SULIT MENJADI PENGGANTI

oleh

“ I don’t have expectations. Expectations in your life just lead to giant disappointments.”

Klub (yang pernah jadi) penguasa Liga Inggris secara resmi mengumumkan kabar (yang mungkin) mengejutkan. Manchester United secara resmi memecat “The Chosen One” David Moyes Setelah kurang lebih 10 bulan duduk di kursi panas “Theatre of Dreams”

Sepanjang sejarah pesepakbolaan, bergantinya kursi seorang pelatih dari klubnya didasari oleh 2 hal.

1. Berdasarkan kenginan si pelatih itu sendiri, entah mencari tantangan baru, entah pensiun.

2. Berdasarkan hasil buruk yang didapat klub tersebut dalam rentang waktu tertentu.

Sir Alex Ferguson sebagai Sang pendahulu secara terhormat lengser dari posisinya sebagai pelatih Setan Merah dengan mencatatkan banyak rekor, dan membuat sejarah yang hampir mustahil untuk diulang oleh siapapun. Pensiun dengan menunjuk David Moyes sebagai penggantinya. Beban yang  maha berat.

Bisa ditebak, melihat klasemen sementara Liga Inggris hingga bulan April 2014 dapat menjadi petunjuk mudah bagi orang awam mengapa Moyes harus lengser dari jabatan  nya. Belum lagi kegagalan MU di berbagai ajang yang di ikuti di tambah betapa sangat tidak enaknya permainan MU di tonton jelas menjadi aib Moyes yang ternyata hanya di maklumi hingga sehabis partai melawan Everton dimana MU kalah dengan skor 0-2. Klub yang selama 11 tahun sebelumnya dilatih olehnya, klub yang seharusnya dikenal baik olehnya.  “Malaikat pencabut nyawa di goodison park” seolah jadi pertanda.

Selasa 22 April 2014 pukul 08.30 pagi waktu Manchester, “The Chosen One” resmi dipecat.

620x413xgrim-reaper-moyes-2166792.jpg.pagespeed.ic.6E1MLh4CFlAnda bisa bayangkan betapa tidak nyaman nya diri anda saat harus kehilangan pekerjaan di pagi hari? 08.30 pagi di Indonesia biasanya masih di isi dengan kegiatan ngopi santai, atau malah terjebak kemacetan kota besar. 08.30 pagi dimana biasanya masih di isi dengan kegiatan memposting moment quotes ala motivator bijak di situs jejaring sosial Path justru menjadi mimpi buruk bagi seorang David Moyes. Jika Moyes masih semuda saya, mungkin ia akan berujar, “Ga bisa siangan dikit apa???”. Dalam hal ini, saya membela hak pagi hari Moyes yang jelas di lecehkan oleh dewan direksi Manchester United. Meminjam kalimat singkat yang tertulis dalam bentuk tattoo di badan seorang Demi Lovato, “ Stay Strong” Moyes…

Mungkin selepas ini, David Moyes akan membuat grup dengan Roberto Di Matteo yang “ga kalah pagi” saat dipecat Chelsea beberapa waktu silam.

Setelah pemecatan David Moyes, lalu muncul banyak pertanyaan dengan akhiran kah, Haruskah? Pantas kah? Wajar kah?. Ketiga pertanyaan tadi akan coba saya jawab secara langsung dalam sebuah opini saya sendiri. Setiap pemecatan seorang pelatih di tengah kompetisi sebenarnya bukan pilihan yang tepat mengingat mencari pengganti nya juga suatu tugas yang sulit. Mental para pemain juga jelas akan terusik mengingat semua pemberitaan media menjadi menjurus ke tim mereka. Pelatih baru sementara bisa saja membawa pola main dan formasi yang benar benar baru dan para pemain mungkin belum fasih mengaplikasikan nya di lapangan. Pantas kah David Moyes di pecat hanya setelah 10 bulan menangani tim peninggalan Sir Alex Ferguson? Saya pribadi akan mengatakan tidak. 10 bulan bagi mereka yang menjalin hubungan tanpa status mungkin akan terasa lama dan sangat menyiksa. Namun 10 bulan menangani sebuah tim yang sebelumnya di pegang oleh orang yang sama selama 26 tahun jelas sebuah rentang waktu yang sangat sebentar. Saya membayangkan bagaimana sulitnya David Moyes menanamkan filosofi sepakbola nya ke para pemain yang sebelumnya di didik oleh Sir Alex Ferguson. Moyes harus secara perlahan dan pasti meyakinkan anak asuhnya dengan kalimat, “ I’m not Fergie, I have new tactics for us.” Memang tidak ada seorang pun yang berani menjamin bahwa bila di berikan waktu lebih lama lagi Moyes akan memberikan hasil positif bagi MU, namun menghakimi seorang pelatih baru bahkan sebelum musim berakhir juga bukan tindakan tepat dan bisa di bilang tidak wajar.

Ekspektasi tinggi membumbung ketika Sir Alex Ferguson memilih David Moyes sebagai suksesor nya. Asa di apungkan tanpa melihat bagaimana track record Moyes sebelumnya yang sebenarnya tergolong biasa-biasa saja. Beban yang di sematkan di pundak Moyes dalam bentuk ekspektasi tinggi menurut saya pribadi terlalu berlebihan. Skuad yang miliki Moyes pun tidak mendapat banyak amunisi baru dan hanya mewariskan peninggalan Fergie. Moyes hanya mendapat tambahan amunisi seorang Marouane Fellaini di awal musim dan Juan Mata di Januari ketika para tim pesaing lain kedatangan pemain bagus dan sesuai dengan kebutuhan tim nya. Kedatangan Juan Mata sempat di harapkan mampu menjadi penyelamat karier Moyes secara tidak langsung namun Juan Mata bukanlah Harry Potter yang serta merta mampu menyihir tim lain untuk tampil bodoh ketika menghadapi Manchester United. MU di awal kepemimpinan Moyes masih belum mampu mendapatkan seorang gelandang serang nomor wahid seperti yang di idamkan Fergie. Bila sebelumnya di Everton Moyes mampu meracik pemain-pemain biasa saja menjadi sebuah kesatuan yang solid, Moyes di MU justru terlihat bingung harus menerapkan pola main seperti apa terbukti dengan selalu berganti nya line up MU di setiap partai nya. Sebagai status dan jabatan yang di sandang, Moyes memang manjer tim Manchester United, tapi pada kenyataan nya, Moyes tak ubahnya orang asing di lingkungan baru yang tak tahu dengan jelas apa yang harus di lakukan nya. Hal itu makin di perparah dengan harapan dan ekspektasi tinggi para penggemar yang ujung-ujung nya menjabarkan fakta pembanding antara seorang David Moyes dengan Sir Alex Ferguson. Memang ayah Moyes dan ayah Fergie bekerja di perusahaan desain pembuat kapal yang sama di Govan Skotlandia, namun membandingkan kedua nya adalah kekeliruan yang sangat tidak relevanDavid Moyes.

Saya jadi teringat kejadian yang nyaris serupa dengan di kota Manchester yaitu di kota Milan di musim 2010-2011 lalu. Kala itu, Inter baru saja memenangi 3 gelar prestisius dalam satu musim dan belum mampu di ikuti oleh tim Italia lain nya hingga saat ini. 5 hari setelah euforia di Bernabeu, Inter harus kehilangan sosok pelatih Jose Mourinho yang memilih tantangan baru dan hengkang ke tanah Spanyol. Lalu datang lah pria Spanyol bernama Rafael Benitez yang di harapkan mampu mempertahankan hegemoni Inter di Italia maupun di Eropa. Benitez yang kala itu jelas-jelas tidak mau skuad nya terus berada di bawah bayang-bayang Jose Mourinho berusaha sangat keras memposisikan dirinya sebagai sosok yang baru dan tidak melulu di bandingkan dengan sosok terdahulu nya. Benitez bahkan harus mencopot semua foto jose Mourinho di Appiano Gentile dengan maksud agar anak asuhnya bisa fokus pada rencana dan taktik baru yang ia bawa. Ekspektasi Interisti kala itu pun sangat tinggi terhadap Benitez, dan Benitez pun masih mampu menjawab ekspektasi itu dengan gelar juara di Piala Dunia Antar Klub setelah mengalahkan TP Mazembe di final dengan skor 3-0. Ironisnya, 5 hari setelah kemenangan tersebut Rafael Benitez dan Inter secara resmi memutuskan kerja sama yang berarti Inter tidak lagi di latih oleh Rafel Benitez. Bagaimana pun usaha Bentiez agar tidak samakan dengan Jose Mourinho, nyatanya ia dan Mou sama-sama pergi dari Inter  5 hari setelah berhasil meraih gelar yang berbeda. Suatu kebetulan yang sulit di percaya.

Dari dua kisah di atas, saya pribadi bisa menarik benang merah bahwa betapa sulitnya menjadi seorang pengganti, terlebih menggantikan sosok sentral yang di puja. Seketika saat anda di pilih atau terpilih menjadi sosok penerus atau pengganti, di saat yang sama mengekor lah ribuan ekspektasi tinggi dari kumpulan massa yang di sebut suporter. Anda harus mempertahankan apa yang di miliki dari tim yang di pegang oleh pelatih terdahulu. Anda tak boleh mempunyai celah kesalahan yang bisa menyeret anda dalam kubangan hujatan atau cacian. Suporter sama sekali tak mempedulikan betapa keras nya usaha anda sebagai pengganti untuk menghadirkan sesuatu yang baru bila kegagalan harus di jalani terlebih dahulu. Penggemar ingin euforia instan dari sosok terdahulu yang di hadirkan dari sosok yang baru. Dan seperti dua sisi mata uang, ekspektasi tinggi bisa menjadi tambahan motivasi atau justru rentetan caci maki ketika supporter tak mendapatkan apa yang di ingini.

“ I don’t have expectations. Expectations in your life just lead to giant disappointments.”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top