KATA MEREKA INI RACUN

oleh

“bahkan sebagian dari mereka rela memasukkannya sebagai pengeluaran wajib bulanan”

Jadi kemarin saya ngeliat suatu di thread di salah satu forum terbesar di Indonesia, judulnya menarik “Perlu ga sih beli jersey original?” -pertanyaan yang sama dari saya, beberapa tahun silam-  dan bisa ditebak terjadi diskusi sehat yang lumayan panjang di thread tersebut. Kenapa saya katakan diskusi sehat ?? Si pembuat thread menjawab pertanyaan tadi dengan sebuah cerita dan analogi, tidak ada kalimat yang memaksakan atau memojokan pihak lain.  dan menyetujui SEMUA jawaban dari pertanyaan itu sembari menyisipkan 1-2 kalimat “pencucian otak”.

Karena biasanya, bahasan tentang jersey ori vs jersey kw melahirkan sebuah diskusi sengit yang ujung nya cenderung “ngotot-ngototan”. Si pemakai kw biasanya mengemukakan alasan yang masuk akal, bisa diterima, tapi tidak oleh mereka yang memakai jersey ori, atau sebaliknya, si pemakai jersey ori menyampaikan alasan kenapa memilih ori, masuk akal, bisa diterima, tapi tidak oleh mereka yang memakai jersey kw.

Lalu sebenernya apa jawaban dari pertanyaan  “Perlu ga sih beli jersey original?”

Sepakbola telah menjadi salah satu industri terbesar dewasa ini, atau mungkin yang paling besar, dan mereka yang suka akan sepakbola secara tidak sadar terlah terjebak dalam industri besar ini, licik ?? tidak , tentu saja. Kita disuguhkan oleh tontonan yang menghibur dari apa yang kita suka. Meluangkan waktu di malam hari (untuk kita di Indonesia) untuk menonton 22 orang pria di lapangan, jauh disana. dan rela melakukan itu demi menambah mahal hak siar TV yg menayangkan pertandingan itu.

Sepakbola adalah pabrikan terbaik dalam membuat sebuah produk, dan kita –sebagai penikmat produk itu- adalah konsumen paling setia yang pernah ada, sepakbola tidak pernah menawarkan diri, kita yang senang hati membeli dan mengkonsumsi semua produk yang dihasilkannya. Baik itu pertandingan, merchandise dan bahkan kita sangat menikmati semua berita tentang sepakbola, meskipun isinya hanya tentang kisah cinta para pelakunya, gosip, iya.

Mari mengerucutkan sepakbola secara umum, mari kita masuk ke divisi lain dalam produksi sepakbola, kita bahas klub sebagai divisi yang paling sering terlibat dalam industri ini. Sesuai dengan teori ekonomi mikro, perilaku fans/penggemar/supporter/pendukung –terserah kalian mau menyebutnya apa- terhadap komoditi pasar akan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan, dalam hal ini katakanlah hasil dari pencapaian klub tersebut, gelar ?? Mungkin saja. Manchester United (yang dulu) disana tidak akan mungkin bisa sebegitu kuatnya dan meraih banyak gelar, atau Real Madrid, sama saja. Secara tidak langsung kita membantu banyak dalam peraihannya, Uang yang kita keluarkan saat membeli tiket, atau kopi yang kita minum di cafe cafe yang menyediakan tempat nonbar, secara tidak langsung menambah keuangan klub pelaku sepakbola, entah itu pendapatan langsung dari tiket yang dijual, atau dari pendapatan hak siar TV yang menayangkan pertandingan di cafe yang kalian datangi tadi, cafe yang itu tadi.

Selain dari 22 orang yang menendang bola di lapangan, yang membedakan menonton bola dengan menonton opera adalah keseragaman atribut yang digunakan, banyak dari mereka yang menggunakan atribut sama, merchand yang berkaitan dengan klub itu, scarf, jersey, topi, tshirt, apapun, terserah. Dari apa yang mereka gunakan saat menonton itu, sangat mempengaruhi pendapatan dari klub tersebut, 2 kali lipat ?? Boleh jadi, atau mungkin lebih. dan jersey adalah bagian dari merchandise itu sendiri.

Naif memang kalo kita bilang dengan membeli jersey di store resmi (atau di distributor penjualan) kita membantu langsung pendapatan klub, terlalu jauh kalo kita bahas kesana, sebelum kita membeli jersey atau merchandise yang dikeluarkan oleh apparel pembuat, pihak klub sudah terlebih dahulu menerima uang, contoh saja Inter telah mendapat uang dari Nike dalam kontrak yang berjangka. Lalu apa untungnya kita membeli jersey ori sedangkan kw jauh lebih murah. Apa yang kita beli dari apparel mempengaruhi nilai kontrak kedepannya dan sampai kapan kontrak itu ditawarkan, yaa anggaplah ini sebuah investasi jangka panjang, untuk kita dan klub yang kita suka. Yaa secara tidak langsung, ada sedikit kontribusi dari tiap merchandise yang dibeli, sedikit memang tapi jika diakumulasi dari total penjualan ?? Saya rasa akan muncul angka yang sangat besar.

Jadi “Perlu ga sih beli jersey original?” itu tetap jadi jawaban yang ga akan pernah nemu kata mufakat pada satu jawaban di sebuah forum terbuka, sampai kapanpun akan tetap muncul jawaban “ya” dan “tidak”. Semua kembali lagi ke personal masing masing, kita yang memilih mau jadi konsumen yang seperti apa kita di industri sepakbola ini. Lagipula gak pernah ada dalam sejarahnya jersey/merchandise lain menjadi patokan atau tolak ukur besaran rasa cinta fans ke sebuah klub, iyaa ga akan pernah bisa menentukan tingkatan fans dari jersey. Tapi supporter ?? Mereka akan selalu senantiasa men-support semua yang bisa dilakuin untuk klub nya, meskipun itu dengan memperkaya klubnya dan harus membeli tiket pertandingan –bahkan sebagian dari mereka rela memasukkannya sebagai pengeluaran wajib bulanan- yang harganya lumayan, atau membeli merchand yang diakui oleh klub?? Bisa saja.

Memang tak serta merta jika klub sudah kaya, bisa dapet semua gelar (yang para fans/supporter harapkan) tapi setidaknya ada kemungkinan untuk itu, setidaknya uang yang berlebih bisa dialokasikan untuk membeli pemain bintang, membayar gajinya, atau paling tidak membuat sebuah tempat latihan yg lebih hebat, membangun akademi pemain muda. Apa saja.  

“Football without fans is nothing.”

Sepakbola ga akan pernah jadi sebesar ini tanpa kita, konsumen paling setia. Sepakbola ga akan pernah semenarik ini kalo kita ga melibatkan diri untuk ikut di dalam dunianya. Dan sepakbola akan terus seperti ini –atau mungkin lebih lagi- jika kita tetap bersedia menjadi konsumen yang loyal.  Seperti apa masa depan sepakbola tergantung kita, mau jadi fans atau supporter.

Di Eropa sana sudah mulai diberlakukan aturan Financial Fair Play bukan tak mungkin regulasi itu akan menyusul kesini, jika aturan itu sudah dibakukan, gak ada lagi Sugar Daddy seperti Massimo Moratti atau Roman Abramovich, Finansial klub sangat bergantung kepada sponsor,  hak siar TV, tiket pertandingan, penjualan merchandise, lalu siapa yang mempengaruhi nilai nilai tersebut?? 

 Mungkin ga akan ada klub di Indonesia yang menunggak gaji pemainnya kalo kita disini ga berusaha untuk memanjat benteng stadion untuk sekedar dapat nonton bola, mungkin para pemain bisa fokus bermain tanpa perlu memikirkan dapat gaji atau engga, kalo kita ga mencoba beli atribut klub di pinggiran jalan stadion.

Setelah mereka bisa fokus hanya bermain sepakbola, apa yang kita dapat ?? Prestasi ?? Boleh jadi.

….

Notes : Ditulis di Microsoft Word 2010 yang diinstall di Windows bajakan dalam PC Rakitan

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

  1. Btw,kok aku nangkepnya fans dan supporternya beda arti ya? Apa aki salah?

    Aku orang yang awalnya mikir asal suka aja udah cukup. Ada sebaris kalimat yang dilontarkan oleh seorang temen, yang notabene adalah fans Manchester merah, yang cukup buat saya didera resah : ICI itu fansclub official kan? Lo member fansclub official tapi make barang kawe. Poor your club !

    Dan semenjak itu hidup.saya pun berubah *halah malah curhat*

    Jadi sebenernya wajib gak menurut kakak? Ahahaha :))

  2. Absolutely NO …

    ga ada yang wajib dalam sepakbola, semua balik lagi ke pilihan kita ingin jadi apa, penikmat atau pendukung ??

    Kalo menurut aku sih ya, untuk sepakbola sebagai substansi, fans yaa sekedar suka aja. ga lebih, tapi kalo supporter , kaya definisi dari “support” ngedukung, apapun konsekuensinya.

    menurut aku sih …

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top