tak tahu apa itu Piala UEFA). Tak mungkin kau lupa, kau mencetak 1 gol dipertandingan itu, dan selebrasi gol mu itu kapten yang menarik perhatianku, seorang “anak muda” meluapkan kegembiraannya dengan berlari sembarang sambil mengangkat setengah jerseymu (yang aku lihat belakangan itu menjadi selebrasi khas mu, tiap kau sempat mencetak gol, bukan begitu kapten??). Hei kapten, aku berani bertaruh, bahkan kau pun pasti tidak menyangka tendanganmu tadi akan menghasilkan gol, ayolah itu bukan kebiasaanmu kan ?? Haha.

 Aku belum menjadi pendukungmu saat itu.

Tak lama setelah itu, aku melihat sebuah pertandingan di Piala Dunia 1998 antara Argentina melawan Inggris, kali ini aku menonton penuh pertandingan itu dari televisi kecil di rumahku- meskipun itu hanya sebuah siaran tunda . Kakak perempuanku yang mengajak aku untuk menonton pertandingan dua negara itu, apa lagi alasannya kalau bukan karena “Si Tampan” David Beckham dan tahukah kapten ?? Kakakku menangis saat Beckham mendapat kartu merah, “Ayolah ini Cuma sepakbola, apa yang harus kau tangisi, kak??” kataku saat itu. Kartu merah itu juga yang menjadi berita besar di media massa dunia, hampir semua membicarakan moment tersebut, dan aku bukan salah satu diantaranya kapten, percayalah aku lebih memperhatikan orang yang mencetak goal penyeimbang di pertandingan tersebut, dengan selebrasi yang kulihat di pertandingan yang kulihat sebelumnya, itu kau kapten, lagi lagi kau.

Dan aku memutuskan menjadi pendukungmu saat itu.

Kau bekerja keras saat latihan, menjalin banyak relasi dengan teman ataupun lawan, peduli terhadap sesama, dan belajar dari semua yang kau lakukan. Dan kau bilang itu semua diajarkan oleh ayahmu. Astaga, itu juga yang diucapkan ayahku, kita memiliki ayah yang luar biasa kapten, nomor satu di dunia, kau harus setuju dengan itu. Lalu, ayahku juga berkata “Kita akan mendapatkan hasil yang luar biasa, dengan pengorbanan dan kesetiaan terhadap apa apa yang kita cintai” apakah ayahmu mengatakan hal itu juga kapten?? Ah, tak perlu kutanyakan seharusnya, melihat apa yang kau lakukan selama ini, pasti ayahmu mengatakan hal sama pula. Ayah sosok yang luar biasa hebat untukku kapten, dan melihat surat yang kau tulis untuk kami, kita memiliki satu persamaan kapten, kita berdua adalah fans nomor satu untuk Ayah. Bedanya kau sudah melakukan semua yang diinginkannya, sedangkan aku belum. Doakan aku untuk itu kapten.

Aku jadi teringat apa yang dikatakan Paolo Maldini dan juga Ryan Giggs, sebagai lawan, kau adalah sosok yang paling mereka hormati. Aku mengerti itu kapten, sangat mengerti, mungkin kau tidak ingat, aku salah satu orang yang berambisi dapat berjabat tangan dan memelukmu saat kau datang kesini (Indonesia) 2 tahun silam. Tak bisa aku lupakan kau tersenyum dan mengacungkan jempolmu padaku dan beberapa temanku yang memilih duduk menunggu daripada mengganggu kau -dan teman-temanmu dari Inter yang datang kesini- yang sedang latihan santai di pinggir kolam renang itu. Itu aku kapten, yang tertawa saat kau bersenandung melewati meja (dan juga kursi) tempat kami duduk.  Aku tahu kau sosok yang layak dihormati kapten, aku merasakannya saat kau bersedia berjabat tangan dan memelukku, dan tak keberatan saat aku meminta tanda tangan dan foto bareng , meskipun aku kesal kapten, karena hasil fotonya jelek, aku tidak berbakat untuk foto selfie ternyata, atau karena aku terlalu tegang duduk tepat disampingmu, entahlah. Ah iya, dan selain kapten yang fantastis, kau juga seorang penari yang hebat kapten, aku melihat kau dan (Esteban) Cambiasso menari sambil menyanyikan lagu  Ai se Te Pego . Dan kau ingat saat kau memimpin teman temanmu membuat barisan ular saat menaiki panggung ?? Aku bersama temanku ada dibarisan paling belakang kapten, menguntit tepat di belakang (Samuel) Longo sebelum aku dimarahi dan diminta turun dari panggung oleh security. Ah iya, sampaikan salamku pada Longo, sungguh dia adalah penari yang buruk, dia harus belajar banyak padamu.  

Aku beruntung mendapat pengalaman tersebut, dan sungguh aku merindukannya. Seperti aku akan merindukanmu, musim depan kau sudah tak bermain lagi, semoga saja tak ada pemain yang mau memakai no 4 milikmu kapten atau semoga saja No 4 dipensiunkan juga oleh klub, aku malas membayangkan Jersey Inter no 4 dengan nama selain J.Zanetti di punggungnya. Ini rahasia kapten, dulu aku malas mengoleksi jersey Inter yang bertuliskan namamu, terlalu mainstream kapten, dan aku tidak suka, tapi sekarang aku betesemoga kau mengerti apa itu bete– saat aku ingin mengoleksi jersey dengan namamu di punggung, tabungan ku sudah tidak cukup untuk memulainya lagi. Sial.

Tahukah kau kapten, beberapa temanku telah menikah dan memiliki anak, banyak dari mereka yang memberi nama anak lelakinya dengan namamu. Javier atau Zanetti atau bahkan Javier Zanetti tertulis di akta kelahiran mereka, tentu saja itu semata mata karna bukan aku saja yang mengagumimu, bisa kau bayangkan betapa mereka mengidolakanmu sampai sampai mereka rela memberikan nama pada anak mereka, seperti ayahmu memberikan nama untukmu. Dan ada doa agar suatu saat nanti anak mereka bisa menjadi pria hebat seperti kau kapten. Dan dengan izinmu, aku juga jika sudah menikah dan memiliki anak lelaki kelak, ingin sekali menyematkan namamu di nama anakku, Nauffal Daffa Adelmar Partakusumah, nama yang bagus bukan?? Aku sandingkan namamu dengan nama ayahku, dua lelaki hebat, nomor satu di dunia saat ini.

Satu lagi kapten, bukan kau yang harus berterimakasih, kamilah yang akan melakukan itu, dengar ini kapten.

“Jadi aku dan teman temanku mengucapkan terimakasih. Penggemarmu ini menyampaikan penghormatan yang luar biasa untukmu. Betul, kau tidak gantung sepatu, kau terlalu muda untuk itu. Jadi kami akan menunggu pertandingan yang tak akan pernah usai, yang akan kau mulai, dengan peranmu yang berbeda, dan rasa kagum kami yang selalu sama.”

“Terimakasih, Javier Zanetti 4 Ever”

Penggemarmu, yang akan selalu begitu.

P.S : Aku membuat beberapa wallpaper tentangmu di blogku kapten, semoga kau mau melihatnya.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top