Demi Sepakbola, Aku Bersumpah!

oleh

Sepakbola, olahraga paling populer dunia-akhirat, tak perlu dibantah, ini kenyatannya. Lalu apa yang menarik dari sepakbola? Bola kecil ditendang kesana-kemari, padahal berapa harga sebuah bola kecil, bagikan saja masing-masing satu bola ke-22 manusia keji yang dengan egoisnya menendang bola. Mereka tak perlu lagi berlari, tendang, kotor-kotoran dan berkeringat, sederhana. Tapi sepakbola lebih daripada itu semua, sepakbola tak hanya bola kecil yang diperebutkan 22 pemain bahkan para pendukung pun tak tanggung-tanggung untuk saling membunuh demi sepakbola. Ada beberapa sebagian orang yang menganggap sepakbola adalah agama. Coba tengok ke Italia, Amerika Latin, Afrika atau Indonesia. Italia terkenal dengan ultrasnya yang anarkis. Bagi ultras-ultras klub sepakbola di Italia, sepakbola layaknya agama dan pemain adalah nabinya, sangat sakral. Ultras Lazio dan AS Roma yang tak akan pernah bisa bersatu atau ultras Inter Milan dan AC Milan yang sama-sama mengklaim bahwa merekalah penguasa kota. Kita tak perlu jauh-jauh ke Italia demi menjadi seorang ultras atau ingin merasakan bahwa atmosfir sepakbola adalah atmosfir terbaik di dunia. Cukup di Indonesia saja kita sudah bisa merasakannya.

Lihatlah bagaimana atraktifnya Brigata Curva Sud (BCS) PSS Sleman dalam mementaskan berbagai senandung gaib dan tarian ajaib di sisi selatan Stadion Maguwuharjo. The Jak – Viking yang sampai kiamat pun tak akan pernah menjadi satu atau loyalitas Aremania yang tak akan pernah bisa ditiru oleh pendukung klub manapun di dunia. Ini Indonesia Bung!

Adalah unik dan menarik jika kita menyempatkan waktu untuk menelaah sepakbola dalam negeri. Saya bukanlah ahli sejarah sepakbola Indonesia atau saya bukanlah ultras Persipura Jayapura (kebetulan saya domisili di Jayapura). Namun saya berani menyebut bahwa sepakbola Indonesia adalah sepakbola terbaik di dunia; kultur suporter, politik dan uang. Sepakbola memang tak akan pernah lepas dari segala hingar-bingar politik ataupun kepentingan organisasi atau individual semata demi menaikan rating dihadapan publik. Ini bukanlah masalah yang bisa menghancurkan sebuah negara, ini masalah kecil yang seolah-olah dibesar-besarkan untuk menutupi masalah besar yang lain. Fungsi sepakbola yang diharapkan bisa menjadi alat pemersatu bangsa rupanya belum efektif. Masih banyak negara-negara lain yang bergejolak hanya karena urusan sepakbola.

Saya teringat tulisan orang yang bagi saya sudah senior dalam urusan sepakbola dalam negeri maupun luar negeri, Aqwam Fiazmi Hanifan (@aqfiazfan) dalam tulisannya yang membahas tentang kultur suporter yang terbilang fanatik di Mesir. Dia mencoba meng-korelasi-kan antara ultras sepakbola Mesir dengan kudeta presiden di Mesir belum lama ini. Bahwa mayoritas “sayap kiri” pemerintahan Mesir berasal dari ultras-ultras klub sepakbola di Mesir dan sebagian besar dari massa yang turun ke jalan menuntut Muhammad Musir untuk segera turun dari jabatan sebagai presiden adalah ultras-ultras klub Mesir tersebut. Sebetulnya ini tak hanya terjadi di Mesir, masih banyak negara-negara lain yang mengklaim bahwa ultras sepakbola adalah musuh utama negara. Kita tak bisa sejajarkan kasus Mesir dengan kasus sepakbola-politik di Indonesia, seperti yang kita ketahui bahwa nyaris mayoritas dari kelompok suporter di Indonesia memiliki backup yang tak lain dan tak bukan adalah partai politik. Memang masih ada juga kelompok suporter yang mengaku anti-politik tapi apakah itu hanya sebagai kedok belaka demi menutupi eksistensi kelompok suporter tersebut?

Tak sedikit partai politik yang menggunakan kelompok suporter sepakbola ataupun sepakbolanya secara langsung, mengingat popularitas sepakbola yang begitu mem-booming dan bisa menjadi basis suara untuk memenangkan pemilihan umum. Seperti kita ketahui bahwa nyaris semua manusia di bumi ini menyukai sepakbola; baik secara langsung maupun tidak langsung. Sepakbola tak memandang status sosial, latar belakang pendidikan, gender maupun umur, sepakbola hanya mengerti loyalitas, dedikasi dan apresiasi. Lihatlah Tony Adams, Paolo Maldini, Ryan Giggs, Franco Baresi dan masih banyak lagi yang menghabiskan karir sepakbolanya di satu tim saja, begitu besar loyalitas dan dedikasi mereka bagi tim yang dibelanya dan yang berkesan adalah apresiasi dari tim yang dibela oleh pemain yang biasa disebut one man, one club. Contohnya nomor punggung 3 dan 6 yang dipensiukan oleh AC Milan demi menghargai jasa Franco Baresi dan Paolo Maldini.

Diatas adalah contoh kecil dari fenomena Mahadahsyat-nya sepakbola. Kita, khususnya Indonesia yang mengaku cinta sepakbola seharusnya meniru dan mengambil sisi positif dari sepakbola beserta kelompok suporter negara lain. Demi kemajuan sepakbola bangsa Indonesia sendiri, tak ada salahnya jika kita bersama-sama bergandeng tangan, hilangkan gengsi demi kemajuan sepakbola nasional. Rivalitas wajar saja, asalkan selesai dalam waktu 90′ menit saja.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top