NIKMATI SAJA

oleh
“Serie-A adalah gambaran kecil dari kehidupan manusia  itu sendiri. Penuh drama, penuh intrik, penuh emosi, atau bahkan suci sekaligus munafik yang tersembunyi di antara tarik dan buang nafas setiap hari”

Kamis 24 Oktober 2013 pagi waktu Indonesia, di media sosial twitter yang dimana saya terdaftar sebagai pengguna aktif, saya banyak sekali membaca dan melihat kicauan dari beberapa akun dan semua twit yang saya baca banyak yang berisi ejekan terhadap satu subjek tertentu. Ya, pagi itu Arturo Vidal mendadak menjadi hits dengan banyaknya twit yang memuat nama belakang dirinya. Deras nya twit yang memuat dirinya pagi itu di unggah banyak pengguna lain bukan karena hattrick, gol salto atau aksi solo run yang di buat nya dinihari beberapa jam sebelumnya, melainkan atas aksi diving nya yang boleh di katakan lucu atau bahkan memalukan. Klub tempat Vidal bermain semakin menambahkan hujatan yang mengarah kepada dirinya. Penggemar sepakbola di negeri ini seperti sudah mengenal luar dalam soal Juventus dan kontroversi yang senantiasa mengelilingi nya. Juventus ibarat planet bumi dan segala catatan kontroversi ibarat atmosfir. Tanpa atmosfir, entah sudah sehancur apa bumi ini dari serangan benda asing lain nya.

BXSdxF3CUAAm2Gz
Arturo Vidal Dive Vs Madrid
Credit Image to : Whotalking.com

Dari kacamata saya yang bukan Juventini, diving Vidal memang cukup wajar mendatangkan ejekan yang sedemikian derasnya. Bagi sebagian kalangan, diving adalah suatu tindakan hina yang hanya di lakukan oleh pengecut demi mendapatkan keuntungan pribadi maupun klub yang di bela nya. Tindakan diving seolah merobek robek bendera fairplay yang terlebih dahulu masuk lapangan ketimbang para pemain sebelum pertandingan di gelar. Namun, izinkan saya melihat dari kacamata yang berlensa lain dengan kebanyakan orang pada umum nya.Arturo Vidal melakukan aksi “menyelam” nya di atas permadani hijau Bernabeu di menit ke 62, yang berarti ia melakukan nya ketika ia secara sadar tahu bahwa tim nya sedang tertinggal 1-2 dari tim tuan rumah. Diving itu menjadi cara yang coba di tempuh Vidal untuk mendapatkan keuntungan bagi klub nya meski ternyata hasil dari cara nya itu akan menjadi  aib dalam karier sepakbola Vidal di masa datang. Diving yang Vidal lakukan bagi saya pribadi adalah murni dari sebuah keinginan untuk enggan kalah meski cara yang ia pilih salah. Vidal tahu bahwa apabila di partai itu klub yang di bela nya menelan kekalahan akan semakin memperkecil peluang untuk lolos ke fase knock out. Maka atas ketidakinginan untuk gagal dan merasakan lagi perih di atas luka yang belum sembuh karena kekalahan di Firenze, Vidal rela menjadi martir bagi klub nya dengan mengemis penalti atas diving yang kelak bisa di saksikan di Youtube dengan keyword “funniest diving ever in football history”.

Pagi saya berganti siang, linimasa di akun Twitter saya masih saja di sisipi oleh kicauan beberapa akun tentang insiden Vidal. Beberapa menjadikan nya lelucon, sebagian lain bahkan ada yang marah di ikuti ejekan untuk Juventus selaku tempat Vidal bermain. Saya pribadi lebih tertarik soal diving nya ketimbang pelakunya atau klub tempat si pelaku tersebut bermain. Terlalu malas saya membahas Juve dan wasit. Dalam perbendaharaan bahasa masa kini mungkin akan berbunyi, “ kayak baru tau Juve aja”. Di negara asal Juventus, diving sering di kenal dengan istilah “Furbizia” yang secara harafiah berarti “kecerdikan”; kemampuan cerdik para pemain professional untuk mendapatkan keinginan nya. Mina Rzouki yang salah satu pakar Serie-A menjelaskan bahwa Furbizia  bisa tervisualisasi dengan pura-pura jatuh dan bukan kecurangan. Yang di anggap kecurangan adalah pengaturan skor dan penyuapan wasit. (jangan tanya apakah Juve melakukan nya atau tidak, “kayak baru tau Juve aja”.)

Saya masih ingat betul penampilan Del Piero di musim terakhir nya bersama Nyonya Tua. Dalam satu partai di kandang Inter pada musim itu, Del Piero masuk sebagai pemain pengganti di menit 84. Tapi sejak menit ke 84 dimana Del Piero bermain hingga peluit akhir berbunyi, statistic mencatat bahwa Del Piero lah pemain yang justru paling sering di langgar di partai itu. Tentu jumlah yang banyak itu tak seluruhnya murni hasil pelanggaran pemain Inter. Yang sebenarnya Del Piero lakukan adalah membuang-buang waktu selama dan se efisien mungkin dengan mendapatkan tendangan bebas sesering mungkin saat tim nya kala itu unggul 2-1. Komentator televisi pada partai itu memuji habis apa yang Del Piero lakukan di menit ia bermain meskipun minim. “Keahlian” mendapatkan pelanggaran memuluskan kemenangan tim nya kala itu. Cerdik bukan? Itulah Serie-A. Dan saya selalu saja masih heran dengan Interisti, Milanisti atau fans tim Serie A lain nya yang tetap berpegang teguh untuk menghujat secara berlebihan diving yang di lakukan pemain dari klub Italia. Anda mencintai klub di Serie-A sana namun anda merendahkan atau menghujat “identitas” dari Liga Italia? Mari tersenyum kecil bersama saya. Atau bila ingin terbahak silahkan. Kelucuan terkadang hadir dari ketidaktahuan atau kelupaan akan hal yang sebetulnya jelas dan nyata.

italian_flag
Beauty Of Serie A
Credit Image to : mlssoccer.com

Menurut saya pribadi, ketika anda memutuskan untuk menjadi fans klub asal Italia, anda mau tidak mau harus mengenali dan belajar memahami atau bahkan mencintai (jika mampu) apa- apa saja yang menjadi identitas dari Liga Italia. Selama 90 menit dimana anda menonton tim Serie-A favorit anda, mulailah bersabar dan tidak cepat menggerutu ketika pertandingan berjalan lamban karena dua tim yang bertanding saling menunggu untuk berinisiatif melakukan serangan. Jiwa anda harus di siapkan agar tidak terguncang ketika ada kecurangan – kecurangan yang hanya bisa di ketahui lewat tayangan ulang. Sepakbola di Liga Italia bergerak dengan alur yang lambat, dengan determinasi yang nyaris konstan dan terlihat tanpa gairah. Namun dengan fondasi mengakar seperti itulah generasi masa kini mengenal pola catenaccio, karena bila di telaah lebih dalam, Catenaccio adalah pertunjukan kesabaran tingkat tinggi yang di balut dengan sistem pertahanan kokoh . Bila anda pikir sekedar bertahan itu mudah, maka Catenaccio jauh lebih kompleks dari hal itu.

catenaccio
catenaccio
Credit Image to : calcioetattica.it

Ketika Catenaccio di praktekan, anda tidak hanya sekedar bertahan. Anda di wajibkan untuk tetap fokus dan sigap mengamati setiap hal yang lawan anda lakukan sambil berharap lawan membuat kesalahan yang bisa anda hukum dengan serangan balik nan cepat yang langsung berbuah gol. Ketika Italia menjuarai Piala Dunia 1982 lalu, Enzo Bearzot yang menjadi pelatih kala itu pernah mengucapkan kalimat legendaris yang berbunyi, “ Tim yang menang bukanlah tim yang paling banyak menguasai bola atau membuat peluang, bukan pula tim yang mampu menghadirkan serangan-serangan yang membuat takut lawan. Tim yang akan keluar sebagai pemenang adalah tim yang paling sedikit membuat kesalahan”.  Maka tak heran ketika Inter 2010 lalu mampu mendapatkan treble yang selama ini masih jadi impian tim Italia lainya, karena arsitek Inter kala itu adalah sosok yang gila menganalisa segala hal dalam diri Jose Mourinho. Sosok Mou yang nyaris perfeksionis dan tak bernegosiasi dengan kesalahan kecil dalam bentuk apapun. Anda ingat soal cerita di kamar ganti Inter kala menjamu Rubin Kazan dimana Mou saat itu menghabiskan 10 dari 15 menit waktu istirahat hanya untuk menasehati Balotelli? Dari kejadian itu kita bisa melihat betapa tidak sukanya Jose Mourinho akan adanya kesalahan di dalam tim nya. Mou paham betul akan identitas yang mendasar di Liga Italia dan ia mengaplikasikan nya dengan sangat baik. Tak heran masih banyak jutaan penggemar Serie-A merindukan nya. Hei Interisti, saya sedang membicarakan kalian.

Selain soal taktik yang rumit dan perlu waktu berjam-jam untuk di dedah secara lebih detail, apa yang menjadi bahasan di awal tulisan ini juga salah satu hal yang erat kaitan nya dengan Serie-A.  Di Italia, ada penjelasan yang jelas kapan dan di momen seperti apa diving layak di lakukan beserta dengan pemain yang memang di tugaskan melakukan aksi teatrikal tersebut, tentunya harus di lakukan dengan sangat meyakinkan. Saya jadi teringat bagaimana seorang Luiz Suarez di musuhi bersama oleh masyarakat Inggris karena di anggap sering melakukan diving. Di budaya sepakbola Inggris yang di jejali sifat sok patriotik jantan nan pantang menyerah dari pelaku nya, diving tak ubahnya seperti cara pengecut mendapatkan tujuan nya. Masyarakat sepakbola Inggris terobsesi akan permainan sepakbola tanpa drama, sepakbola yang jujur padahal pemain asli Inggris yang di puja pun tak serta merta pantas di jadikan ikon sepakbola jujur. Berbeda dengan di Inggris, di Italia diving di pandang sebagai sebuah karya seni yang agung. Diving di Serie-A adalah hasil dari para seniman-seniman lapangan hijau yang selalu menarik untuk di nanti dan layak di apresiasi dengan pujian. Coba sempatkan waktu anda untuk melihat lagi bagaimana pemain sekaliber Totti terjatuh di sebuah partai. Lembut, elegan dan terlihat betul bagaimana tubuh nya mampu menerjemahkan dengan baik apa yang di perintahkan isi kepala. Tak heran diving begitu melekat dengan Serie-A. Diving adalah DNA Serie-A.

Suka atau tidak, nikmati saja. Tahan dulu hasrat anda untuk mencaci secara membabi buta. Biarkan imajinasi anda di buat liar dengan segala pertunjukan yang terhampar di Serie-A. Defense kuat sepanjang laga, sikutan terselubung dalam duel udara, provokasi kejam di antara pemain ketika bersiap menyambut sepak pojok, aksi menjatuhkan badan dalam duel yang kadang hanya mirip sebuah colekan… Ahh. Serie-A masih yang paling menarik di ikuti. Bagi saya pribadi, Serie-A adalah gambaran kecil dari kehidupan manusia  itu sendiri. Penuh drama, penuh intrik, penuh emosi, atau bahkan suci sekaligus munafik yang tersembunyi di antara tarik dan buang nafas setiap hari.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top