MILAN IS BLACK & BLUE

oleh

“Derby Milan dinihari itu sesungguhnya adalah perang taktik kedua pelatih meski akhirnya harus mengorbankan esensi dari keindahan sepakbola”

Ketika Walter Mazzari tetap menurunkan formasi 3 bek andalan nya di Derby Milano lalu, saya seketika berfikir bahwa mungkin sepanjang laga saya akan terus menerus di buat tegang sekaligus penasaran apa yang akan terjadi di laga akhir tahun itu. Terlebih lagi, Allegri menurunkan formasi pohon Natal yang sangat mungkin menjadi anti teori dari formasi Mazzari. Babak pertama resmi menjadi milik sang kakak dengan dominasi luar biasa yang mungkin bisa membuat Abbiati mengambil gadget lalu browsing ke google untuk melihat lagi kiprah terbuang nya di Atletico Madrid beberapa tahun silam sebelum 2014 nanti ia akan kembali ke Vicente Calderon sebagai lawan. AC Milan di babak pertama benar benar menunjukan betapa riskan nya pola main Inter dengan tiga bek sejajar. Trio Campagnaro – Rolando – Juan Jesus seolah kerepotan menghadapi serangan serangan Ac Milan yang untungnya hanya hobby mengancam tanpa bisa mengkonversikan nya menjadi gol.

Saya berandai andai apabila formasi dinamis pohon Natal milik Allegri di Derby Milan lalu di isi nama nama macam Seedorf, Shevchenko, Pirlo dan Kaka (yang dulu) mungkin skor kacamata tidak akan terjadi di akhir babak pertama. Mario Balotelli yang menjadi ujung tombak Milan malam itu dengan jago nya membuang banyak peluang yang ia dapatkan. Menyaksikan nya bersitegang, berkelahi atau memprotes wasit justru menjadi tontonan yang lebih menarik ketimbang melihatnya mendapat peluang dan gagal begitu saja. Saponara, yang sebelum derby kemarin hanya punya total jatah main untuk Milan tidak sampai 40 menit jelas menjadi salah satu kesalahan Allegri di partai itu. Saponara tidak siap untuk partai sekelas derby. Saya tadinya malah berpikir bahwa Nocerino lah yang akan masuk line up, namun sepertinya Allegri tidak terlalu suka dengan pemain berjenggot lebat ( anda tahu sekarang Pirlo dimana ).

Andrea Poli yang punya misi pribadi terhadap Inter juga tidak banyak membuat kontribusi selain saling tarik jersey dengan Cambiasso. Poli mungkin lupa meminta jersey Cambiasso ketika mereka dulu bersama sama di Appiano Gentile. Ricardo Izecson atau lebiih kita kenal sebagai Kaka, awalnya menjadi ketakutan terbesar saya sebagi Interisti sebelum derby berlangsung. Saya masih yakin apabila Kaka adalah pemain yang bisa menjadi pembeda di setiap partai besar yang di lakoni Ac Milan. Namun, ketakutan saya menemui kekecewaan besar karena Kaka tidak seperti Kaka yang dulu. Kaka 23 Desember 2013 waktu Indonesia tak ubahnya seperti pemain primavera yang mendapat durian runtuh untuk di bawa ke tim senior dan main di partai derby. Tak ada liukan liukan membelah pertahanan yang dulu sering ia tampilkan justru ketika lengan nya tidak di lingkari ban kapten. Jika di waktu lalu seorang Javier Zanetti harus membetulkan rambutnya setelah mengejar Kaka, maka di derby senin dinihari lalu Kaka yang harus membetulkan rambutnya setelah di kejar oleh seorang Jonathan.

Walter Mazzari melakukan tugasnya dengan baik ketika babak kedua berjalan. Inter main dengan cara yang jauh lebih elegan dan nikmat di tonton. Penguasaan bola berganti menjadi milik sang adik. Inter menggempur Milan secara konstan melalui permainan rapat dan garis pertahanan yang cukup tinggi. Agak beresiko memang ketika serangan Inter gagal lalu Milan melakukan serangan balik kilat, tapi Mazzari harus menerapkan pola itu bila ingin melewati Natal dengan kemenangan. Umpan umpan pendek yang di sertai pergerakan membuka ruang dari pemain yang tidak memegang bola menjadi pembeda Inter di babak kedua. Masuknya Kovacic juga menjadi kunci mengalirnya permainan Inter di babak kedua. Palacio tidak harus turun jauh untuk meminta bola karena Kovacic bisa memperpendek jarak wilayah pertahanan dan penyerangan melalui umpan dan dribble nya. Ac Milan di babak kedua praktis hanya berharap pemain Inter kehilangan bola lalu mengirim nya langsung ke wilayah depan melalui umpan panjang. Gelandang Ac Milan harus turun begitu dalam mengantisipasi invasi lini tengah Inter yang berani menguasai setengah lapangan permainan.

Derby Milan dinihari itu sesungguhnya adalah perang taktik kedua pelatih meski akhirnya harus mengorbankan esensi dari keindahan sepakbola. Ac Milan babak pertama ibarat seseorang yang bercinta dengan pohon, Ac Milan menggerayangi setiap lekuk namun Inter bertahan sekuat tenaga hingga akhirnya tak ada orgasme dari kubu merah hitam. Inter babak kedua ibarat narapidana yang bebas setelah dapat remisi Natal. Setelah hasrat nya tertahan di 45 menit pertama, Inter berani menyerang balik tanpa kenal ampun. Mendominasi setiap inci, melumat g-spot dengan intensitas yang sulit di lawan. Dan apabila sudah seperti itu, datangnya orgasme hanya soal waktu di menit keberapa. Tumit Palacio akhirnya menjadi pembeda tampilan papan skor.

Sontekan manis yang mungkin akan membuat seorang Filippo dengan angkuh nya mengirim pesan singkat ke Samuele dan Alice yang berisi “ kalian boleh mengejek ku sesuka kalian. Tapi ketahuilah, sesulit apapun periode yang kami pernah jalani di 2013 ini, INTER tidak kalah dari Ac Milan. Selamat mencoba di tahun depan.” 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top