Nasionalisme dan Indra Sjafri

oleh

Entah kenapa, saya adalah salah satu orang yang sejak dulu agak anti mendengar sebuah kata berbunyi “nasionalisme”. Nasionalisme bagi saya pribadi, saya masukan dalam daftar kata yang bersifat absurd. Secara etimologi, Nasionalisme yang berasal dari kata “nasional” dan “isme” adalah suatu paham kebangsaan yang mempunyai makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara, persatuan dan kesatuan. Anda mampu langsung menghapal nya setelah membaca satu kali? Saya membaca sudah berkali kali dan tak kunjung hapal. Lebih tepatnya, saya memang tak ingin hanya menghapal teori.

Dewasa ini, Nasionalisme seringkali kita baca atau kita dengar terlebih lagi beberapa minggu terakhir Timnas Indonesia sering bertanding di dalam negeri. Timnas U19 bahkan mampu menjuarai Turnamen AFF Cup 2013 yang di gelar di Sidoarjo Jawa Timur. Prestasi itu seolah menjadi oase di padang gurun atas kekecewaan yang teraku mulasi dari kegagalan kegagalan sebelumnya. Euforia tampak di mana mana. Dari anak kecil, kaum muda hingga kalangan tua tak lagi malu untuk keluar rumah menggunakan kostum Timnas Indonesia. Letupan fanantisme akan Timnas Indonesia makin meninggi ketika selang beberapa hari kemudian Timnas Indonesia U19 mampu lolos ke Piala Asia U19 2014 di Myanmar setelah menjuarai grup serta mempermalukan juara bertahan yaitu Korea Selatan.

Puja puji di lontarkan untuk penampilan sensasional para punggawa Gardua Muda. Kata nasionalisme kembali menjadi hits seiring meninggi nya animo masyarakat mendukung dan menonton langsung Timnas U19 yang berlaga. Bagi sebagian orang, nasionalisme adalah mendukung sepenuh hati dan menonton langsung penampilan Timnas di stadion. Semudah itukah label sakral Nasionalisme melekat pada diri seseorang? Bila iya, berarti label Nasionalisme sudah melekat di diri saya sejak Sabtu 18 Oktober 1997 ketika Indonesia takluk dari Thailand di partai final Sea Games 1997.

Beberapa hari ini saya sekuat tenaga berusaha tidak ikut larut secara lebay dalam euforia Timnas Indonesia U19. Lalu semua keteguhan dan pertahanan saya akhirnya jebol setelah saya mencermati dan mengenal lebih dekat sosok arsitek Timnas Indonesia U19 yaitu Indra Sjafri. Ia di kabarkan rela terjun langsung ke pelosok nusantara demi mencari pemain muda berkualitas yang ia butuhkan untuk Tim Nasional. Saya tak perlu sebutkan seluas apa negara tercinta kita ini, yang jelas, apa yang Indra Sjafri lakukan sangatlah tidak mudah. Di butuhkan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan yang ia butuhkan dan di kemudian hari ternyata yang ia cari dan ia butuhkan mampu memuaskan harapan seluruh rakyat Indonesia. Indra Sjafri seolah melawan semua pola dan sistem pemilihan pemain yang di pakai oleh pelatih pelatih terdahulu yang di ketahui bersama hanya berbuah kegagalan dan kekecewaan. Ketika pemilihan pemain biasanya hanya di ambil dari tim muda atau SSB di daerah yang selama ini justru lebih sering gagal, Indra Sjafri lebih memilih melakukan seleksi yang ia saksikan langsung di desa desa terpencil.

Indra Sjafri seolah paham betul fakta jika tidak semua bakat muda yang berkualitas punya kemampuan secara financial untuk masuk ke SSB yang memungut iuran dari para anak didiknya. Buat saya pribadi, apa yang mendasari dari semua yang di lakukan oleh Indra Sjafri adalah karena rasa cinta kepada tanah air nya yang begitu besar. Rasa cinta yang tak rela negara ini selalu bertemu dinding besar bernama kegagalan. Indra Sjafri muak dengan ocehan orang yang bilang bila Timnas Indonesia sulit berprestasi di pentas Asia dan dunia. Indra Sjafri seolah tak sudi bila namanya tercatat dalam daftar pelatih Timnas Indonesia yang gagal.

Maka dengan segala tekad dan niat untuk membangunkan raksasa yang tertidur telalu panjang ini, Indra Sjafri rela mendobrak sistem yang ada dengan sistem yang ia yakini dan terbukti ampuh untuk menghadirkan prestasi yang selama ini di rindukan. Bila Nasionalisme memiliki tingakatan, maka saya menempatkan Indra Sjafri sebagai orang dengan Nasionalisme teratas. Apa yang di tunjukan oleh Indra Sjafri dengan cara yang ia tempuh membuat saya berpikir dua kali sebelum saya melabeli diri saya dengan kata sakral Nasionalisme. Semua besarnya nominal uang yang saya keluarkan untuk puluhan partai Indonesia yang sudah saya tonton langsung masih terlihat minim bila di bandingkan dengan pengorbanan seorang Indra Sjafri.

Pada akhirnya saya hanya akan mengucapkan terima kasih banyak untuk tindakan menginspirasi dari Indra Sjafri.

Teruslah berinovasi, teruslah mencari, dan buktikan bangsa ini mampu berprestasi. Entah kenapa, saya adalah salah satu orang yang sejak dulu agak anti mendengar sebuah kata berbunyi “nasionalisme”. Nasionalisme bagi saya pribadi, saya masukan dalam daftar kata yang bersifat absurd. Secara etimologi, Nasionalisme yang berasal dari kata “nasional” dan “isme” adalah suatu paham kebangsaan yang mempunyai makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara, persatuan dan kesatuan. Anda mampu langsung menghapal nya setelah membaca satu kali? Saya membaca sudah berkali kali dan tak kunjung hapal. Lebih tepatnya, saya memang tak ingin hanya menghapal teori.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top